Juni 16, 2013

MENGENAL KEBUTUHAN JIWA



Guru Sri Hasta Dhala 

Om Swastyastu

Melalui ucapan mantram suci Om Swastyastu kita mulai, mengenal, merasakan getaran suci yang membahagiakan. Mantram suci Om swastyastu selalu diucapkan bagi umat Hindu sebagai salam pertemuan, salam perjumpaan, pemberi tanda kehadiran bila seseorang berkunjung ke rumah teman, tetangga dan lain sebagainya, agar pertemuan dengan teman atau tetangga yang dikunjungi memperoleh kebahagiaan yang sama. Kata Om dimaknai sebagai simbol Tuhan, dengan kuasa-Nya yang mengalir memenuhi seluruh harapan bagi umat manusia. Berkenaan dengan itu mengucapkan kata Om, adalah wujud kesadaran suci yang patut dibiasakan untuk memperoleh perlindungan-Nya  agar selamat dan damai dalam setiap langkah perjalanan hidup.  Hal ini berarti apabila kita selalu ingat memuliakan, akibatnya perasaan kita terasa semakin dekat kepada-Nya. Perasaan “dekat” itu mengarahkan seluruh unsur jiwa tertuju pada “kebenaran”, itulah “kebutuhan jiwa”. Kekuatannya dapat dirasakan sebagai pengatur sekaligus pengendali pikiran, perkataan dan perbuatan agar sampai pada tujuan hidup yang sesungguhnya. Untuk mencapai tujuan itu, sesungguhnya adalah membebaskan jiwa dari belengguan hawa nafsu, yang setiap saat lihai dengan tipuan halusnya membelokkan, mengaburkan, menutup jalan terang agar manusia terjerumus masuk perangkapnya.

Ciri-ciri yang biasa ditawarkan nafsu adalah yang menyenangkan dan menggaerahkan, oleh karena itu sulit sekali mengenal sistem kerjanya. Namun ciri-cirinya dapat dikenal, bila panca indria dan pikiran tunduk pada kesenangan dan yang menggaerahkan, dengan sendirinya energi tubuh manusia larut di dalamnya. Kemudian secara perlahan energi itu habis untuk melayani kesenangan dan yang menggaerahkan itu. Ketika itu manusia telah berada dalam genggaman   perangkapnya, yang berkuasa adalah “nafsu dan ego”. Walaupun demikian sifat kebenaran tidak akan pernah sirna, karena kebenaran itu adalah hakekat penciptaan yang terkadang juga muncul lewat penyesalan-penyesalan.    
Tetapi apabila benih-benih kebenaran itu kembali dikuasai oleh nafsu dan ego, maka ia terdesak tanpa energy, bagaikan sinar matahari ditutupi kabut, dia ada tetapi tidak mampu menerangi dunia. Dalam kondisi seperti ini manusia berada dalam kebingungan yang amat menghawatirkan, ia tidak pernah mengerti bagaimana cara memperbaiki diri, ia hanya puas saat nafsunya terpenuhi. Kepuasan hawa nafsu amatlah singkat, bagaikan api disirami minyak dan ketika minyaknya habis dia akan redup kembali  Ketika hawa nafsu telah menguasai diri, pikiran, dan panca idria dibutakan olehnya, sehingga kebenaran, rasa malu, kasih sayang, toleransi, kebijaksanaan dan kesucian tidak lagi bersahabat dalam dirinya. Ketika sahabat-sahabat baik jiwanya tertinggal, yang ada hanyalah keinginan untuk memenuhi hawa nafsu yang semakin serakah, maka jadilah manusia budak hawa nafsu. Budak-budak ini bekerja membabi buta, tidak mengenal hak orang lain yang penting bisa menguasai dan memenuhi hawa hafsunya.  Orang-orang seperti inilah yang lebih banyak menghuni bumi kita dewasa ini, akibatnya benturan dan perang terjadi dimana-mana.

Orang-orang yang terperangkap hawa nafsu adalah orang-orang yang berwatak raksasa, yang dijauhi oleh pengetahuan kebenaran, itulah “wujud penderitaan”. Agar manusia tidak dijauhi pengetahuan kebenaran dan bebas dari penderitaan inilah para suci talah menggariskan ajaran-Nya yang patut dilaksanakan dengan sungguh dan yakin terhadap kebesaran-Nya. Pendidikan dan latihan ke arah itu telah digariskan, patut diupayakan bersama dalam Jaman Kali Yoga ini, agar tumbuh jiwa-jiwa penuh keyakinan dan sungguh-sungguh terhadap kebesaran-Nya. Ketika hal itu telah tertanam kuat dalam diri, itulah pilar-pilar jati diri manusia yang mampu merasakan kehadiran dan dekat dengan sumber-Nya. Kerinduan untuk dekat dengan-Nya adalah “kebutuhan jiwa” yang “amat membahagiakan, bagaikan anak merindukan ibunya dan bertemu dalam dekapan kasih sayangnya”. Dengan demikian manusia adalah badan, roh dan jiwa yang tercipta sebagai mahluk yang paling sempurna, diberkati ajaran untuk mengenal ibu dan bapaknya yang sejati. Berkat ”keutamaan” ini tiada duanya diantara semua mahluk ciptaan-Nya, oleh karena itu memperjuangkan “nilai-nilai keutamaan” adalah “kewajiban”.  Ketika kesadaran terhadap nilai-nilai keutamaan menjadi tujuan dan diperjuangkan bersama-sama, maka nilai-nilai itu akan semakin besar berkumandang mempengaruhi mahluk lainnya hidup berdampingan dalam suasana damai. Kenyataan yang terjadi saat ini terjadi sebaliknya, itu berarti manusia telah mengikuti jalan nafsu yang membawa dirinya pada jalan neraka, yang membiarkan “suara hati” diam seribu bahasa terpenjara oleh gemerlapnya suasana material, gaya hidup konsumtif yang menjadi kebanggaan dan tujuan hidupnya.      

Menyadari hal itu betapa pentingnya pengetahuan suci yang telah dialirkan oleh Tuhan kepada Guru Suci maupun Para Resi dan diajarkan kepada kita semua.   Mendengar dan membaca kisah-kisah para suci dalam upaya memperoleh berkat pengetahuan kebenaran-Nya, sebagian besar melalui perjalanan panjang dan berliku, pengorbanan dalam bentuk berbagai kesenangan dan kenikmatan, berubah menjadi energi suci untuk mengabdi pada kesejahtraan umat manusia, alam dan lingkungannya. Orang-orang suci yang membawa misi kebenaran tidak lahir setiap saat, namun lahir berdasarkan kuasa jaman-Nya, dengan demikian amatlah berbahagia hidup ini bila lahir bersama-Nya dan mendapat tuntunan-Nya. Tidak semua orang dapat merasakan dan memahami hal ini, walaupun kelahiran-Nya ada dalam lingkungan keluarga sekitarnya atau keluarga dekatnya, bahkan sering dicemoh, dihina,   disingkirkan bahkan ditekan dengan isu-isu dan kekuatan politik suryak siu. Karena prilakunya dianggap berbeda dari kebiasaan yang dianut masyarakat sekitarnya.  Kenyataan ini terjadi dalam masyarakat yang menganggap “tradisi sebagai kebenaran”, yang sesungguhnya tradisi tercipta dari pengetahuan yang terjadi pada jamanya untuk mencapai kebahagiaan yang disebut sebagai tradisi adiluhung. Ketika tradisi yang dianut tidak relevan dalam upaya mengantarkan manusia ke jalan damai dan bahagia, sudah saatnya ditinggalkan, karena berakibat memperpanjang kemiskinan. Patut disadari jaman yang berbeda menetukan tradisinya masing-masing dalam ruang waktu dan karakter masyarakat pendukungnya. Dengan demikian hati-hatilah dengan tradisi yang membutakan yang selalu mengungkung kreativitas umat manusia. “Taat nak mule keto” hanyalah menciptakan masyarakat menjadi panatisme konyol yang membawanya pada jurang kemiskinan. Mereka sering mengeluh dengan tradisi yang mengikatnya, tetapi tidak mau keluar atau tidak bisa keluar karena tidak mau mencari jalan keluarnya. Dalam keterpasungan tradisi ini mereka menonton hartakarun disekitanya dikeruk dan dikuasai oleh orang lain. Karena tidak memiliki kecerdasan pengetahuan dan lahirlah reaksi dalam bentuk budaya premanisme yang amat semarak dengan kedok menjaga wilayah (Ibu Pertiwi) yang justru menambah ribetnya suasana. Dan tidak lagi mau melatih berpikir “ngudiang keto” artinya mengapa begitu. Cara berpikir seperti ini patut dibangun agar membawa umat pada ruang kecerdasan, agar mampu melihat berbagai peluang dan bisa  menciptakan lapangan kerja yang disebut tradisi berpengetahuan. Tradisi seperti ini sering mendapat jawaban yang membuntukan nalar yang terjadi dan ditaati bagi orang-orang yang tidak sadar perubahan dan kemajuan dalam kompetisi ilmu pengetahuan. Ia kagum dengan romantisme masa lalu, sedangkan hidupnya pada masa kini dengan berbagai tuntutannya dan berjuang untuk menghadapi hari esok dan seterusnya. Dengan demikian kebutuhan jiwa akan dapat dikenal dan dicapai melalui pengetahuan, tentang kehidupan bersama di bumi ini.     

Agar mampu menjawab keluasan pengetahuan tentang kehidupan, maka tradisi yang patut dibangun dan dikembangkan adalah “tradisi belajar” bukan hanya “belajar tradisi”. Belajar tradisi amatlah penting, agar mampu menyimak nilai-nilai unggul masa lalu untuk digunakan masa kini, dengan demikian serapan nilai-nilai pondamental yang paling utama dan dikemas dengan suasana masa kini. Kemasan inilah proses kreatif yang menentukan budaya jamannya. Proses kreatif tidak bisa tumbuh dan berkembang      yang bertentu timbul pertanyaan apakah kewajiban yang telah kita persembahkan kepada Guru yang mengajarkan dan upaya merubah prilaku sesuai ajaran, atau juga ikut bersama-sama mengibarkan panji-panji kebenaran ?. Sebagai wujud bhakti kepada Maha Guru Suci yang turun dan menurunkan ajaran, tentu telah mengajarkan sadana-sadana yang patut dilakukan, dan hal itu juga telah tertulis dalam kitab suci. Salah satu kewajiban utama adalah ikut bersama-sama melayani kebutuhan jasmani-Nya, agar pengetahuan yang dialirkan berenergi suci dan mampu menghapus kegelapan.  Kewajiban utama lainnya adalah berwujud ritual atau sadana suci sebagai proses pelatihan untuk mencapai pemantapan keyakinan, ada pula yang berwujud karma baik dan benar, misalnya memelihara air dengan tidak membuang sampah, mengotori dengan zat kimia berbahaya, membiarkan ikan-ikan berkembang biak dengan damai, bukan diracun dan disetrum listrik yang menghabiskan semua habitatnya,  memelihara hutan dan alam lingkungan bukan hanya dengan ritual yang menghabiskan dana miliaran rupiah. Tetapi dengan kesadaran dan prilaku, yang diperkuat oleh hukum yang tegas. Hal itu mesti dimulai dari para penguasa, yang menentukan keputusan kerjasama dengan para pengusaha dengan peralatan super canggih yang membuat hutan dalam sekejap menjadi gundul dan hasilnya entah kemana. Sudah semestinya penertiban itu dimulai dari kekuatan besar, bukankah disitu bergabung kekuatan penguasa, politik, ilmuwan, teknologi dan lain sebagainya,   bukan hanya menertibkan yang kecil sebagai sebagai simbol keberhasilan. Mampukah kita menghadapi kekuatan raksasa seperti itu ?, inilah perjuangan pemerintah bersama rakyat untuk menghadirkan Sutasoma dalam jiwa masing-masing agar  mampu menetralisir kekuatan raksa menjadi pengabdi dharma sejati. Ketika perjuangan itu dilakukan terus menerus selama enam bulan,  yang diperingati sebagai hari Raya Galungan dan Kuningan semestinya lapisan dharma semakin kuat dalam diri. Kenyataan yang terjadi erosi karakter moralitas manusia semakin hari kian terpuruk. Apa yang telah kita lakukan selama enam bulan untuk memenangkan dharma yang patut dirayakan dengan hari Raya Galungan dan Kuningan ?. Pertanyaan ini patut direnungi bersama, cari akar permasalahan, lakukan kewajiban dengan penuh keyakinan yang memenangkan dharma.    Bukan hanya sibuk mewujudkan berbagai kegiatan ritual dan seni budaya, tetapi berupaya sekuat tenaga merealisasikan dharma yang berpengetahuan dalam kehidupan nyata. 

Dharma adalah Realitas Kebenaran yang Bervibrasi

Ketika dharma diperjuangkan dengan gigih, nilainya akan menjadi realitas yang bervibrasi bagi orang yang melakukan dan berimbas pada lingkungannya. Dharma dapat dilaksanakan bila  telah terbentuk dasar-dasar kebenaran, keyakinan, keikhlasan dan keberanian menghadapi tantangan. Ketika dasar-dasar tadi telah tumbuh dan menyatu dalam jiwa, ia akan berani menghadapi tantangan.   

Tantangan itu adalah masalah eksternal yang menyelimuti masalah internal yang menjadi tujuan inti dari perjuangan. Keduanya tidak dapat dipisahkan bagaikan racun yang ada dalam makanan. Oleh karena itu harus mampu mengenali jenis dan sifat makanan itu, dan seberapa besar cocok dengan tubuh kita agar menjadi energy yang menyehatkan, demikian pula masalah yang dihadapi. Masalah juga dapat diartikan sebagai lapisan-lapisan kegelapan yang menghadang manusia untuk dilewati, karena itu masalah adalah tangga kewajiban. Ketika manusia sadar pada kewajibannya, maka masalah akan menjadi teman sejati yang membawanya pada puncak tangga keemasannya. Setiap orang memiliki potensi dan selalu ingin mencapai puncak tangga itu, namun banyak yang kekurangan energy dan pengetahuan untuk mencapainya itulah “realitas kerja hukum karma”. Realitas ini sering disebut “nasib”. Dalam hal ini manusia sudah berada pada alur dan ruang geraknya masing-masing. Dalam ruang inilah manusia berinteraksi, berproses dalam upaya mematangkan diri agar berbuah menjadi “wujud pengabdian” yang tulus. Apabila terjadi sebaliknya, manusia  ditelan oleh “Sang Waktu”, redup tanpa aura itulah kemampuan, yang sering disebut “kekalahan”. Dalam kesadaran rohani seperti ini “kekalahan” mesti dilihat sebagai proses bukan hasil akhir, bukankah proses juga hasil walaupun belum tuntas atau harapan yang ditentukan oleh batas pikiran yang juga amat terbatas. Bila kesalahan cara memaknai ini orang akan mengalami kebimbangnan, seolah-olah energy tidak mengalir lagi. Energy itu sesungguhnya tidak pernah berhenti, karena itu adalah sifat alaminya. Apabila wadah energy ini rusak maka energy itupun pasti akan meninggalkan wadahnya. Wadah itu lebih bersifat material, oleh karena itu ia akan rusak sesuai dengan hukum Sang waktu.

Realitas Dibalik Dharma    

Ketika keyakinan terhadap kebenaran tujuan itu diragukan, itu artinya selimut gelap  mulai menutupi kebenaran. Akibatnya perjuangan akan menjadi ragu dan akan kehabisan waktu dan energi untuk jalan di tempat, dengan demikian sulit mencapai hasil yang baik. Dalam kondisi ini manusia akan dilewati atau dimakan oleh “Sang Waktu” atau “Bhuta Kala” tanpa makna. Untuk mengatasi hal itu sering diwujudkan dengan ritual, sebagai symbol penyadaran. Namun yang lebih penting adalah membongkar makna yang terselubung di dalamnya agar berjalan sesuai dengan simbol itu. Simbol dalam hal ini adalah sekumpulan makna yang selalu mengingatkan dalam bahasa Bali disebut “piteket”, yang menyadarkan manusia bila posisi perjuangan hidupnya telah sampai pada ruang makna itu sendiri. Oleh karena itu memaknai simbol lebih penting dari pada mengagungkan atau membesar-besarkan simbol, yang sering berkembang menjadi produk budaya.     

Oleh karena itu dasar-dasar kebenaran yang terarah pada kebenaran sejati patut dimantapkan dalam diri, agar tumbuh keyakinan dan jiwa pengabdi yang tulus. Walaupun untuk mencapai hal itu bukanlah persoalan mudah menurut ukuran manusia, tetapi banyak manusia mampu mencapainya. Mengapa orang bisa mencapainya pertanyaan ke arah itulah pikiran, pancaindra, kecerdasan patut diarahkan, sehingga energy siap mendukungnya.  Apabila upaya ini diarahkan pada sumbernya yang sejati dan selalu mohon berkat-Nya, hal itu bisa berjalan dengan mudah dan lancar. Keyakinan ini mesti secara serempak patut dibangun dalam jaman Kaliyoga ini agar kekuatan pikiran yang amat terbatas itu, tunduk pada kekuatan dan kuasa suci Tuhan. Hal yang dianggap sulit bagi manusia seketika menjadi mudah, akibat Kemahakuasaannya.  Ketika itulah keyakinan akan tumbuh dengan sendirinya, yang mengarahkan prilaku pada jalan kebenaran. Ketika sifat-sifat itu dibiasakan tumbuh dan berkembang dalam diri dan disirami kasih Illahi secara teratur dengan cara memuliakan-Nya setiap saat, mengakibatkan jiwa dan kesadarannya semakin halus. Akibatnya seluruh panca indra dan pikiran akan mudah dikendalikan dalam perjuangan untuk mencapai dharma yang sesungguhnya. Ketika itu segala bentuk teori lebur dalam realitas yang dirasakan kebenarannya, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Wujudnya adalah reaksi yang melihat secara jelas dan jernih masa depannya. Ketika hal itu telah terjadi maka tindakannya akan selalu mengabdi pada Sag Diri (atman), melalui sifat inilah orang akan memahami “kehadiran Tuhan dalam dirinya”.

Pendidikan ke arah pencapaian dharma dewasa ini terabaikan, akibatnya orang selalu berebut material dan menghalalkan segala cara memperkaya diri, para pemimpin membiarkan dirinya terlena dalam kewajibannya mensejahtrakan rakyat, malah justru memeras rakyat demi kepentingannya sendiri. Realitas ini terjadi dan terus terjadi secara bergiliran, tidak pernah membuat jera bahkan mencari strategi baru untuk mengakali undan-undang. Bukankah orang-orang pintar yang mampu mengakali undang-undang untuk kepentingan sendiri. Bila orang miskin mencuri sebutir semangka untuk menghilangkan dahaganya terkena hukuman sampai 3 tiga bulan penjara.

Persoalan ini menempatkan seseorang pemimpin yang telah pintar secara teori, namun tidak mampu mengendalikan diri menjalankan kewajibannya. Itu artinya orang yang pintar secara teori bila tidak belajar mengendalikan diri kandas juga dalam jurang neraka dunia ini. Barangkali sekarang Sang Jogormanik setiap hari disibukkan oleh para mantan pejabat negara yang sedang dan akan merendam diri dalam kepanasan kawah Candradimuka, mudah-mudahan kawahnya tidak kepenuhan, karena masih banyak lagi yang akan menyusul. Hal ini dijadikan model dalam jaman kali dan setelah lepas dari merendam diri, sudah siap ditunggu oleh pasukannya. Dengan segala daya dihelu-helukan dengan promosi besar-besaran agar bisa terkenal, yaalah….. karena punya uang.  Itulah model idola manusia zaman Kaliyoga. Nilai moral bukan menjadi pertimbangan dan tujuan hidup yang penting terkenal. Akibatnya sebagaian besar umat manusia dewasa ini amat terusik dan gerah terhadap kondisi ini, namun bengong dan tertunduk lesu, tanpa daya menghadapinya. Itulah realitas di balik dharma.           

Tinggalkan Kegerahan Bangun Rasa Damai

Membangun rasa damai saat ini adalah tuntutan yang sangat vital dari kebutuhan jiwa masyarakat, ketika manusia tidak lagi mau mengenal kebenaran, apalagi melaksanakan kebenaran untuk menyelamatkan diri dan keluarganya.  Orang-orang membiarkan dirinya terperangkap gemerlap material dan kuasa nafsu yang membutakannya. Etika dan tata susila ditinggalkan, dengan cara membangun pertimbangan logis untuk memperkuat kuasa nafsunya. Tatanan sosial bahkan hukum sengaja didobrak, bahkan dijungkirbalikkan untuk menghalalkan tujuan. Akibatnya sangatlah mustahil akan menemukan kebahagiaan dan kedamaian. Erosi moral seperti ini demikian derasnya merorongrong manusia saat ini, sehingga apa yang dianggap benar adalah yang memuaskan nafsunya. Akibat semua ini terjadi perkelahian antar ego, pembunuhan seringkali terjadi karena salah paham akibat, minum-minum, narkoba, perebutan cewek, lahan oprasi, pemerkosaan anak dibawah umur, dan seterusnya menjadi persoalan yang amat mengkhawatirkan. Kekhawatiran masyarakat yang justru mesti diatasi oleh pemimpin, justru banyak wakil rakyat yang ikut mendorong tumbuhnya situasi seperti itu.  Oleh karena itu bangsa kita maupun bangsa-bangsa di dunia ini terlalu sibuk mengurusi persoalan-persoalan  keributan, perang, maupun kepincangan social lainnya, dari pada tugas-tugas memajukan prestasi sumberdaya manusia untuk mencapai kesejahtraan dan kedamaian. Kapankah bangsa ini bisa maju bersaing dengan bangsa lain?. Apakah hal merupakan kritik terhadap ketidak pedulian bangsa ini terhadap pembangunan moral dan spiritual?. Apapun alasannya itulah realitas yang patut dikaji oleh pemerintah agar mampu menemukan kebijakan yang lebih menitik beratkan pembangunan sumber daya manusia. Kemajuan suatu negara ditentukan oleh sumberdaya manusianya, bukan kemewahan gedung-gedungnya lantas utang negara melampau kemampuan rakyat untuk membayarnya. Sudah saatnya kamuplase politik ini ditinggalkan jauh-jauh agar benar-benar menjadi realitas yang benar-benar transparan.

Suasana yang memalukan tersebut di atas justru dijadikan komoditi dan tontonan yang menarik bagi media, yang didongkrak oleh sponsor pengusaha prodok tertentu. Realitas ini dikonsumsi setiap saat oleh masyarakat dalam berbagai kalangan, yang memberi imbas buruk bagi masyarakat yang belum terdidik secara moral dan spiritual. Itu artinya komponen-komponen masyarakat yang semestinya ikut memperkokoh jati diri suatu negara, malah ikut merongrong untuk merasa menang dalam kekalahannya sendiri. Pemimpin Negara yang semestinya didukung oleh semua komponen masyarakat membangun kesejahtraan, justru yang terjadi sebaliknya akibat kepentingan politik yang berbeda. Itu artinya system perpolitikan mesti dibangun berdasarkan kecerdasan dan niat membangun kesejahtraan, bukan hanya ingin berkuasa. Kondisi dan arah yang tidak tentu inilah yang melelahkan perjuangan rakyat meningkatkan tarap hidup social dan ekonomi. Bagi negara-negara maju dengan bangganya memperdaya dengan kedok membantu ekonomi, justru memperkuat system kapitalnya. Bantuan persenjataan untuk memerangi konflik yang dihadapi suatu negara, justru memperpanjang permusuhan yang mengakibatkan kemiskinan rakyat. Bukankah cara-cara seperti itu memperkuat konplik dan bukan menengahi untuk mendamaikan. Akibatnya semakin panjanglah  penderitaan yang dialami umat manusia. Itu artinya dunia mengalami “kemiskinan di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni”. Dengan kemajuan ilmu pengetahuan semestinya manusia mampu mensejahtrakan dirinya, tapi akibat dikuasai napsu raksasa ilmu pengetahuan itu justru mempercepat proses kehancuran pilar-pilar pembentuk kesejahtraan dan kedamaian umat manusia. Bila kondisi ini tidak disadari dan dikendalikan bersama, maka akan menciptakan “manusia buta hati”, bagaikan robot pelayan napsu dan kekerasan. Dapat dilihat betapa kerasnya perjuangan hidup manusia ditengah-tengah konplik. Hati nurani sengaja dipenjara oleh kekuatan napsu, ia berada namun tidak bisa bicara tentang arah dan jalan hidup manusia. Memenjarakan hati nurani berarti memenjarakan Tuhan dalam diri, akibatnya sudah pasti yaitu kehancuran dan penderitaan.  Manusia-manusia pintar yang buta hati seperti inilah banyak berkeliaran disekelilig kita, ia sebagai teman berpakain jas rapi, berdasi necis, berpakaian toga kebesaran, namun dibalik selubung itu terdapat kebengisan yang setiap saat siap akan “memangsa kita”. Wujudnya adalah bila menghadapi persaingan bukan kualitas kemampuan yang digunakan, tetapi menciptakan issu-issu, opini, sebagai senjata pamungkas yang ditebar ke media sebagai pembunuhan karakter. Manusia-manusia seperti inilah yang patut selalu diwaspadai, agar situasi tidak kacau akibatnya. Namun dibalik itu kebesaran Tuhan Yang Maha Bijaksana selalu hadir pada jiwa-jiwa yang murni, sehingga sepak terjangnya selalu tumpul dalam mengatasi ruang dan waktu. Di awal perjuangan mengkonstrusi issu maupun opini kelihatan seolah-olah ia akan selalu menang, menyebut nama Tuhan tanpa rasa berdosa sebagai kedok kebenarannya. Pada akhirnya Sang Waktu Yang Maha Murni akan memperlihatkan kesejatian, ketika itulah kebenaran yang sesungguhnya tidak bisa diganggu gugat lagi dan menundukkan semua sifat berpura-pura itu sendiri. Itu artinya orang-orang pengabdi kebenaran pantas diuji oleh hukum “Maya” yang diciptakan agar manusia memiliki kecerdasan dan kemurnian jiwa sejati. Proses yang terjadi itu sebagai pelajaran yang amat berharga dalam upaya mengenal kebutuhan jiwa.    

Realitas ini berkembang terus di negara manapun di dunia, dalam sekala kecil maupun sekala besar walaupun dengunan “gema perdamaian” terus dilakukan. Namun belum mampu menyentuh dan mengatasi konplik yang terjadi di berbagai belahan dunia ini. Oleh karena itu patut selalu digemakan bersama-sama apabila kita ingin hidup damai. Menggemakan kedamaian adalah menggemakan kebenaran sifat maha kasih Tuhan, sebagai repleksi puja bhakti kepada-Nya dalam wujud pengamalan.  Dengan demikian bagi para pemuja yang selalu menggemakan kedamaian dalam setiap langkahnya adalah kemuliaan. Disamping melalui kepintaran mendepisikannya kebenaran, yang jauh lebih penting adalah mewujudkan dalam tindakan nyata. Mencapai kebenaran tindakan memerlukan berbagai kemampuan, mulai dari keberanian dihujat oleh teman, tenaga, materi, waktu, strategi, dan lain sebagainya. Ketika langkah-langkah ini betul-betul terwujud, kebenarannya dan dapat dirasakan oleh orang lain, mulai saat itu orang akan percaya dan pasti  diteladani oleh lingkungan sekitarnya, itulah perbuatan baik. Perjuangan ke arah itulah yang sering disebut di Bali “pang saja” agar benar-benar  atau “sajaan” benar. Seperti apa yang telah ditulis dalam Sri Upanisad oleh Mahaguru Sri Jaya Nara menjelaskan bahwa; “kehidupan manusia itu adalah kehidupan untuk menuju jalan yang terbaik, jalan yang terbaik adalah jalan menuju kaki-Ku, maka kerja yang terbaik adalah bagaimana kau memberi sesuatu kepada orang lain yang terbaik pula. Dengan jalan itu berarti kau mengamalkan pengetahuan suci, menjadi teladan, sehingga orang lain tertulari keteladanmu. Dengan demikian secara tidak langsung kau memberikan ajaran suci kepada mereka, itulah pengabdian dan pengamalan”. Agar bisa mencapai jalan terbaik dan menuju kaki-Nya serta mampu melaksanakan kewajiban, dalam hal ini mesti dimulai dari pengenalan jiwa sendiri. Untuk mengenal jiwa sendiri bukanlah persoalan mudah, oleh karena itu berguru adalah suatu kewajiban. Sejak belajar mengenal huruf, menulis, mewarnai, serta pengetahuan lainnya. Sejak anak-anak kita diwajibkan berguru dan guru sudah tersedia di lingkungan kita. Sadarkah kita kenapa hal itu “terjadi” dan “terus terjadi”, itu artinya secara alami bahwa pengetahuan diturunkan lewat manusia agar mengerti apa yang menjdi kewajibannya. Setelah memperoleh pendidikan formal, sudahkan kita mengenal kebutuhan jiwa kita, yang juga patut dididik agar mengenal jiwa yang sesungguhnya?.  Sudahkah kita mengenal guru yang bagaimana yang patut menuntun jiwa kita agar mampu membawa seluruh pikiran dan panca indra mengerti bahwa hidup terdiri dari jiwa dan badan?. Pertanyaan-pertanyaan ke arah itu adalah bentuk kesadaran yang telah mencair dari kebekuan mental, atau “rohani yang tidur lelap” berkepanjangan. Hal itu juga berarti sinar suci Tuhan telah memancarkan sinarnya kepada kita, yang juga sering disebut “panggilan jiwa”. Ketika panggilan jiwa ini dipupuk dengan tindakan suci, maka sinar itu akan semakin menerangi jiwa yang selalu memperbesar semangat hidup. Dan ketika hal itu dibiarkan, dan selalu dihambat oleh alasan-alasan logis tentang berbagai kesibukan jasmani, maka keragu-raguan akan selalu menguasainya, disitulah orang-orang akan terjebak pada “titi ogal-agil”, yang sangat menakutkan apabila jatuh di dasar kawah api seperti apa yang diceriterakan oleh para suci dalam mencapai sorga. Dalam kondisi itu orang telah mengetahui kebenaran, tetapi tidak berani melakukannya, pada akhirnya ia tetap menderita, dengan demikian “keberanian” memegang peranan yang amat penting.   Bersyukurlah bila telah menemukan guru yang betul-betul mengarahkan jiwa anda pada jalan kedamaian dan berani menanggung resiko yang ditimbulkannya. Resiko dalam hal ini diartikan sebagai sadana yang mampu memperkokoh keberanian, karena disanalah terletak pengetahuan yang “membentuk keberanian”. Apabila belum menemukan guru, melakukan kewajiban untuk menemukan-Nya adalah “kewajiban utama” (dalam bahasa Bali disebut mautama). Sastra suci telah mengajarkan bahwa Awatarapun turun kedunia juga berguru, Sri Rama yang diyakini titisan Wisnu berguru kepada Wiswamitra dan guru-guru yang lainnya. Apalagi manusia biasa yang penuh dosa, ketika tidak mau berguru secara jasmani maupun rohani, tentu sulit dibayangkan kemana arah hidupnya. Masih banyak orang-orang takut berguru untuk mengenal dirinya sendiri karena memang berat, atau  karena telah merasa cukup, atau merasa telah merasa menyatu dengan tradisi, atau telah dipasung tradisi, atau karena tidak punya waktu, itulah realitas, tatapi banyak yang tidak tahu karena telah terpanggil untuk berguru, tetapi ditolak oleh logika berpikrnya yang amat terbatas. Biasanya panggilan itu terjadi lewat sakit yang sulit disembuhkan oleh dokter maupun dukun dan pada akhirnya orang akan menyerah pasrah dihadapan Kaki-nya. Oleh karena itu sadarlah mencari guru sejati agar tidak didahului oleh panggilan jiwa melalui “sakit keras”. Bagi yang telah berupaya untuk menemukan guru, dan bila telah menemukan  serta mendapatkan tuntunan-Nya adalah “jalan kemuliaan”, disitulah jiwa dan raga akan terdidik melalui garis-garis gurupadesa yang dapat dirasakan kebenarannya.

Ketika hal itu terjadi manusia telah mengenal jiwanya dan alamnya, berarti pula menusia telah mengenal Tuhan, sebagai bapak dan sebagai ibunya sebagai asal-usul (kawitan bahasa Bali) semua ciptaan.  Ketika hal itu dipahami maka orang tidak lagi disibukkan oleh kepercayaan menelusuri trah leluhur melalui waktu kelahiran yang berulang-lang ribuan tahun lalu, dalam berbagai persilangan budaya yang amat menyulitkan itu. Syukur kalau “trah leluhur” yang dicari itu adalah baik-baik, dan bila seorang penjahat siapkah menerimanya, oleh karena manusia sering tidak siap menerima kenyataan, maka hal itu menjadi rahasia Tuhan. Oleh karena itu kembalilah pada ajarannya, agar mampu memuliakan seluruh ciptaan-Nya termasuk arwah nenek moyang kita. Ketika hal itu terlaksana maka orang mampu mengabdi dengan keikhlasan dan kesungguhan di dunia. Pengabdian inilah yang diperlukan oleh dunia sekarang ini, barang siapa yang mau mengabdi untuk kesejahtraan dunia sekecil apapun wujudnya, adalah jalan untuk mencapai-Nya. Melalui jalan pengabdian yang tulus Tuhan akan memancarkan kasihnya, yang menyejukkan jiwa dan alam semesta, karena itu adalah intisari dari kehidupan. Semakin besar pengabdian yang mampu diwujudkan dalam ketulusan hati, maka semakin tak terhinggalah kebahagiaan yang terasa dalam diri. Dalam kondisi seperti ini seluruh kata tidak lagi mampu menyatakan rasa bahagia yang telah menusup seluruh jiwa dan raga, seluruh gerak panca indra, pikiran, ego, seluruh unsur jiwa lebur dalam kesucian, menyatu dalam kedamaian. Ketika itulah terucap rasa syukur, dan doa penuh ampunan, yang tulus dari hati nurani yang paling dalam. Dengan demikian belajar mengenal jiwa sendiri adalah mengenal Tuhan dalam diri, dan mengenal asal mula serta belajar mengabdi melalui sifat Kemahakuasaan-Nya yang terjangkau oleh keterbatasan umat manusia.

Semogalah lahir pengabdi-pengabdi sebagai pelopor penggerak, maupun sebagai pengikut kebenaran sejati, sehingga dunia ini kembali pada hukum-Nya. Barang siapa yang berupaya melibatkan diri dalam perjuangan dharma ini, ia akan berada di jalan-Nya dan terbebas dari kegelapan.  Meyakini kebenaran ini adalah jalan kebahagiaan, oleh karena itu wahai umat manusia di seluruh dunia keluarlah dari jalan kegelapan, ikuti suara kemurnian jiwa, karena itu adalah suara kebenaran dan kesucian yang membawa manusia kejalan jalan damai, semogalah……….. 

Om Nama Siwa Ya.

            
                                                         

Tidak ada komentar:

Posting Komentar