Demikian pesatnya perkembangan ilmu
pengetahuan, teknologi dan seni dengan segala kekuatannya, merambah segala
sektor kehidupan dengan berbagai karakternya. Perkembangan ini dimulai dari
Negara maju dengan peradaban pengetahuannya membuat Negara berkembang tunduk
dengan ketidak berdayaannya. Perubahan pola hidup alamiah menjadi pola hidup
material dan konsumtif. Mungkinkah hal ini dihindari ?, nampaknya sangatlah
mustahil. Kecuali menyaring dengan pengetahuan dan kesucian jiwa, walaupun
untuk menempa diri agar memiliki pengetahuan dan kesucian jiwa bukan hal yang
mudah, “sadar” mulai saat inilah jawabannya.
Dampak dari semuanya itu banyak orang
kelabakan menghadapi arus kebudayaan global itu, bahkan nilai-nilai vital yang
menentukan kesejatian hidup terlupakan. Etika-etika luhur yang telah tersusun dalam
bahasa ibu, keyakinan mistis, sastra suci, yang dimaknai oleh para leluhur yang
telah mampu membentuk peradaban suci, kita lupakan bahkan banyak yang telah
terkubur. Walaupun kita tidak mungkin kembali ke masa lalu, namun teramat
penting memaknai nilai-nilai luhur peradaban masa lalu untuk “kejayaan” masa
kini dan masa depan. Refleksi tindakan dari semuanya itu, banyak lahir generasi
yang tidak lagi peduli pada peradaban
luhur masa lalu. Akibatnya terjadi kehilangan arah yang menimbulkan strees sosial
yang semakin banyak. Dampaknya banyak menimbulkan kasus bunuh yang dilakukan secara “sadar” ataupun dengan
cara “tidak sadar”, bahkan mereka merasa “berjaya” pada proses “bunuh diri
sadar” itu. Sesungguhnya semua orang sadar dengan hal itu, misalnya makanan dan
minuman yang sengaja diisi pemanis, pengawet, penyedep dan seterusnya itu,
tetapi bagaimana rakyat mampu mengendalikan peredaran semuanya itu, kecuali
pemerintah melakukan tindakan tegas bila ingin jadi pengayom rakyat.
Disisi lain akibat strees sosial seperti
ini lahir “gerakan anti”, tetapi selama ini belum terdengar “gerakan anti duit”.
Namun yang paling banyak terjadi gerakan bunuh karakter demi kepentingan
tertentu, bukan kompetisi keunggulan melainkan “suryak siu” karena isu-isu dan
janji-janji. Hal ini telah merambah ke segala lini kehidupan, seolah-olah hukum
Karma tidak berlaku lagi dalam kehidupan. Tindakan membubunuh orang bagaikan membunuh
ayam saja, memperkosa anak cucu sendiri dan seterusnya. Betapa memprihatinkan
kondisi moralitas kita sekarang ini, sudah saatnya hentikan saat ini juga
kembaliah ke jalan dharma.
Gerakan “anti” ini sering berkelakar
“pang taen gen” (biar pernah saja
jadi …..?) Kenyataannya hal ini terjadi
jaman sekarang karena bisa didukung oleh kekuatan materi yang mampu mengkondisikan
suara. Karena yang paling penting adalah suara. Setelah “menjadi” yaah wajiblah
hukumnya “mengembalikan”, soal kepentingan rakyat “bisa diatur”,
dilaksanakan atau tidak, itu adalah urusan nanti. Dampaknya banyak pemimpin
setelah mangakhiri masa jabatannya, bukan pulang ke rumah dengan damai namun
masuk ke rumah dinas yang telah disiapkan KPK. Kondisi seperti ini yang
menghiasi Negara kita dewasa ini, membuat krisis kepercayaam rakyat semakin
tajam, merupakan kemiskinan yang paling
buruk terjadi di negeri yang kita cintai
ini.
Ketika kita menyadari permasalahan yang
amat komplek ini, sering disebut “lingkaran setan” yang telah biasa diucapkan. Namun yang paling utama adalah
keluar dari lingkaran itu, membentuk “lingkaran suci” adalah tindakan mulia walaupun
penuh tantangan. Kenyataan yang terjadi bahwa kekuatan lingkaran setan amatlah
kuat menjerat umat manusia, hingga tidak bisa keluar atau memang tidak mau
keluar, atau juga belum menemukan jalan keluarnya, itulah yang terjadi dewasa
ini. Begitulah kekuatan mendung kegelapan menutupi sinar matahari “sang hati
nurani” (atman) kita. Dalam kondisi seperti itu suara sang hati nurani (atman)
tidak terdengar oleh sang jiwa melalui panca indra. Akibatnya tindakannya
selalu dikendalikan oleh kekuatan hasil kerja sama antara panca indra, pikiran
dan hawa nafsunya. Kerjasama ketiga unsur ini menghasilkan kekuatan dahsyat
yang mampu menenggelamkan “sang hati nurani dalam penjara”. Ketika itu terjadi manusia sudah berada dalam ruang yang gelap
gulita. Amat menakutkan bila itu terjadi, semogalah kasih Tuhan tidak
membiarkan kegelapan itu terjadi.
Refleksinya tindakan manusia seperti itu
akan selalu melayani hawa nafsunya, yang berakibat semakin jauh dari etika,
kebenaran, kesucian dan ia bersahabat baik
bahkan rela menjadi pelayan sang bhuta. Demi persahabatan, ia rela mengorbankan
segala yang dimiliki untuk melayani “sang bhuta” itu. Cara berkorban seperti
itu disebut yadnya tanpa pengetahuan, dan tanpa obyek yang jelas. Sudah saatnya
dipertimbangkan lebih arif lagi berdasar sastra suci dan kesesuaian
penerapannya pada jaman ini. Banyak orang berkelakar sering berkelakar
menetralisasi kekuatan sang bhuta dengan ritual upakara tertentu, semogala itu
benar, namun pada kenyataan yang ada sangatlah berbeda. sumber Betapa menakutkan cara hidup seperti
itu.
Marilah
Keluar dari Penjara Sang Bhuta.
Pintu utama yang patut dilalui agar
bisa keluar dari penjara Sang Bhuta, adalah penyucian diri lewat air suci dan
pengetahuan suci. Setiap hari kita memakai baju, selalu dikotori oleh keringat
dan debu maupun kotoran lain yang datang dari luar diri kita. Demikian pula
badan kita setiap detik selalu berinteraksi dengan orang lain dalam berbagai
permasalahan, terkadang kita marah, sedih, jengkel dan sebagainya. Kejadian-kejadian
itu tidak segera bisa dihilangkan oleh pikiran kita sedang kacau, oleh kerena
itu perlu disucikan agar bisa tenang, berseri, agar tumbuh lagi semangat baru
untuk hari esok. Air telah berabad-abad digunakan umat manusia untuk mandi
membersihkan badan, mencuci pakaian dan lain sebagainya. Demikian pula air suci
yang ada di alam maupun air yang disucikan oleh kesidian mantra orang-orang
suci, telah terbukti mampu merobah kristal-kristal buruk air yang ada dalam tubuh manusia menjadi teratur. Ketika
proses penyucian diri ini dilakukan secara teratur, penuh keyakinan dan tulus
ikhlas, maka kesuciannya akan terpancar pada kilauan wajah pelakunya (inner beauty). Apabila didukung penyucian
diri dengan melakukan vrata (puasa)
secara teratur, menghindari makan daging yang berwarna merah, lebih banyak
makan buah-buahan, meditasi secara teratur memohon pengampunan kepada Tuhan,
maka system kerja panca indrapun akan semakin tertur dan suci. Refleksi makna
dari semua proses penyucian diri itu, manusia mampu menyaring sesuatu yang
tidak patut didengar, dilihat dan dirasakan. Walaupun terkadang ada juga
getaran negative yang masuk, akan disaring lagi oleh pikiran yang berubah
wujudnya menjadi wiweka. Dalam kondisi seperti manusia bisa tenang dan
pikirannya cemerlang dalam mengatasi berbagai masalah. Ketika kecemerlangan
ini, selalu dipertahankan dan ditingkatkan dengan sadhana suci yang tiada henti,
maka kebahagiaan akan selalu berada dalam dirinya.
Melakukan proses penyucian diri patut
dibiasakan, agar menjadi kebiasaan yang benar dan suci menurut perintah Tuhan,
bukan membenarkan kebiasaan yang tidak baik dan benar. Refleksi dalam prilaku
kehidupan, memiliki rasa malu untuk menggangu, melewati, mengebiri dan
lain-lain hak orang lain. Hanya jiwa-jiwa yang kotorlah yang tidak merasa malu
dan takut bahkan bangga ketika mampu menguasai, mengeruk hak orang lain dengan
penuh ambisi. Orang-orang seperti ini sangat jauh dari tanda-tanda suci yang
diberikan tuhan untuk mendidiknya. Pandangan hidupnya selalu membanggakan materi
sok berselera tinggi, bahkan ketika berceritera ber-api-api karena merasa
kekurangan waktu untuk memamerkan kekayaannya, yang menempatkan orang lain
sebagai pendengar yang pasif. Bagaikan kereta api yang berhenti hanya di
terminal yang telah ditentukan dirinya sendiri. Ketika sentuhan suci lahir dan
tumbuh subur dalam jiwanya, betapa malunya terhadap perlaku konyol yang pernah
dilakukan.
Ketika jiwa ini sudah bersih dan suci, maka
sesuatu yang luar biasa bisa
dirasakan dalam diri, bukankah itu janji Yang Maha Kuasa terhadap pemujanya
yang tulus. Ketika sesuatu yang luar biasa terjadi dalam diri sesorang, dengan
motif yang berbeda-beda tergantung kecerdasan masing berdasarkan karmanya. Maka
kebahagiaan yang tiada tara dapat dirasakan, akibatnya orang akan selalu
meningkatkan kejujuran dan ketulusan
hatinya, untuk mengabdi melayani umat manusia agar orang lain ikut
merasakan kasih-Nya. Ketika itulah orang akan dapat menyaksikan kelahiran Sri Hanoman.
“Semogalah”
Guru Sri Hasta Dhala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar