Guru Sri Hasta Dhala
Om Swastyastu
Melalui ucapan mantram suci Om Swastyastu kita mulai,
mengenal, merasakan getaran suci yang membahagiakan. Mantram suci Om swastyastu
selalu diucapkan bagi umat Hindu sebagai salam pertemuan, salam perjumpaan, pemberi
tanda kehadiran bila seseorang berkunjung ke rumah teman, tetangga dan lain
sebagainya, agar pertemuan dengan teman atau tetangga yang dikunjungi memperoleh
kebahagiaan yang sama. Kata Om dimaknai sebagai simbol Tuhan, dengan kuasa-Nya
yang mengalir memenuhi seluruh harapan bagi umat manusia. Berkenaan dengan itu
mengucapkan kata Om, adalah wujud
kesadaran suci yang patut dibiasakan untuk memperoleh perlindungan-Nya agar selamat dan damai dalam setiap langkah
perjalanan hidup. Hal ini berarti
apabila kita selalu ingat memuliakan, akibatnya perasaan kita terasa semakin
dekat kepada-Nya. Perasaan “dekat”
itu mengarahkan seluruh unsur jiwa tertuju pada “kebenaran”, itulah “kebutuhan
jiwa”. Kekuatannya dapat dirasakan
sebagai pengatur sekaligus pengendali pikiran, perkataan dan perbuatan agar
sampai pada tujuan hidup yang
sesungguhnya. Untuk mencapai tujuan itu, sesungguhnya adalah membebaskan jiwa
dari belengguan hawa nafsu, yang setiap saat lihai dengan tipuan halusnya membelokkan,
mengaburkan, menutup jalan terang agar manusia terjerumus masuk perangkapnya.
Ciri-ciri yang biasa ditawarkan nafsu adalah yang
menyenangkan dan menggaerahkan, oleh karena itu sulit sekali mengenal sistem
kerjanya. Namun ciri-cirinya dapat dikenal, bila panca indria dan pikiran
tunduk pada kesenangan dan yang menggaerahkan, dengan sendirinya energi tubuh
manusia larut di dalamnya. Kemudian secara perlahan energi itu habis untuk
melayani kesenangan dan yang menggaerahkan itu. Ketika itu manusia telah berada
dalam genggaman perangkapnya, yang berkuasa
adalah “nafsu dan ego”. Walaupun demikian sifat kebenaran tidak akan pernah
sirna, karena kebenaran itu adalah hakekat penciptaan yang terkadang juga muncul
lewat penyesalan-penyesalan.
Tetapi
apabila benih-benih kebenaran itu kembali dikuasai oleh nafsu dan ego, maka ia
terdesak tanpa energy, bagaikan sinar matahari ditutupi kabut, dia ada tetapi
tidak mampu menerangi dunia. Dalam kondisi seperti ini manusia berada dalam
kebingungan yang amat menghawatirkan, ia tidak pernah mengerti bagaimana cara
memperbaiki diri, ia hanya puas saat nafsunya terpenuhi. Kepuasan hawa nafsu
amatlah singkat, bagaikan api disirami minyak dan ketika minyaknya habis dia
akan redup kembali Ketika hawa nafsu
telah menguasai diri, pikiran, dan panca idria dibutakan olehnya, sehingga
kebenaran, rasa malu, kasih sayang, toleransi, kebijaksanaan dan kesucian tidak
lagi bersahabat dalam dirinya. Ketika sahabat-sahabat baik jiwanya tertinggal, yang
ada hanyalah keinginan untuk memenuhi hawa nafsu yang semakin serakah, maka
jadilah manusia budak hawa nafsu. Budak-budak ini bekerja membabi buta, tidak
mengenal hak orang lain yang penting bisa menguasai dan memenuhi hawa
hafsunya. Orang-orang seperti inilah
yang lebih banyak menghuni bumi kita dewasa ini, akibatnya benturan dan perang terjadi
dimana-mana.
Orang-orang yang terperangkap hawa nafsu adalah orang-orang
yang berwatak raksasa, yang dijauhi oleh pengetahuan kebenaran, itulah “wujud penderitaan”. Agar manusia tidak
dijauhi pengetahuan kebenaran dan bebas dari penderitaan inilah para suci talah
menggariskan ajaran-Nya yang patut dilaksanakan dengan sungguh dan yakin
terhadap kebesaran-Nya. Pendidikan dan latihan ke arah itu telah digariskan,
patut diupayakan bersama dalam Jaman Kali Yoga ini, agar tumbuh jiwa-jiwa penuh
keyakinan dan sungguh-sungguh terhadap kebesaran-Nya. Ketika hal itu telah
tertanam kuat dalam diri, itulah pilar-pilar jati diri manusia yang mampu
merasakan kehadiran dan dekat dengan sumber-Nya. Kerinduan untuk dekat
dengan-Nya adalah “kebutuhan jiwa”
yang “amat
membahagiakan, bagaikan anak merindukan ibunya dan bertemu dalam dekapan kasih
sayangnya”. Dengan demikian manusia adalah badan, roh dan jiwa yang
tercipta sebagai mahluk yang paling sempurna, diberkati ajaran untuk mengenal
ibu dan bapaknya yang sejati. Berkat ”keutamaan”
ini tiada duanya diantara semua mahluk ciptaan-Nya, oleh karena itu
memperjuangkan “nilai-nilai keutamaan”
adalah “kewajiban”. Ketika kesadaran terhadap nilai-nilai
keutamaan menjadi tujuan dan diperjuangkan bersama-sama, maka nilai-nilai itu
akan semakin besar berkumandang mempengaruhi mahluk lainnya hidup berdampingan
dalam suasana damai. Kenyataan yang terjadi saat ini terjadi sebaliknya, itu
berarti manusia telah mengikuti jalan nafsu yang membawa dirinya pada jalan
neraka, yang membiarkan “suara hati”
diam seribu bahasa terpenjara oleh gemerlapnya suasana material, gaya hidup
konsumtif yang menjadi kebanggaan dan tujuan hidupnya.
Menyadari hal itu betapa pentingnya pengetahuan suci yang
telah dialirkan oleh Tuhan kepada Guru Suci maupun Para Resi dan diajarkan
kepada kita semua. Mendengar dan membaca kisah-kisah para suci
dalam upaya memperoleh berkat pengetahuan kebenaran-Nya, sebagian besar melalui
perjalanan panjang dan berliku, pengorbanan dalam bentuk berbagai kesenangan
dan kenikmatan, berubah menjadi energi suci untuk mengabdi pada kesejahtraan
umat manusia, alam dan lingkungannya. Orang-orang suci yang membawa misi
kebenaran tidak lahir setiap saat, namun lahir berdasarkan kuasa jaman-Nya,
dengan demikian amatlah berbahagia hidup ini bila lahir bersama-Nya dan
mendapat tuntunan-Nya. Tidak semua orang dapat merasakan dan memahami hal ini,
walaupun kelahiran-Nya ada dalam lingkungan keluarga sekitarnya atau keluarga
dekatnya, bahkan sering dicemoh, dihina,
disingkirkan bahkan ditekan dengan isu-isu dan kekuatan politik suryak
siu. Karena prilakunya dianggap berbeda dari kebiasaan yang dianut masyarakat
sekitarnya. Kenyataan ini terjadi dalam
masyarakat yang menganggap “tradisi
sebagai kebenaran”, yang sesungguhnya tradisi tercipta dari pengetahuan
yang terjadi pada jamanya untuk mencapai kebahagiaan yang disebut sebagai
tradisi adiluhung. Ketika tradisi yang dianut tidak relevan dalam upaya
mengantarkan manusia ke jalan damai dan bahagia, sudah saatnya ditinggalkan,
karena berakibat memperpanjang kemiskinan. Patut disadari jaman yang berbeda
menetukan tradisinya masing-masing dalam ruang waktu dan karakter masyarakat
pendukungnya. Dengan demikian hati-hatilah dengan tradisi yang membutakan yang
selalu mengungkung kreativitas umat manusia. “Taat nak mule keto” hanyalah
menciptakan masyarakat menjadi panatisme konyol yang membawanya pada jurang
kemiskinan. Mereka sering mengeluh dengan tradisi yang mengikatnya, tetapi tidak
mau keluar atau tidak bisa keluar karena tidak mau mencari jalan keluarnya.
Dalam keterpasungan tradisi ini mereka menonton hartakarun disekitanya dikeruk
dan dikuasai oleh orang lain. Karena tidak memiliki kecerdasan pengetahuan dan
lahirlah reaksi dalam bentuk budaya premanisme yang amat semarak dengan kedok
menjaga wilayah (Ibu Pertiwi) yang justru menambah ribetnya suasana. Dan tidak
lagi mau melatih berpikir “ngudiang keto” artinya mengapa
begitu. Cara berpikir seperti ini patut dibangun agar membawa umat pada ruang
kecerdasan, agar mampu melihat berbagai peluang dan bisa menciptakan lapangan kerja yang disebut
tradisi berpengetahuan. Tradisi seperti ini sering mendapat jawaban yang
membuntukan nalar yang terjadi dan ditaati bagi orang-orang yang tidak sadar
perubahan dan kemajuan dalam kompetisi ilmu pengetahuan. Ia kagum dengan
romantisme masa lalu, sedangkan hidupnya pada masa kini dengan berbagai
tuntutannya dan berjuang untuk menghadapi hari esok dan seterusnya. Dengan
demikian kebutuhan jiwa akan dapat dikenal dan dicapai melalui pengetahuan,
tentang kehidupan bersama di bumi ini.
Agar mampu menjawab keluasan pengetahuan tentang kehidupan,
maka tradisi yang patut dibangun dan dikembangkan adalah “tradisi belajar” bukan hanya “belajar
tradisi”. Belajar tradisi amatlah penting, agar mampu menyimak nilai-nilai
unggul masa lalu untuk digunakan masa kini, dengan demikian serapan nilai-nilai
pondamental yang paling utama dan dikemas dengan suasana masa kini. Kemasan
inilah proses kreatif yang menentukan budaya jamannya. Proses kreatif tidak
bisa tumbuh dan berkembang yang bertentu timbul pertanyaan apakah
kewajiban yang telah kita persembahkan kepada Guru yang mengajarkan dan upaya
merubah prilaku sesuai ajaran, atau juga ikut bersama-sama mengibarkan
panji-panji kebenaran ?. Sebagai wujud bhakti kepada Maha Guru Suci yang turun
dan menurunkan ajaran, tentu telah mengajarkan sadana-sadana yang patut
dilakukan, dan hal itu juga telah tertulis dalam kitab suci. Salah satu kewajiban
utama adalah ikut bersama-sama melayani kebutuhan jasmani-Nya, agar pengetahuan
yang dialirkan berenergi suci dan mampu menghapus kegelapan. Kewajiban utama lainnya adalah berwujud
ritual atau sadana suci sebagai proses pelatihan untuk mencapai pemantapan
keyakinan, ada pula yang berwujud karma baik dan benar, misalnya memelihara air
dengan tidak membuang sampah, mengotori dengan zat kimia berbahaya, membiarkan
ikan-ikan berkembang biak dengan damai, bukan diracun dan disetrum listrik yang
menghabiskan semua habitatnya,
memelihara hutan dan alam lingkungan bukan hanya dengan ritual yang
menghabiskan dana miliaran rupiah. Tetapi dengan kesadaran dan prilaku, yang
diperkuat oleh hukum yang tegas. Hal itu mesti dimulai dari para penguasa, yang
menentukan keputusan kerjasama dengan para pengusaha dengan peralatan super
canggih yang membuat hutan dalam sekejap menjadi gundul dan hasilnya entah
kemana. Sudah semestinya penertiban itu dimulai dari kekuatan besar, bukankah
disitu bergabung kekuatan penguasa, politik, ilmuwan, teknologi dan lain
sebagainya, bukan hanya menertibkan
yang kecil sebagai sebagai simbol keberhasilan. Mampukah kita menghadapi
kekuatan raksasa seperti itu ?, inilah perjuangan pemerintah bersama rakyat
untuk menghadirkan Sutasoma dalam jiwa masing-masing agar mampu menetralisir kekuatan raksa menjadi
pengabdi dharma sejati. Ketika perjuangan itu dilakukan terus menerus selama
enam bulan, yang diperingati sebagai
hari Raya Galungan dan Kuningan semestinya lapisan dharma semakin kuat dalam
diri. Kenyataan yang terjadi erosi karakter moralitas manusia semakin hari kian
terpuruk. Apa yang telah kita lakukan selama enam bulan untuk memenangkan
dharma yang patut dirayakan dengan hari Raya Galungan dan Kuningan ?.
Pertanyaan ini patut direnungi bersama, cari akar permasalahan, lakukan
kewajiban dengan penuh keyakinan yang memenangkan dharma. Bukan hanya sibuk mewujudkan berbagai kegiatan
ritual dan seni budaya, tetapi berupaya sekuat tenaga merealisasikan dharma
yang berpengetahuan dalam kehidupan nyata.
Dharma adalah Realitas
Kebenaran yang Bervibrasi
Ketika dharma diperjuangkan dengan gigih, nilainya akan
menjadi realitas yang bervibrasi bagi orang yang melakukan dan berimbas pada
lingkungannya. Dharma dapat dilaksanakan bila telah terbentuk dasar-dasar kebenaran,
keyakinan, keikhlasan dan keberanian menghadapi tantangan. Ketika dasar-dasar
tadi telah tumbuh dan menyatu dalam jiwa, ia akan berani menghadapi tantangan.
Tantangan itu adalah masalah eksternal yang
menyelimuti masalah internal yang menjadi tujuan inti dari perjuangan. Keduanya
tidak dapat dipisahkan bagaikan racun yang ada dalam makanan. Oleh karena itu
harus mampu mengenali jenis dan sifat makanan itu, dan seberapa besar cocok
dengan tubuh kita agar menjadi energy yang menyehatkan, demikian pula masalah
yang dihadapi. Masalah juga dapat diartikan sebagai lapisan-lapisan kegelapan
yang menghadang manusia untuk dilewati, karena itu masalah adalah tangga
kewajiban. Ketika manusia sadar pada kewajibannya, maka masalah akan menjadi
teman sejati yang membawanya pada puncak tangga keemasannya. Setiap orang
memiliki potensi dan selalu ingin mencapai puncak tangga itu, namun banyak yang
kekurangan energy dan pengetahuan untuk mencapainya itulah “realitas kerja hukum karma”. Realitas ini sering disebut “nasib”. Dalam hal ini manusia sudah
berada pada alur dan ruang geraknya masing-masing. Dalam ruang inilah manusia
berinteraksi, berproses dalam upaya mematangkan diri agar berbuah menjadi “wujud pengabdian” yang tulus. Apabila
terjadi sebaliknya, manusia ditelan oleh
“Sang Waktu”, redup tanpa aura itulah kemampuan, yang sering disebut “kekalahan”. Dalam kesadaran rohani
seperti ini “kekalahan” mesti dilihat sebagai proses bukan hasil akhir,
bukankah proses juga hasil walaupun
belum tuntas atau harapan yang ditentukan oleh batas pikiran yang juga amat
terbatas. Bila kesalahan cara memaknai ini orang akan mengalami kebimbangnan,
seolah-olah energy tidak mengalir lagi. Energy itu sesungguhnya tidak pernah
berhenti, karena itu adalah sifat alaminya. Apabila wadah energy ini rusak maka
energy itupun pasti akan meninggalkan wadahnya. Wadah itu lebih bersifat
material, oleh karena itu ia akan rusak sesuai dengan hukum Sang waktu.
Realitas Dibalik Dharma
Ketika keyakinan terhadap kebenaran tujuan itu diragukan, itu
artinya selimut gelap mulai menutupi
kebenaran. Akibatnya perjuangan akan menjadi ragu dan akan kehabisan waktu dan
energi untuk jalan di tempat, dengan demikian sulit mencapai hasil yang baik. Dalam
kondisi ini manusia akan dilewati atau dimakan oleh “Sang Waktu” atau “Bhuta
Kala” tanpa makna. Untuk mengatasi hal itu sering diwujudkan dengan ritual,
sebagai symbol penyadaran. Namun yang lebih penting adalah membongkar makna
yang terselubung di dalamnya agar berjalan sesuai dengan simbol itu. Simbol
dalam hal ini adalah sekumpulan makna yang selalu mengingatkan dalam bahasa
Bali disebut “piteket”, yang
menyadarkan manusia bila posisi perjuangan hidupnya telah sampai pada ruang
makna itu sendiri. Oleh karena itu memaknai simbol lebih penting dari pada
mengagungkan atau membesar-besarkan simbol, yang sering berkembang menjadi
produk budaya.
Oleh karena itu dasar-dasar kebenaran yang terarah pada
kebenaran sejati patut dimantapkan dalam diri, agar tumbuh keyakinan dan jiwa
pengabdi yang tulus. Walaupun untuk mencapai hal itu bukanlah persoalan mudah
menurut ukuran manusia, tetapi banyak manusia mampu mencapainya. Mengapa orang
bisa mencapainya pertanyaan ke arah itulah pikiran, pancaindra, kecerdasan
patut diarahkan, sehingga energy siap mendukungnya. Apabila upaya ini diarahkan pada sumbernya
yang sejati dan selalu mohon berkat-Nya, hal itu bisa berjalan dengan mudah dan
lancar. Keyakinan ini mesti secara serempak patut dibangun dalam jaman Kaliyoga
ini agar kekuatan pikiran yang amat terbatas itu, tunduk pada kekuatan dan
kuasa suci Tuhan. Hal yang dianggap sulit bagi manusia seketika menjadi mudah,
akibat Kemahakuasaannya. Ketika itulah
keyakinan akan tumbuh dengan sendirinya, yang mengarahkan prilaku pada jalan
kebenaran. Ketika sifat-sifat itu dibiasakan tumbuh dan berkembang dalam diri
dan disirami kasih Illahi secara teratur dengan cara memuliakan-Nya setiap
saat, mengakibatkan jiwa dan kesadarannya semakin halus. Akibatnya seluruh
panca indra dan pikiran akan mudah dikendalikan dalam perjuangan untuk mencapai
dharma yang sesungguhnya. Ketika itu segala bentuk teori lebur dalam realitas
yang dirasakan kebenarannya, itulah kebahagiaan yang sesungguhnya. Wujudnya
adalah reaksi yang melihat secara jelas dan jernih masa depannya. Ketika hal
itu telah terjadi maka tindakannya akan selalu mengabdi pada Sag Diri (atman), melalui sifat inilah
orang akan memahami “kehadiran Tuhan
dalam dirinya”.
Pendidikan ke arah pencapaian dharma dewasa ini terabaikan,
akibatnya orang selalu berebut material dan menghalalkan segala cara memperkaya
diri, para pemimpin membiarkan dirinya terlena dalam kewajibannya
mensejahtrakan rakyat, malah justru memeras rakyat demi kepentingannya sendiri.
Realitas ini terjadi dan terus terjadi secara bergiliran, tidak pernah membuat
jera bahkan mencari strategi baru untuk mengakali undan-undang. Bukankah
orang-orang pintar yang mampu mengakali undang-undang untuk kepentingan
sendiri. Bila orang miskin mencuri sebutir semangka untuk menghilangkan
dahaganya terkena hukuman sampai 3 tiga bulan penjara.
Persoalan ini menempatkan seseorang pemimpin yang telah
pintar secara teori, namun tidak mampu mengendalikan diri menjalankan
kewajibannya. Itu artinya orang yang pintar secara teori bila tidak belajar
mengendalikan diri kandas juga dalam jurang neraka dunia ini. Barangkali sekarang
Sang Jogormanik setiap hari
disibukkan oleh para mantan pejabat negara yang sedang dan akan merendam diri
dalam kepanasan kawah Candradimuka,
mudah-mudahan kawahnya tidak kepenuhan, karena masih banyak lagi yang akan
menyusul. Hal ini dijadikan model dalam jaman kali dan setelah lepas dari
merendam diri, sudah siap ditunggu oleh pasukannya. Dengan segala daya
dihelu-helukan dengan promosi besar-besaran agar bisa terkenal, yaalah…..
karena punya uang. Itulah model idola manusia
zaman Kaliyoga. Nilai moral bukan menjadi pertimbangan dan tujuan hidup yang
penting terkenal. Akibatnya sebagaian besar umat manusia dewasa ini amat
terusik dan gerah terhadap kondisi ini, namun bengong dan tertunduk lesu, tanpa
daya menghadapinya. Itulah realitas di balik dharma.
Tinggalkan Kegerahan
Bangun Rasa Damai
Membangun rasa damai saat ini adalah tuntutan yang sangat
vital dari kebutuhan jiwa masyarakat, ketika manusia tidak lagi mau mengenal
kebenaran, apalagi melaksanakan kebenaran untuk menyelamatkan diri dan
keluarganya. Orang-orang membiarkan
dirinya terperangkap gemerlap material dan kuasa nafsu yang membutakannya.
Etika dan tata susila ditinggalkan, dengan cara membangun pertimbangan logis
untuk memperkuat kuasa nafsunya. Tatanan sosial bahkan hukum sengaja didobrak,
bahkan dijungkirbalikkan untuk menghalalkan tujuan. Akibatnya sangatlah
mustahil akan menemukan kebahagiaan dan kedamaian. Erosi moral seperti ini
demikian derasnya merorongrong manusia saat ini, sehingga apa yang dianggap
benar adalah yang memuaskan nafsunya. Akibat semua ini terjadi perkelahian
antar ego, pembunuhan seringkali terjadi karena salah paham akibat,
minum-minum, narkoba, perebutan cewek, lahan oprasi, pemerkosaan anak dibawah
umur, dan seterusnya menjadi persoalan yang amat mengkhawatirkan. Kekhawatiran
masyarakat yang justru mesti diatasi oleh pemimpin, justru banyak wakil rakyat
yang ikut mendorong tumbuhnya situasi seperti itu. Oleh karena itu bangsa kita maupun bangsa-bangsa
di dunia ini terlalu sibuk mengurusi persoalan-persoalan keributan, perang, maupun kepincangan social
lainnya, dari pada tugas-tugas memajukan prestasi sumberdaya manusia untuk
mencapai kesejahtraan dan kedamaian. Kapankah bangsa ini bisa maju bersaing
dengan bangsa lain?. Apakah hal merupakan kritik terhadap ketidak pedulian
bangsa ini terhadap pembangunan moral dan spiritual?. Apapun alasannya itulah
realitas yang patut dikaji oleh pemerintah agar mampu menemukan kebijakan yang
lebih menitik beratkan pembangunan sumber daya manusia. Kemajuan suatu negara
ditentukan oleh sumberdaya manusianya, bukan kemewahan gedung-gedungnya lantas
utang negara melampau kemampuan rakyat untuk membayarnya. Sudah saatnya
kamuplase politik ini ditinggalkan jauh-jauh agar benar-benar menjadi realitas
yang benar-benar transparan.
Suasana yang memalukan tersebut di atas justru dijadikan
komoditi dan tontonan yang menarik bagi media, yang didongkrak oleh sponsor
pengusaha prodok tertentu. Realitas ini dikonsumsi setiap saat oleh masyarakat
dalam berbagai kalangan, yang memberi imbas buruk bagi masyarakat yang belum
terdidik secara moral dan spiritual. Itu artinya komponen-komponen masyarakat
yang semestinya ikut memperkokoh jati diri suatu negara, malah ikut merongrong
untuk merasa menang dalam kekalahannya sendiri. Pemimpin Negara yang semestinya
didukung oleh semua komponen masyarakat membangun kesejahtraan, justru yang
terjadi sebaliknya akibat kepentingan politik yang berbeda. Itu artinya system
perpolitikan mesti dibangun berdasarkan kecerdasan dan niat membangun
kesejahtraan, bukan hanya ingin berkuasa. Kondisi dan arah yang tidak tentu
inilah yang melelahkan perjuangan rakyat meningkatkan tarap hidup social dan
ekonomi. Bagi negara-negara maju dengan bangganya memperdaya dengan kedok
membantu ekonomi, justru memperkuat system kapitalnya. Bantuan persenjataan
untuk memerangi konflik yang dihadapi suatu negara, justru memperpanjang
permusuhan yang mengakibatkan kemiskinan rakyat. Bukankah cara-cara seperti itu
memperkuat konplik dan bukan menengahi untuk mendamaikan. Akibatnya semakin
panjanglah penderitaan yang dialami umat
manusia. Itu artinya dunia mengalami “kemiskinan
di tengah-tengah kemajuan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni”. Dengan
kemajuan ilmu pengetahuan semestinya manusia mampu mensejahtrakan dirinya, tapi
akibat dikuasai napsu raksasa ilmu pengetahuan itu justru mempercepat proses
kehancuran pilar-pilar pembentuk kesejahtraan dan kedamaian umat manusia. Bila
kondisi ini tidak disadari dan dikendalikan bersama, maka akan menciptakan “manusia buta hati”, bagaikan robot
pelayan napsu dan kekerasan. Dapat dilihat betapa kerasnya perjuangan hidup
manusia ditengah-tengah konplik. Hati nurani sengaja dipenjara oleh kekuatan napsu,
ia berada namun tidak bisa bicara tentang arah dan jalan hidup manusia.
Memenjarakan hati nurani berarti memenjarakan Tuhan dalam diri, akibatnya sudah
pasti yaitu kehancuran dan penderitaan. Manusia-manusia
pintar yang buta hati seperti inilah banyak berkeliaran disekelilig kita, ia
sebagai teman berpakain jas rapi, berdasi necis, berpakaian toga kebesaran,
namun dibalik selubung itu terdapat kebengisan yang setiap saat siap akan “memangsa kita”. Wujudnya adalah bila
menghadapi persaingan bukan kualitas kemampuan yang digunakan, tetapi
menciptakan issu-issu, opini, sebagai senjata pamungkas yang ditebar ke media
sebagai pembunuhan karakter. Manusia-manusia seperti inilah yang patut selalu
diwaspadai, agar situasi tidak kacau akibatnya. Namun dibalik itu kebesaran
Tuhan Yang Maha Bijaksana selalu hadir pada jiwa-jiwa yang murni, sehingga
sepak terjangnya selalu tumpul dalam mengatasi ruang dan waktu. Di awal perjuangan
mengkonstrusi issu maupun opini kelihatan seolah-olah ia akan selalu menang,
menyebut nama Tuhan tanpa rasa berdosa sebagai kedok kebenarannya. Pada
akhirnya Sang Waktu Yang Maha Murni akan memperlihatkan kesejatian, ketika
itulah kebenaran yang sesungguhnya tidak bisa diganggu gugat lagi dan
menundukkan semua sifat berpura-pura itu sendiri. Itu artinya orang-orang
pengabdi kebenaran pantas diuji oleh hukum “Maya”
yang diciptakan agar manusia memiliki kecerdasan dan kemurnian jiwa sejati.
Proses yang terjadi itu sebagai pelajaran yang amat berharga dalam upaya mengenal
kebutuhan jiwa.
Realitas ini berkembang terus di negara manapun di dunia,
dalam sekala kecil maupun sekala besar walaupun dengunan “gema perdamaian” terus dilakukan. Namun belum mampu menyentuh dan
mengatasi konplik yang terjadi di berbagai belahan dunia ini. Oleh karena itu
patut selalu digemakan bersama-sama apabila kita ingin hidup damai. Menggemakan
kedamaian adalah menggemakan kebenaran sifat maha kasih Tuhan, sebagai repleksi
puja bhakti kepada-Nya dalam wujud pengamalan.
Dengan demikian bagi para pemuja yang selalu menggemakan kedamaian dalam
setiap langkahnya adalah kemuliaan. Disamping melalui kepintaran
mendepisikannya kebenaran, yang jauh lebih penting adalah mewujudkan dalam tindakan
nyata. Mencapai kebenaran tindakan memerlukan berbagai kemampuan, mulai dari
keberanian dihujat oleh teman, tenaga, materi, waktu, strategi, dan lain
sebagainya. Ketika langkah-langkah ini betul-betul terwujud, kebenarannya dan
dapat dirasakan oleh orang lain, mulai saat itu orang akan percaya dan pasti diteladani oleh lingkungan sekitarnya, itulah
perbuatan baik. Perjuangan ke arah itulah yang sering disebut di Bali “pang saja” agar benar-benar atau “sajaan”
benar. Seperti apa yang telah ditulis dalam Sri Upanisad oleh Mahaguru Sri
Jaya Nara menjelaskan bahwa; “kehidupan
manusia itu adalah kehidupan untuk menuju jalan yang terbaik, jalan yang
terbaik adalah jalan menuju kaki-Ku, maka kerja yang terbaik adalah bagaimana
kau memberi sesuatu kepada orang lain yang terbaik pula. Dengan jalan itu
berarti kau mengamalkan pengetahuan suci, menjadi teladan, sehingga orang lain
tertulari keteladanmu. Dengan demikian secara tidak langsung kau memberikan
ajaran suci kepada mereka, itulah pengabdian dan pengamalan”. Agar bisa
mencapai jalan terbaik dan menuju kaki-Nya serta mampu melaksanakan kewajiban,
dalam hal ini mesti dimulai dari pengenalan jiwa sendiri. Untuk mengenal jiwa
sendiri bukanlah persoalan mudah, oleh karena itu berguru adalah suatu
kewajiban. Sejak belajar mengenal huruf, menulis, mewarnai, serta pengetahuan lainnya.
Sejak anak-anak kita diwajibkan berguru dan guru sudah tersedia di lingkungan
kita. Sadarkah kita kenapa hal itu “terjadi”
dan “terus terjadi”, itu artinya
secara alami bahwa pengetahuan diturunkan lewat manusia agar mengerti apa yang
menjdi kewajibannya. Setelah memperoleh pendidikan formal, sudahkan kita mengenal
kebutuhan jiwa kita, yang juga patut dididik agar mengenal jiwa yang
sesungguhnya?. Sudahkah kita mengenal
guru yang bagaimana yang patut menuntun jiwa kita agar mampu membawa seluruh pikiran
dan panca indra mengerti bahwa hidup terdiri dari jiwa dan badan?.
Pertanyaan-pertanyaan ke arah itu adalah bentuk kesadaran yang telah mencair
dari kebekuan mental, atau “rohani yang
tidur lelap” berkepanjangan. Hal itu juga berarti sinar suci Tuhan telah
memancarkan sinarnya kepada kita, yang juga sering disebut “panggilan jiwa”. Ketika panggilan jiwa ini dipupuk dengan tindakan
suci, maka sinar itu akan semakin menerangi jiwa yang selalu memperbesar
semangat hidup. Dan ketika hal itu dibiarkan, dan selalu dihambat oleh
alasan-alasan logis tentang berbagai kesibukan jasmani, maka keragu-raguan akan
selalu menguasainya, disitulah orang-orang akan terjebak pada “titi ogal-agil”, yang sangat
menakutkan apabila jatuh di dasar kawah api
seperti apa yang diceriterakan oleh para suci dalam mencapai sorga. Dalam
kondisi itu orang telah mengetahui kebenaran, tetapi tidak berani melakukannya,
pada akhirnya ia tetap menderita, dengan demikian “keberanian” memegang peranan yang amat penting. Bersyukurlah bila telah menemukan guru yang
betul-betul mengarahkan jiwa anda pada jalan kedamaian dan berani menanggung
resiko yang ditimbulkannya. Resiko dalam hal ini diartikan sebagai sadana yang
mampu memperkokoh keberanian, karena disanalah terletak pengetahuan yang “membentuk keberanian”. Apabila belum
menemukan guru, melakukan kewajiban untuk menemukan-Nya adalah “kewajiban utama” (dalam bahasa Bali
disebut mautama). Sastra suci telah mengajarkan bahwa Awatarapun turun
kedunia juga berguru, Sri Rama yang diyakini titisan Wisnu berguru kepada
Wiswamitra dan guru-guru yang lainnya. Apalagi manusia biasa yang penuh dosa,
ketika tidak mau berguru secara jasmani maupun rohani, tentu sulit dibayangkan
kemana arah hidupnya. Masih banyak orang-orang takut berguru untuk mengenal
dirinya sendiri karena memang berat, atau
karena telah merasa cukup, atau merasa telah merasa menyatu dengan tradisi,
atau telah dipasung tradisi, atau karena tidak punya waktu, itulah realitas,
tatapi banyak yang tidak tahu karena telah terpanggil untuk berguru, tetapi
ditolak oleh logika berpikrnya yang amat terbatas. Biasanya panggilan itu
terjadi lewat sakit yang sulit disembuhkan oleh dokter maupun dukun dan pada
akhirnya orang akan menyerah pasrah dihadapan Kaki-nya. Oleh karena itu
sadarlah mencari guru sejati agar tidak didahului oleh panggilan jiwa melalui “sakit keras”. Bagi yang telah berupaya
untuk menemukan guru, dan bila telah menemukan
serta mendapatkan tuntunan-Nya adalah “jalan kemuliaan”, disitulah jiwa dan raga akan terdidik melalui
garis-garis gurupadesa yang dapat dirasakan kebenarannya.
Ketika hal itu terjadi manusia telah mengenal jiwanya dan
alamnya, berarti pula menusia telah mengenal Tuhan, sebagai bapak dan sebagai
ibunya sebagai asal-usul (kawitan
bahasa Bali) semua ciptaan. Ketika hal
itu dipahami maka orang tidak lagi disibukkan oleh kepercayaan menelusuri trah
leluhur melalui waktu kelahiran yang berulang-lang ribuan tahun lalu, dalam
berbagai persilangan budaya yang amat menyulitkan itu. Syukur kalau “trah
leluhur” yang dicari itu adalah baik-baik, dan bila seorang penjahat siapkah
menerimanya, oleh karena manusia sering tidak siap menerima kenyataan, maka hal
itu menjadi rahasia Tuhan. Oleh karena itu kembalilah pada ajarannya, agar
mampu memuliakan seluruh ciptaan-Nya termasuk arwah nenek moyang kita. Ketika
hal itu terlaksana maka orang mampu mengabdi dengan keikhlasan dan kesungguhan
di dunia. Pengabdian inilah yang diperlukan oleh dunia sekarang ini, barang
siapa yang mau mengabdi untuk kesejahtraan dunia sekecil apapun wujudnya,
adalah jalan untuk mencapai-Nya. Melalui jalan pengabdian yang tulus Tuhan akan
memancarkan kasihnya, yang menyejukkan jiwa dan alam semesta, karena itu adalah
intisari dari kehidupan. Semakin besar pengabdian yang mampu diwujudkan dalam
ketulusan hati, maka semakin tak terhinggalah kebahagiaan yang terasa dalam
diri. Dalam kondisi seperti ini seluruh kata tidak lagi mampu menyatakan rasa
bahagia yang telah menusup seluruh jiwa dan raga, seluruh gerak panca indra,
pikiran, ego, seluruh unsur jiwa lebur dalam kesucian, menyatu dalam kedamaian.
Ketika itulah terucap rasa syukur, dan doa penuh ampunan, yang tulus dari hati
nurani yang paling dalam. Dengan demikian belajar mengenal jiwa sendiri adalah
mengenal Tuhan dalam diri, dan mengenal asal mula serta belajar mengabdi
melalui sifat Kemahakuasaan-Nya yang terjangkau oleh keterbatasan umat manusia.
Semogalah lahir pengabdi-pengabdi sebagai pelopor penggerak,
maupun sebagai pengikut kebenaran sejati, sehingga dunia ini kembali pada hukum-Nya.
Barang siapa yang berupaya melibatkan diri dalam perjuangan dharma ini, ia akan
berada di jalan-Nya dan terbebas dari kegelapan. Meyakini kebenaran ini adalah jalan
kebahagiaan, oleh karena itu wahai umat manusia di seluruh dunia
keluarlah dari jalan kegelapan, ikuti suara kemurnian jiwa, karena itu adalah
suara kebenaran dan kesucian yang membawa manusia kejalan jalan damai,
semogalah………..
Om Nama Siwa Ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar