Agustus 04, 2013

MEMAKNAI PERAYAAN SARASWATI



Oleh: I Ketut Murdana (Sri Hasta Dhala)
Om Swastyastu, Om Sri Tat Ram.

Selama berabad-abad kita sebagai umat Hindu telah melakukan ritual dengan sikap tulus ikhlas dan keyakinan tinggi sebagai wujud rasa bakti kepada Sang Hyang Widhi Wase, Tuhan Yang Maha Esa. Akibatnya tanpa perlu pikir panjang lagi atau hirau lagi mempertanyakan, mengapa harus seperti itu yang penting “sampun petunjuk ide” sudah petunjuknya. Dibalik keyakinan terhadap petunjuk “ide” (orang yang diyakini) itu, tentu disisi lain timbul pertanyaan sudahkan “ide” memiliki kewenangan dan kuasa atas pengetahuan suci yang diperolehnya, disitulah letak persoalannya. Berkenaan dengan itu kewaspadaan dan keyakinan patut dibangun secara sinergis agar mampu mewujudkan jiwa yang besar, semangat pengabdian yang kuat, benar dan suci. Lahirnya kewaspadaan atau sikap kritis dalam diri, adalah salah satu wujud aliran pengetahuan yang telah memasuki kesadaran. Ketika hal itu terjadi, berarti  aliran kasih-Nya dalam wujud Dewi Saraswati mengalir melalui pengetahuan yang telah menembus dan membangkitkan kesadaran dan kesucian Jiwa. Terbukanya aliran kesadaran itu patut dipelihara dan dikembangkan agar menemukan inti terdalam dari suatu misteri, itulah kewajiban yang lahir dari aliran pengetahuan. Oleh karena itu memuliakan Dewi Saraswati atas berkat, tuntunan serta perlindungan-Nya dalam upaya mengatasi berbagai permasalahan atau kabut misteri kehidupan sangat penting dilakukan.  

Sifat-sifat kepanutan yang telah terjaga dengan baik di masyarakat, sangat penting dipelihara dan ditunjang dengan pengetahuan yang memadai agar menumbuhkan  keyakinan terhadap kewajiban ritual yang berpengetahuan. Hal ini sangat penting dibangun untuk menghadapi   persoalan ritual di masyarakat yang saat ini sangat berubah dan berkembang menjadi kreasi-kreasi yang membengkak tanpa sumber pengetahuan yang jelas, bahkan mengaburkan inti sejatinya sehingga menjadi beban yang mesti dipikul olah masyarakat, secara terus menerus.  Dokrin-doktrin yang menakutkan sering dilontarkan bila ritual tertentu tidak dipenuhi, sebagai pembenaran yang berakibat meresahkan masyarakat. Akibatnya sawah ladang dan ternak habis dijual untuk upacara, bukan untuk meningkatkan tarap hidup yang berpengetahuan material dan spiritual yang membebaskannya. Bahkan banyak pula yang beralih ke agama lain akibat keresahan itu. Bukankah Tuhan itu Maha Kasih, Maha pemurah,  Maha Pengampun dan seterusnya yang selalu menuntun dan memberkati umat-Nya. Cara berpikir, prilaku dan keyakinan kearah sifat dan kemahakuasaan itulah patut selalu diupayakan. Melatih diri dengan pengetahuan dan sadana suci yang telah digariskan oleh seorang Maha Guru Suci yang telah memperoleh berkat-Nya perlu mendapat prioritas seimbang dan dilaksanakan dengan penuh desiplin. Ketika hal itu disadari dan menjadi kewajiban, maka etika dan moral bajik akan terbagun secara perlahan. Kewajiban seperti itulah merupakan wujud penyelamatan nilai hakiki dari manusia dan berdampak besar pula terhadap lingkungan alamnya. Mulai dari cara seperti itulah pembangunan di dunia ini dilakukan. Ketika moralitas manusia bobrok demikian pula pemimpinnya, maka dunia inipun akan rusak. Dalih-dalih pembenaran seolah-olah menyelamatkan alam, sesungguhnya hanya untuk kepentingan politik kantong karet.

Menyimak Budaya Simbolik, Membangun Kesadaran Berpengetahuan.   
  
Budaya ritual yang maha besar itu, sesungguhnya memiliki tujuan melatih agar orang-orang belajar berkorban suci dengan tulus ikhlas, namun disisi lain maknanya terbungkus rapi atau sengaja dibungkus agar semakin rapi agar isinya tidak diketahui sehingga lahirlah kuasa untuk menguasai, atau tidak mengerti mumbuka bungkusan itu, karena lupa bertanya karena takut mengganggu keyakinan simbolik itu sendiri, sehingga terkunci semakin rapat tujuan dan makna yang ada di dalamnya. Ketika kabut misteri itu dibiarkan menutupi kesadaran, maka keyakinan itu tidak akan pernah tuntas menemukan kesejatiannya. Akibatnya kegiatan spiritual menjadi  hambar tanpa sentuhan rasa halus, yang mampu menghapus kerinduan jiwa. Oleh karena itu membuka lapisan agar menemukan nilai terdalam dengan sopan santun dan kesucian jiwa adalah kewajiban dalam pendakian spiritual, agar terhindar dari kebuntuan dogma. Bagaikan menemukan minyak didalam kelapa, mulai dari proses mengupas kulit, membelah, memarut, meremes, memasak, memisahkan antara kandungan airnya agar menemukan minyaknya, itulah proses yang tidak bisa diabaikan. Walaupun budaya ritual ini telah ditinggalkan oleh India ratusan tahun yang lalu, namun Rsi Markandya memulai menancapkan panji-panji kesucian, salah satunya melalui ritual. Pertanyaannya apakah ritual semarak seperti sekarang ini yang mesti dilakukan sebagai penentu kewajiban beragama?. Pertanyaan ini perlu direnungi bersama, dan mencari jawaban bijaksana, mensejahrakan dan membahagiakan. Kata kuncinya tiada lain adalah prilaku suci yang lahir dari jiwa-jiwa yang suci ingin menemukan Yang Maha Suci. Ketika kesadaran ini selalu dipupuk agar menyatu dalam setiap langkah, maka interprestasi-interprestasi subyektif yang sering mengacaukan masalah dapat dihindari. Oleh karena itu mengupas sesuatu yang indah dan suci, patut dilakukan melalui gerak pikiran dan jiwa yang selaras dengan kesucian itu sendiri. Penyelarasan inipun merupakan proses pendakian yang teramat sulit dilakukan. “Sulit” buka berarti tidak bisa dilakukan, tetapi penyerahan diri terhadap proses perubahan ke arah kebaikan, kebenaran, kebajikan, kesucian adalah jalan mulia. Ketika hal itu menjadi kesadaran, itu artinya kita telah menyerahkan diri terhadap salah sifat dan kuasa Shiwa sebagai pelebur.     

Tentu dalam kontek ini bukanlah mencari kambing hitam, tetapi merenungi kembali apa yang telah dilakukan di masa lalu dan bagaimana menyikapi masa kini yang sudah sangat berubah, di era IPTEKS yang penuh tantangan ini. Oleh karena demikian sudah saatnya ritual dengan bungkusan rapi dan  indah itu, dibuka pelan-pelan dan hati-hati agar tiak merusak keindahannya. Merupakan  kewajiban bagi setiap orang bila ingin menemukan sesuatu yang belum diketahui, dimengerti mencari jawaban yang sebenar-benarnya. Memperoleh pengetahuan yang betul-betul dapat dirasakan dan dibuktikan kebenarannya, sangat dibutuhkan dalam era rasional seperti sekarang ini. Hal ini penting disadari dan dimaknai agar mampu membentuk langkah tegas, tidak tolah-toleh, dan penuh keraguan sehingga budaya dogma tidak selalu menguasai. Kenyataan sikap ini masih banyak dipelihara, yang berakibat lambannya proses kompetisi di era globalisasi ini.
Membuka kabut misteri, merupakan proses pendakian menuju inti pengetahuan yang ada di dalamnya. Ketika lapisan pembungkus itu telah dikupas secara perlahan, dan pada “saatnya” nanti pasti ditemukan inti kebenarannya.  Pada “saatnya” yang dimaksud mengandung suatu pengertian “ruang” dimana manusia memperoleh berkat aliran kebenaran dari Yang Maha Kuasa dan kemampuan manusia menghadapi dan mengalami ”proses” yang menjadikan dirinya cerdas dan berani menghadapi resiko. “Saatnya” juga berarti waktu pertemuan yang diatur oleh Sang Waktu, ketika saatnya telah tiba pertemuan antara perjuangan dan hasilnya, maka kebahagian akan tercipta serta dapat dirasakan pelakunya. Purana telah memberikan isyarat ketika Hanoman mencari tumbuhan Sanjiwani untuk dijadikan obat penawar bagi Laksamana akibat kena panah sakti racun ular Meganada, di tengah perjalanan dia dihadang oleh Pendeta siluman yang mengajaknya menginap di Ashramnya dan mempersilahkan mandi di telaga suci. Ketika mandi Hanoman, secara tiba-tiba diserang seekor buaya yang amat galak terus mencengramnya. Namun dengan  sigapnya Hanoman mampu membunuh buaya itu yang sesungguhnya adalah penjelmaan seorang bidadari cantik akibat suatu kutukan, akhirnya bidadari itu mengucapkan terimakasih, karena telah mencapai kebebasan dan memberi tahu bahwa pendeta itu adalah siluman Demit yang ditugaskan oleh Rahwana menggagalkan perjuangannya. Akhirnya Hanoman sampai di Gunung Mahameru mendapatkan Sanjiwani, dan ketika pulang melintas di atas Ayodya, dikira musuh oleh Bharata akhirnya dipanah yang mengakibatkan dia jatuh membawa gunung beserta sanjiwani. Dalam kesakitannya dia selalu menyebut Sri Rama, yang mengakibatkan Bharata menyesali perbuatannya.  Hanomanpun juga sangat bersyukur melalui kejadian itu bertemu Bharata adik Sri Rama yang sangat setia. Walaupun waktu yang tersisa sangat singkat Hanoman dengan gagah perkasa mengangkut gunung itu kemabali menuju Ayodya. Dengan rasa hormat Hanoman menolak pertolongan Bhatara, sebagai wujud kebesaran hatinya. Akhirnya dengan batas waktu yang tersedia Hanoman mampu menyelesaikan tugasnya, namun Hanoman meyakini kemampuannya menyelesaikan tugas itu akibat berkat dari Sri Rama. Melalui purana itu dapat dipetik makna bahwa; seseorang yang dialiri sifat-sifat Tuhan akan teruji oleh keadaan, dalam proses pengabdian itu akan menemukan berbagai macam gelombang yang menerjang, konplik social serta permasalahan lain yang patut diatasi. Ketika upaya-upaya memperjuangkan kewajiban itu tidak pernah menyerah, disitulah orang-orang akan bisa berlindung dan menemukan jalan pembebasan, memperoleh bantuan dan dukungan kekuatan, sehingga Sang Pengabdi mampu mempercepat proses sampai pada tujuannya. Kesadaran untuk melibatkan diri dalam pengabdian untuk kesejahtraan umat manusia adalah jalan pembebasan, yang semuanya datang dari kebesaran-Nya.      

Sadari dan yakinilah kebesaran-Nya, latihlah pelan-pelan  menghilangkan rasa takut atau mau ditakut-takuti dogma, bangkitkan kesadaran pengetahuan, berdiri tegak dan kembali ke jalan pengetahuan yang mengalir dari Tuhan yang diberi nama Dewi Saraswati oleh Para Suci. Pengetahuan suci yang dialirkan itu diterjemahkan menjadi wujud ritual-simbolik agar dapat dimaknai dan dilaksanakan oleh banyak orang. Perubahan dan perkembangan jaman yang mengakibatkan daya kreatif manusia semakin berkembang, namun sangat berbeda dengan penguasaan pengetahuan suci. Akibatnya sering mengaburkan terjemahan itu, misalnya pengetahuan suci diterjemahkan dengan pengetahuan material yang sudah tentu sangat berbeda tetapi keduanya dibutuhkan oleh manusia untuk menyempurnakan hidupnya. Berkenaan  dengan itu dapat dikatakan bahwa banyak tertinggal ajaran-Nya namun Guru yang memiliki kewenangan mengajarkan tidak ada, tentu dapat dibayangkan apa yang terjadi bila seseorang menafsirkan dan memutuskan sendiri ajaran suci itu dengan kedok kepercayaan, atau keturunan. Bukankah pengetahuan suci itu diperoleh dengan sadana tingkat tinggi bagi yang melakukan, bukan diwariskan seperti arta benda lainnya. Tidak ada sarjana yang diwariskan kepada generasinya, tetapi keturunan orang suci yang disucikan dan dianggap suci adalah soal biasa.  

Bukankah hal ini telah dijawab oleh Para Suci, bahwa kebajikan itu tidak ditentukan oleh keturunan dan tetapi karena perbuatannya. Dalam cerita Ramayana telah tertulis bahwa; Wibisana walaupun wangsa raksasa, namun tegas melakukan kebajikan mengabdi Sri Rama, walaupun dianggap penghianat bagi wangsa. Wibisana keluar mencari perlindungan kebenaran yang mampu menyelamatkan wangsanya. Ketika perjuangan ke arah kebenaran sejati telah sampai, maka kesejahtraan dan kedamaianpun akan terjadi.  Hal ini patut disadari serta diluruskan agar sampai pada inti kesejatiannya. Jawaban yang terpenting adalah berkomitmen maju bersama memperbaiki keterpurukan moralitas manusia seperti sekarang ini agar mencapai kedamaian dalam berbagai tingkatan peradabannya. 

Namun Tuhan telah menjawab kegelisahan manusia itu, sebagai wujud kasih-Nya agar manusia menyadari dirinya yang sejati terhadap tugas dan kewajibannya di dunia ini. Bagi yang telah merasakan hal itu, adalah berkat kebahagiaan yang tiada tara pada jaman Kaliyoga ini. Hal itu berarti ia berada dalam jaman Kaliyoga, tetapi mampu membebaskan diri dari pengaruhnya buruknya. Orang-orang seperti itu sangat bersyukur bisa lahir pada jaman Kaliyoga, menemukan berbagai persoalan dalam tingkat kematangannya. Orang-orang yang baik, benar dan suci dan orang-orang berwatak jahat sangat mudah dikenali. Semuanya itu datang dari aliran kejernihan pengetahuan-Nya, sehingga mampu membedakan mana yang patut dipilih untuk mencapai kesejatiaan diri. Seperti apa yang disabdakan Sri Kreshna kepada kakaknya Baladewa, bahwa Tuhan memberi berkat kepada orang-orang yang telah menentukan pilihan pengabdiannya pada dharma melalui perang di Kurusetra, bukan menyibukkan diri melakukan tirtayatra pada saat dharma manusia sedang diuji. Melalui sabda itu Sri Krishna mengajarkan kecerdasan spiritual agar melakukan pilihan yang tepat dalam menemukan berkat pembebasan-Nya. 

Agar mampu merasakan kebahagiaan itu menyiapkan diri dan melaksanakan sadana suci yang “tertuntun” adalah kewajiban yang patut selalu diupayakan, untuk malatih dan meningkatkan sarada bhakti melalui pengabdian, memuliakan kebesarannya.  Kesadaran seperti itu wajib dipupuk secara seimbang ditengah-tengah cepatnya arus peredaran IPTEKS yang telah menguasai dunia ini. Tanpa kesadaran prilaku spiritual seperti itu kehidupan manusia dan dunia ini akan tidak stabil. Purana-purana suci sudah menggambarkan ketika lahir raksasa sakti ke bumi, dunia dan ketenangan para dewa di sorga akan sangat terganggu. Ketika itulah Tuhan turun memperbaiki dunia dalam wujud manusia agar kebenaran dan kesucian itu kembali tertib. Dalam kontek itu sering timbul pertanyaan, mengapa Tuhan juga memberkati raksasa lahir ke bumi, dan juga Tuhan turun ke bumi menyelesaikan, jawabannya barangkali itulah sandiwara Illahi. Dalam permainan sandiwara itulah proses penyempurnaan itu akan terjadi, untuk mengembalikan sifat-sifat sejati itu kepada sumbernya.    
Menyimak, merenungi dan meratapi antara apa yang tersirat dengan realitas yang terjadi, itu adalah aliran pengetahuan yang menyentuh dan meresap keseluruh jiwa, secara perlahan memerubah sikap mental manusia menuju kesadaran sejati. Bila kesadaran kebangkitan itu ditunjang olah perkembangan Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang selalu mencoba mepertanyakan, kabut misteri yang terselubung di depannya dengan harapan memperoleh jawaban yang sejelas-jelasnya. Kesadaran ini mengakibatkan orang tidak bisa begitu saja mengiyakan sebuah kebenaran yang belum tentu memberikan dampak positif, dalam berbagai tahap kebutuhan hidup sesuai dengan perubahan jamannya. Setiap jaman memiliki cara dalam merumuskan kebenaran yang ditentukan oleh cita-cita bersama dan kemudian disepakati menjadi pegangan hidup bersama. Bahkan banyak yang ditentukan oleh rasa takut kepada golongan tertentu, atau karena tidak mau ambil pusing menempatkan keyakinan dan kebenarannya pada golongan tertentu. Ada juga orang yang tidak mau tahu yang penting bersama atau “bareng-bareng gen”. Syukur-syukur bus yang ditumpangi bareng-barang itu sesuai dengan tujuannya, tetapi apabila bareng-bareng menumpangi bus dengan tujuan kita yang tidak jelas, apa yang akan terjadi. Oleh karena itu tujuan hidup mesti jelas arahnya agar langkah-langkah untuk mencapainya tegas. Masih banyak kelompok-kelompok masyarakat yang menganut pola pikir dan prilaku seperti itu, sehingga sering mengaburkan bahkan membuntukan upaya-upaya mencari kebenaran. Akibatnya perubahan kearah perbaikan sikap mental sangat sulit dicapai, sulit bukan berarti tidak mungkin dicapai,  Apabila terobosan kearah pencarian kebenaran itu dilakukan, sudah pasti bisa dengan tabah menghadapi berbagai resiko. Melalui perayaan Saraswati renungan-renungan suci ke arah itu wajib dilakukan dan dijadikan momentum bagi orang-orang yang telah menyadari akan hakekat hidupnya ditentukan oleh pengetahuan yaitu pengetahuan material dan spiritual. Pengetahuan material memberikan daya hidup dan berkembangnya kebutuhan jasmani mendukung secara aktif  pengetahuan spiritual, yaitu membangun kesadaran rohani tentang makna kehidupan dan jalan pembebasannya. 

Kedua wujud pengetahuan itu meresap secara utuh dan berkembang dalam kehidupan manusia, secara perlahan mencapai pendewasaan, maka dari itu Veda telah menggariskan menjadi tingkatan-tingkatan ideal yaitu; Brahmacari, Grhastha, Vanaprastha dan Bhiksuka. Pemilahan ini barangkali tidak perlu disikapi secara parsial namun bersinergi, karena selama hidup manusia selalu belajar menyempurnakan dirinya melalui pengetahuan sesuai apa yang telah digariskan oleh pengetahuan suci Veda. Sangat berbeda dengan binatang dia berubah karena waktu, misalnya serangga dalam kurun waktu tertentu melalui puasa mengurung diri dalam kepompong, kemudian lahir kembali dengan bulu dan sayapnya, berkembang biak, kemudian  terbang mencari sinar lampu akhirnya jatuh dimakan cecak atau tokek. Makna apa yang disajikan oleh makhluk alam itu, patut direnungi bersama dalam upaya mencerdasakan pendakian spiritual. 

Semogalah renungan suci dalam memuliakan Tuhan dalam manifesasinya sebagai Dewi Saraswati menemukan makna yang sesunguhnya, semogalah….Om Santhih, santhih, santhih, Om Nama Siwa  Ya.  

Tidak ada komentar:

Posting Komentar