Januari 18, 2013

MENUMBUHKAN BENIH-BENIH KEJUJURAN MELALUI PENYUCIAN DIRI


Demikian pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni dengan segala kekuatannya, merambah segala sektor kehidupan dengan berbagai karakternya. Perkembangan ini dimulai dari Negara maju dengan peradaban pengetahuannya membuat Negara berkembang tunduk dengan ketidak berdayaannya. Perubahan pola hidup alamiah menjadi pola hidup material dan konsumtif. Mungkinkah hal ini dihindari ?, nampaknya sangatlah mustahil. Kecuali menyaring dengan pengetahuan dan kesucian jiwa, walaupun untuk menempa diri agar memiliki pengetahuan dan kesucian jiwa bukan hal yang mudah, “sadar” mulai saat inilah jawabannya.  


Dampak dari semuanya itu banyak orang kelabakan menghadapi arus kebudayaan global itu, bahkan nilai-nilai vital yang menentukan kesejatian hidup terlupakan. Etika-etika luhur yang telah tersusun dalam bahasa ibu, keyakinan mistis, sastra suci, yang dimaknai oleh para leluhur yang telah mampu membentuk peradaban suci, kita lupakan bahkan banyak yang telah terkubur. Walaupun kita tidak mungkin kembali ke masa lalu, namun teramat penting memaknai nilai-nilai luhur peradaban masa lalu untuk “kejayaan” masa kini dan masa depan. Refleksi tindakan dari semuanya itu, banyak lahir generasi yang tidak  lagi peduli pada peradaban luhur masa lalu. Akibatnya terjadi kehilangan arah yang menimbulkan strees sosial yang semakin banyak. Dampaknya banyak menimbulkan kasus bunuh  yang dilakukan secara “sadar” ataupun dengan cara “tidak sadar”, bahkan mereka merasa “berjaya” pada proses “bunuh diri sadar” itu. Sesungguhnya semua orang sadar dengan hal itu, misalnya makanan dan minuman yang sengaja diisi pemanis, pengawet, penyedep dan seterusnya itu, tetapi bagaimana rakyat mampu mengendalikan peredaran semuanya itu, kecuali pemerintah melakukan tindakan tegas bila ingin jadi pengayom rakyat.

Disisi lain akibat strees sosial seperti ini lahir “gerakan anti”, tetapi selama ini belum terdengar “gerakan anti duit”. Namun yang paling banyak terjadi gerakan bunuh karakter demi kepentingan tertentu, bukan kompetisi keunggulan melainkan “suryak siu” karena isu-isu dan janji-janji. Hal ini telah merambah ke segala lini kehidupan, seolah-olah hukum Karma tidak berlaku lagi dalam kehidupan. Tindakan membubunuh orang bagaikan membunuh ayam saja, memperkosa anak cucu sendiri dan seterusnya. Betapa memprihatinkan kondisi moralitas kita sekarang ini, sudah saatnya hentikan saat ini juga kembaliah ke jalan dharma.

Gerakan “anti” ini sering berkelakar “pang taen gen” (biar pernah saja jadi …..?)  Kenyataannya hal ini terjadi jaman sekarang karena bisa didukung oleh kekuatan materi yang mampu mengkondisikan suara. Karena yang paling penting adalah suara. Setelah “menjadi” yaah wajiblah hukumnya “mengembalikan”,   soal kepentingan rakyat “bisa diatur”, dilaksanakan atau tidak, itu adalah urusan nanti. Dampaknya banyak pemimpin setelah mangakhiri masa jabatannya, bukan pulang ke rumah dengan damai namun masuk ke rumah dinas yang telah disiapkan KPK. Kondisi seperti ini yang menghiasi Negara kita dewasa ini, membuat krisis kepercayaam rakyat semakin tajam,  merupakan kemiskinan yang paling buruk terjadi di  negeri yang kita cintai ini.

Ketika kita menyadari permasalahan yang amat komplek ini, sering disebut “lingkaran setan” yang  telah biasa  diucapkan. Namun yang paling utama adalah keluar dari lingkaran itu, membentuk “lingkaran suci” adalah tindakan mulia walaupun penuh tantangan. Kenyataan yang terjadi bahwa kekuatan lingkaran setan amatlah kuat menjerat umat manusia, hingga tidak bisa keluar atau memang tidak mau keluar, atau juga belum menemukan jalan keluarnya, itulah yang terjadi dewasa ini. Begitulah kekuatan mendung kegelapan menutupi sinar matahari “sang hati nurani” (atman) kita. Dalam kondisi seperti itu suara sang hati nurani (atman) tidak terdengar oleh sang jiwa melalui panca indra. Akibatnya tindakannya selalu dikendalikan oleh kekuatan hasil kerja sama antara panca indra, pikiran dan hawa nafsunya. Kerjasama ketiga unsur ini menghasilkan kekuatan dahsyat yang mampu menenggelamkan “sang hati nurani dalam penjara”. Ketika itu terjadi  manusia sudah berada dalam ruang yang gelap gulita. Amat menakutkan bila itu terjadi, semogalah kasih Tuhan tidak membiarkan kegelapan itu terjadi. 
Refleksinya tindakan manusia seperti itu akan selalu melayani hawa nafsunya, yang berakibat semakin jauh dari etika, kebenaran,  kesucian dan ia bersahabat baik bahkan rela menjadi pelayan sang bhuta. Demi persahabatan, ia rela mengorbankan segala yang dimiliki untuk melayani “sang bhuta” itu. Cara berkorban seperti itu disebut yadnya tanpa pengetahuan, dan tanpa obyek yang jelas. Sudah saatnya dipertimbangkan lebih arif lagi berdasar sastra suci dan kesesuaian penerapannya pada jaman ini. Banyak orang berkelakar sering berkelakar menetralisasi kekuatan sang bhuta dengan ritual upakara tertentu, semogala itu benar, namun pada kenyataan yang ada sangatlah berbeda.  sumber Betapa menakutkan cara hidup seperti itu.

Marilah Keluar dari Penjara Sang Bhuta.
Pintu utama yang patut dilalui agar bisa keluar dari penjara Sang Bhuta, adalah penyucian diri lewat air suci dan pengetahuan suci. Setiap hari kita memakai baju, selalu dikotori oleh keringat dan debu maupun kotoran lain yang datang dari luar diri kita. Demikian pula badan kita setiap detik selalu berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai permasalahan, terkadang kita marah, sedih, jengkel dan sebagainya. Kejadian-kejadian itu tidak segera bisa dihilangkan oleh pikiran kita sedang kacau, oleh kerena itu perlu disucikan agar bisa tenang, berseri, agar tumbuh lagi semangat baru untuk hari esok. Air telah berabad-abad digunakan umat manusia untuk mandi membersihkan badan, mencuci pakaian dan lain sebagainya. Demikian pula air suci yang ada di alam maupun air yang disucikan oleh kesidian mantra orang-orang suci, telah terbukti mampu merobah kristal-kristal buruk air yang ada dalam tubuh manusia menjadi teratur. Ketika proses penyucian diri ini dilakukan secara teratur, penuh keyakinan dan tulus ikhlas, maka kesuciannya akan terpancar pada kilauan wajah pelakunya (inner beauty). Apabila didukung penyucian diri dengan melakukan vrata (puasa) secara teratur, menghindari makan daging yang berwarna merah, lebih banyak makan buah-buahan, meditasi secara teratur memohon pengampunan kepada Tuhan, maka system kerja panca indrapun akan semakin tertur dan suci. Refleksi makna dari semua proses penyucian diri itu, manusia mampu menyaring sesuatu yang tidak patut didengar, dilihat dan dirasakan. Walaupun terkadang ada juga getaran negative yang masuk, akan disaring lagi oleh pikiran yang berubah wujudnya menjadi wiweka. Dalam kondisi seperti manusia bisa tenang dan pikirannya cemerlang dalam mengatasi berbagai masalah. Ketika kecemerlangan ini, selalu dipertahankan dan ditingkatkan dengan sadhana suci yang tiada henti, maka kebahagiaan akan selalu berada dalam dirinya.   

Melakukan proses penyucian diri patut dibiasakan, agar menjadi kebiasaan yang benar dan suci menurut perintah Tuhan, bukan membenarkan kebiasaan yang tidak baik dan benar. Refleksi dalam prilaku kehidupan, memiliki rasa malu untuk menggangu, melewati, mengebiri dan lain-lain hak orang lain. Hanya jiwa-jiwa yang kotorlah yang tidak merasa malu dan takut bahkan bangga ketika mampu menguasai, mengeruk hak orang lain dengan penuh ambisi. Orang-orang seperti ini sangat jauh dari tanda-tanda suci yang diberikan tuhan untuk mendidiknya. Pandangan hidupnya selalu membanggakan materi sok berselera tinggi, bahkan ketika berceritera ber-api-api karena merasa kekurangan waktu untuk memamerkan kekayaannya, yang menempatkan orang lain sebagai pendengar yang pasif. Bagaikan kereta api yang berhenti hanya di terminal yang telah ditentukan dirinya sendiri. Ketika sentuhan suci lahir dan tumbuh subur dalam jiwanya, betapa malunya terhadap perlaku konyol yang pernah dilakukan.

 Ketika jiwa ini sudah bersih dan suci, maka sesuatu yang luar biasa bisa dirasakan dalam diri, bukankah itu janji Yang Maha Kuasa terhadap pemujanya yang tulus. Ketika sesuatu yang luar biasa terjadi dalam diri sesorang, dengan motif yang berbeda-beda tergantung kecerdasan masing berdasarkan karmanya. Maka kebahagiaan yang tiada tara dapat dirasakan, akibatnya orang akan selalu meningkatkan kejujuran dan ketulusan  hatinya, untuk mengabdi melayani umat manusia agar orang lain ikut merasakan kasih-Nya. Ketika itulah orang  akan dapat menyaksikan kelahiran Sri Hanoman. “Semogalah”


Guru Sri Hasta Dhala







Tidak ada komentar:

Posting Komentar