Oleh: I Ketut Murdana
(Sri Hasta Dhala)
Om Swastyastu, Om Sri
Tat Ram.
Selama berabad-abad kita sebagai umat Hindu telah melakukan
ritual dengan sikap tulus ikhlas dan keyakinan tinggi sebagai wujud rasa bakti
kepada Sang Hyang Widhi Wase, Tuhan Yang Maha Esa. Akibatnya tanpa perlu pikir
panjang lagi atau hirau lagi mempertanyakan, mengapa harus seperti itu yang
penting “sampun petunjuk ide” sudah
petunjuknya. Dibalik keyakinan terhadap petunjuk “ide” (orang yang diyakini) itu, tentu disisi lain timbul
pertanyaan sudahkan “ide” memiliki
kewenangan dan kuasa atas pengetahuan suci yang diperolehnya, disitulah letak
persoalannya. Berkenaan dengan itu kewaspadaan dan keyakinan patut dibangun secara
sinergis agar mampu mewujudkan jiwa yang besar, semangat pengabdian yang kuat,
benar dan suci. Lahirnya kewaspadaan atau sikap kritis dalam diri, adalah salah
satu wujud aliran pengetahuan yang telah memasuki kesadaran. Ketika hal itu
terjadi, berarti aliran kasih-Nya dalam
wujud Dewi Saraswati mengalir melalui pengetahuan yang telah menembus dan
membangkitkan kesadaran dan kesucian Jiwa. Terbukanya aliran kesadaran itu patut
dipelihara dan dikembangkan agar menemukan inti terdalam dari suatu misteri,
itulah kewajiban yang lahir dari aliran pengetahuan. Oleh karena itu memuliakan
Dewi Saraswati atas berkat, tuntunan serta perlindungan-Nya dalam upaya mengatasi
berbagai permasalahan atau kabut misteri kehidupan sangat penting dilakukan.
Sifat-sifat kepanutan yang telah terjaga dengan baik di
masyarakat, sangat penting dipelihara dan ditunjang dengan pengetahuan yang
memadai agar menumbuhkan keyakinan
terhadap kewajiban ritual yang berpengetahuan. Hal ini sangat penting dibangun
untuk menghadapi persoalan ritual di masyarakat yang saat ini sangat
berubah dan berkembang menjadi kreasi-kreasi yang membengkak tanpa sumber
pengetahuan yang jelas, bahkan mengaburkan inti sejatinya sehingga menjadi
beban yang mesti dipikul olah masyarakat, secara terus menerus. Dokrin-doktrin yang menakutkan sering
dilontarkan bila ritual tertentu tidak dipenuhi, sebagai pembenaran yang
berakibat meresahkan masyarakat. Akibatnya sawah ladang dan ternak habis dijual
untuk upacara, bukan untuk meningkatkan tarap hidup yang berpengetahuan material
dan spiritual yang membebaskannya. Bahkan banyak pula yang beralih ke agama lain
akibat keresahan itu. Bukankah Tuhan itu Maha Kasih, Maha pemurah, Maha Pengampun dan seterusnya yang selalu
menuntun dan memberkati umat-Nya. Cara berpikir, prilaku dan keyakinan kearah sifat
dan kemahakuasaan itulah patut selalu diupayakan. Melatih diri dengan
pengetahuan dan sadana suci yang telah digariskan oleh seorang Maha Guru Suci
yang telah memperoleh berkat-Nya perlu mendapat prioritas seimbang dan
dilaksanakan dengan penuh desiplin. Ketika hal itu disadari dan menjadi
kewajiban, maka etika dan moral bajik akan terbagun secara perlahan. Kewajiban
seperti itulah merupakan wujud penyelamatan nilai hakiki dari manusia dan
berdampak besar pula terhadap lingkungan alamnya. Mulai dari cara seperti
itulah pembangunan di dunia ini dilakukan. Ketika moralitas manusia bobrok
demikian pula pemimpinnya, maka dunia inipun akan rusak. Dalih-dalih pembenaran
seolah-olah menyelamatkan alam, sesungguhnya hanya untuk kepentingan politik
kantong karet.
Menyimak Budaya
Simbolik, Membangun Kesadaran Berpengetahuan.
Budaya ritual yang maha besar itu, sesungguhnya memiliki
tujuan melatih agar orang-orang belajar berkorban suci dengan tulus ikhlas,
namun disisi lain maknanya terbungkus rapi atau sengaja dibungkus agar semakin
rapi agar isinya tidak diketahui sehingga lahirlah kuasa untuk menguasai, atau
tidak mengerti mumbuka bungkusan itu, karena lupa bertanya karena takut
mengganggu keyakinan simbolik itu sendiri, sehingga terkunci semakin rapat
tujuan dan makna yang ada di dalamnya. Ketika kabut misteri itu dibiarkan
menutupi kesadaran, maka keyakinan itu tidak akan pernah tuntas menemukan
kesejatiannya. Akibatnya kegiatan spiritual menjadi hambar tanpa sentuhan rasa halus, yang mampu
menghapus kerinduan jiwa. Oleh karena itu membuka lapisan agar menemukan nilai
terdalam dengan sopan santun dan kesucian jiwa adalah kewajiban dalam pendakian
spiritual, agar terhindar dari kebuntuan dogma. Bagaikan menemukan minyak didalam
kelapa, mulai dari proses mengupas kulit, membelah, memarut, meremes, memasak,
memisahkan antara kandungan airnya agar menemukan minyaknya, itulah proses yang
tidak bisa diabaikan. Walaupun budaya ritual ini telah ditinggalkan oleh India
ratusan tahun yang lalu, namun Rsi Markandya memulai menancapkan panji-panji
kesucian, salah satunya melalui ritual. Pertanyaannya apakah ritual semarak
seperti sekarang ini yang mesti dilakukan sebagai penentu kewajiban beragama?.
Pertanyaan ini perlu direnungi bersama, dan mencari jawaban bijaksana,
mensejahrakan dan membahagiakan. Kata kuncinya tiada lain adalah prilaku suci
yang lahir dari jiwa-jiwa yang suci ingin menemukan Yang Maha Suci. Ketika
kesadaran ini selalu dipupuk agar menyatu dalam setiap langkah, maka interprestasi-interprestasi
subyektif yang sering mengacaukan masalah dapat dihindari. Oleh karena itu
mengupas sesuatu yang indah dan suci, patut dilakukan melalui gerak pikiran dan
jiwa yang selaras dengan kesucian itu sendiri. Penyelarasan inipun merupakan
proses pendakian yang teramat sulit dilakukan. “Sulit” buka berarti tidak bisa
dilakukan, tetapi penyerahan diri terhadap proses perubahan ke arah kebaikan,
kebenaran, kebajikan, kesucian adalah jalan mulia. Ketika hal itu menjadi
kesadaran, itu artinya kita telah menyerahkan diri terhadap salah sifat dan
kuasa Shiwa sebagai pelebur.
Tentu dalam kontek ini bukanlah mencari kambing hitam, tetapi
merenungi kembali apa yang telah dilakukan di masa lalu dan bagaimana menyikapi
masa kini yang sudah sangat berubah, di era IPTEKS yang penuh tantangan ini.
Oleh karena demikian sudah saatnya ritual dengan bungkusan rapi dan indah itu, dibuka pelan-pelan dan hati-hati
agar tiak merusak keindahannya. Merupakan
kewajiban bagi setiap orang bila ingin menemukan sesuatu yang belum
diketahui, dimengerti mencari jawaban yang sebenar-benarnya. Memperoleh
pengetahuan yang betul-betul dapat dirasakan dan dibuktikan kebenarannya,
sangat dibutuhkan dalam era rasional seperti sekarang ini. Hal ini penting
disadari dan dimaknai agar mampu membentuk langkah tegas, tidak tolah-toleh,
dan penuh keraguan sehingga budaya dogma tidak selalu menguasai. Kenyataan
sikap ini masih banyak dipelihara, yang berakibat lambannya proses kompetisi di
era globalisasi ini.
Membuka kabut misteri, merupakan proses pendakian menuju inti
pengetahuan yang ada di dalamnya. Ketika lapisan pembungkus itu telah dikupas
secara perlahan, dan pada “saatnya” nanti pasti ditemukan inti
kebenarannya. Pada “saatnya” yang
dimaksud mengandung suatu pengertian “ruang” dimana manusia memperoleh berkat
aliran kebenaran dari Yang Maha Kuasa dan kemampuan manusia menghadapi dan
mengalami ”proses” yang menjadikan dirinya cerdas dan berani menghadapi resiko.
“Saatnya” juga berarti waktu pertemuan yang diatur oleh Sang Waktu, ketika
saatnya telah tiba pertemuan antara perjuangan dan hasilnya, maka kebahagian
akan tercipta serta dapat dirasakan pelakunya. Purana telah memberikan isyarat
ketika Hanoman mencari tumbuhan Sanjiwani untuk dijadikan obat penawar bagi
Laksamana akibat kena panah sakti racun ular Meganada, di tengah perjalanan dia
dihadang oleh Pendeta siluman yang mengajaknya menginap di Ashramnya dan
mempersilahkan mandi di telaga suci. Ketika mandi Hanoman, secara tiba-tiba diserang
seekor buaya yang amat galak terus mencengramnya. Namun dengan sigapnya Hanoman mampu membunuh buaya itu
yang sesungguhnya adalah penjelmaan seorang bidadari cantik akibat suatu
kutukan, akhirnya bidadari itu mengucapkan terimakasih, karena telah mencapai
kebebasan dan memberi tahu bahwa pendeta itu adalah siluman Demit yang
ditugaskan oleh Rahwana menggagalkan perjuangannya. Akhirnya Hanoman sampai di
Gunung Mahameru mendapatkan Sanjiwani, dan ketika pulang melintas di atas
Ayodya, dikira musuh oleh Bharata akhirnya dipanah yang mengakibatkan dia jatuh
membawa gunung beserta sanjiwani. Dalam kesakitannya dia selalu menyebut Sri
Rama, yang mengakibatkan Bharata menyesali perbuatannya. Hanomanpun juga sangat bersyukur melalui
kejadian itu bertemu Bharata adik Sri Rama yang sangat setia. Walaupun waktu
yang tersisa sangat singkat Hanoman dengan gagah perkasa mengangkut gunung itu
kemabali menuju Ayodya. Dengan rasa hormat Hanoman menolak pertolongan Bhatara,
sebagai wujud kebesaran hatinya. Akhirnya dengan batas waktu yang tersedia
Hanoman mampu menyelesaikan tugasnya, namun Hanoman meyakini kemampuannya
menyelesaikan tugas itu akibat berkat dari Sri Rama. Melalui purana itu dapat
dipetik makna bahwa; seseorang yang dialiri sifat-sifat Tuhan akan teruji oleh
keadaan, dalam proses pengabdian itu akan menemukan berbagai macam gelombang
yang menerjang, konplik social serta permasalahan lain yang patut diatasi.
Ketika upaya-upaya memperjuangkan kewajiban itu tidak pernah menyerah,
disitulah orang-orang akan bisa berlindung dan menemukan jalan pembebasan,
memperoleh bantuan dan dukungan kekuatan, sehingga Sang Pengabdi mampu
mempercepat proses sampai pada tujuannya. Kesadaran untuk melibatkan diri dalam
pengabdian untuk kesejahtraan umat manusia adalah jalan pembebasan, yang semuanya
datang dari kebesaran-Nya.
Sadari dan yakinilah kebesaran-Nya, latihlah pelan-pelan menghilangkan rasa takut atau mau
ditakut-takuti dogma, bangkitkan kesadaran pengetahuan, berdiri tegak dan
kembali ke jalan pengetahuan yang mengalir dari Tuhan yang diberi nama Dewi
Saraswati oleh Para Suci. Pengetahuan suci yang dialirkan itu diterjemahkan
menjadi wujud ritual-simbolik agar dapat dimaknai dan dilaksanakan oleh banyak
orang. Perubahan dan perkembangan jaman yang mengakibatkan daya kreatif manusia
semakin berkembang, namun sangat berbeda dengan penguasaan pengetahuan suci.
Akibatnya sering mengaburkan terjemahan itu, misalnya pengetahuan suci
diterjemahkan dengan pengetahuan material yang sudah tentu sangat berbeda
tetapi keduanya dibutuhkan oleh manusia untuk menyempurnakan hidupnya.
Berkenaan dengan itu dapat dikatakan
bahwa banyak tertinggal ajaran-Nya namun Guru yang memiliki kewenangan
mengajarkan tidak ada, tentu dapat dibayangkan apa yang terjadi bila seseorang
menafsirkan dan memutuskan sendiri ajaran suci itu dengan kedok kepercayaan,
atau keturunan. Bukankah pengetahuan suci itu diperoleh dengan sadana tingkat
tinggi bagi yang melakukan, bukan diwariskan seperti arta benda lainnya. Tidak
ada sarjana yang diwariskan kepada generasinya, tetapi keturunan orang suci
yang disucikan dan dianggap suci adalah soal biasa.
Bukankah hal ini telah dijawab oleh Para Suci, bahwa
kebajikan itu tidak ditentukan oleh keturunan dan tetapi karena perbuatannya.
Dalam cerita Ramayana telah tertulis bahwa; Wibisana walaupun wangsa raksasa,
namun tegas melakukan kebajikan mengabdi Sri Rama, walaupun dianggap penghianat
bagi wangsa. Wibisana keluar mencari perlindungan kebenaran yang mampu
menyelamatkan wangsanya. Ketika perjuangan ke arah kebenaran sejati telah
sampai, maka kesejahtraan dan kedamaianpun akan terjadi. Hal ini patut disadari serta diluruskan agar
sampai pada inti kesejatiannya. Jawaban yang terpenting adalah berkomitmen maju
bersama memperbaiki keterpurukan moralitas manusia seperti sekarang ini agar
mencapai kedamaian dalam berbagai tingkatan peradabannya.
Namun Tuhan telah menjawab kegelisahan manusia itu, sebagai
wujud kasih-Nya agar manusia menyadari dirinya yang sejati terhadap tugas dan
kewajibannya di dunia ini. Bagi yang telah merasakan hal itu, adalah berkat
kebahagiaan yang tiada tara pada jaman Kaliyoga ini. Hal itu berarti ia berada
dalam jaman Kaliyoga, tetapi mampu membebaskan diri dari pengaruhnya buruknya.
Orang-orang seperti itu sangat bersyukur bisa lahir pada jaman Kaliyoga, menemukan
berbagai persoalan dalam tingkat kematangannya. Orang-orang yang baik, benar
dan suci dan orang-orang berwatak jahat sangat mudah dikenali. Semuanya itu
datang dari aliran kejernihan pengetahuan-Nya, sehingga mampu membedakan mana
yang patut dipilih untuk mencapai kesejatiaan diri. Seperti apa yang disabdakan
Sri Kreshna kepada kakaknya Baladewa, bahwa Tuhan memberi berkat kepada
orang-orang yang telah menentukan pilihan pengabdiannya pada dharma melalui
perang di Kurusetra, bukan menyibukkan diri melakukan tirtayatra pada saat
dharma manusia sedang diuji. Melalui sabda itu Sri Krishna mengajarkan
kecerdasan spiritual agar melakukan pilihan yang tepat dalam menemukan berkat
pembebasan-Nya.
Agar mampu merasakan kebahagiaan itu menyiapkan diri dan
melaksanakan sadana suci yang “tertuntun” adalah kewajiban yang patut selalu
diupayakan, untuk malatih dan meningkatkan sarada bhakti melalui pengabdian,
memuliakan kebesarannya. Kesadaran seperti
itu wajib dipupuk secara seimbang ditengah-tengah cepatnya arus peredaran
IPTEKS yang telah menguasai dunia ini. Tanpa kesadaran prilaku spiritual
seperti itu kehidupan manusia dan dunia ini akan tidak stabil. Purana-purana
suci sudah menggambarkan ketika lahir raksasa sakti ke bumi, dunia dan
ketenangan para dewa di sorga akan sangat terganggu. Ketika itulah Tuhan turun
memperbaiki dunia dalam wujud manusia agar kebenaran dan kesucian itu kembali
tertib. Dalam kontek itu sering timbul pertanyaan, mengapa Tuhan juga
memberkati raksasa lahir ke bumi, dan juga Tuhan turun ke bumi menyelesaikan,
jawabannya barangkali itulah sandiwara Illahi. Dalam permainan sandiwara itulah
proses penyempurnaan itu akan terjadi, untuk mengembalikan sifat-sifat sejati
itu kepada sumbernya.
Menyimak, merenungi dan meratapi antara apa yang tersirat
dengan realitas yang terjadi, itu adalah aliran pengetahuan yang menyentuh dan
meresap keseluruh jiwa, secara perlahan memerubah sikap mental manusia menuju
kesadaran sejati. Bila kesadaran kebangkitan itu ditunjang olah perkembangan
Ilmu pengetahuan, teknologi dan seni yang selalu mencoba mepertanyakan, kabut
misteri yang terselubung di depannya dengan harapan memperoleh jawaban yang
sejelas-jelasnya. Kesadaran ini mengakibatkan orang tidak bisa begitu saja
mengiyakan sebuah kebenaran yang belum tentu memberikan dampak positif, dalam
berbagai tahap kebutuhan hidup sesuai dengan perubahan jamannya. Setiap jaman
memiliki cara dalam merumuskan kebenaran yang ditentukan oleh cita-cita bersama
dan kemudian disepakati menjadi pegangan hidup bersama. Bahkan banyak yang
ditentukan oleh rasa takut kepada golongan tertentu, atau karena tidak mau
ambil pusing menempatkan keyakinan dan kebenarannya pada golongan tertentu. Ada
juga orang yang tidak mau tahu yang penting bersama atau “bareng-bareng gen”. Syukur-syukur bus yang ditumpangi
bareng-barang itu sesuai dengan tujuannya, tetapi apabila bareng-bareng
menumpangi bus dengan tujuan kita yang tidak jelas, apa yang akan terjadi. Oleh
karena itu tujuan hidup mesti jelas arahnya agar langkah-langkah untuk
mencapainya tegas. Masih banyak kelompok-kelompok masyarakat yang menganut pola
pikir dan prilaku seperti itu, sehingga sering mengaburkan bahkan membuntukan
upaya-upaya mencari kebenaran. Akibatnya perubahan kearah perbaikan sikap
mental sangat sulit dicapai, sulit bukan berarti tidak mungkin dicapai, Apabila terobosan kearah pencarian kebenaran
itu dilakukan, sudah pasti bisa dengan tabah menghadapi berbagai resiko. Melalui
perayaan Saraswati renungan-renungan suci ke arah itu wajib dilakukan dan
dijadikan momentum bagi orang-orang yang telah menyadari akan hakekat hidupnya
ditentukan oleh pengetahuan yaitu pengetahuan material dan spiritual.
Pengetahuan material memberikan daya hidup dan berkembangnya kebutuhan jasmani
mendukung secara aktif pengetahuan
spiritual, yaitu membangun kesadaran rohani tentang makna kehidupan dan jalan
pembebasannya.
Kedua wujud pengetahuan itu meresap secara utuh dan
berkembang dalam kehidupan manusia, secara perlahan mencapai pendewasaan, maka
dari itu Veda telah menggariskan menjadi tingkatan-tingkatan ideal yaitu;
Brahmacari, Grhastha, Vanaprastha dan Bhiksuka. Pemilahan ini barangkali tidak
perlu disikapi secara parsial namun bersinergi, karena selama hidup manusia
selalu belajar menyempurnakan dirinya melalui pengetahuan sesuai apa yang telah
digariskan oleh pengetahuan suci Veda. Sangat berbeda dengan binatang dia
berubah karena waktu, misalnya serangga dalam kurun waktu tertentu melalui
puasa mengurung diri dalam kepompong, kemudian lahir kembali dengan bulu dan
sayapnya, berkembang biak, kemudian terbang mencari sinar lampu akhirnya jatuh
dimakan cecak atau tokek. Makna apa yang disajikan oleh makhluk alam itu, patut
direnungi bersama dalam upaya mencerdasakan pendakian spiritual.
Semogalah renungan suci dalam memuliakan Tuhan dalam
manifesasinya sebagai Dewi Saraswati menemukan makna yang sesunguhnya,
semogalah….Om Santhih, santhih, santhih, Om Nama Siwa Ya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar