Januari 18, 2013

MEMBERSIHKAN DAN MENYUCIKAN DIRI ADALAH KEWAJIBAN


Ashram Vrata Wijaya, Jalan Siulan Gang Nusa Indah IV/4 Denpasar Timur.

Ditengah-tengah hiruk pikuknya kesibukan masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan, terutama yang paling menonjol adalah kebutuhan ekonomi, sehingga kelihatan seolah-olah tidak lagi ada siang dan malam.  Akibatnya ketenangan istirahat baik siang maupun di malam hari amat terganggu, bukan saja bagi  orang lain sekitarnya, tetapi bagi pelakunya sendiri. Banyak orang  sampai ia tidur di atas pekerjaannya sendiri, di bak mobil dagangannya, ada juga yang tidur di emper toko menunggu giliran pekerjaan, dan ada yang mengubah waktu tidurnya yang semestinya sesuai aturan alam tidur di malam hari, tetapi dilakukan di siang hari. Akibatnya keluarga lain yang ada di rumah itu harus selalu berhati-hati agar tidak menggangu orang tuanya yang semalam suntuk harus bekerja. Gangguan lain yang mengakibat banyak terganggu adalah desingan suara mobil, sepeda motor, suara klakson tiada henti, kemacetan lalu-lintas, diberbagai jurusan dan itu terjadi dimana-mana setiap hari. Hiruk pikuk itu terjadi setiap hari terutama dipusat-pusat kegiatan perekonomian, yang mengakibatkan timbulnya stress sosial yang berkepanjangan. Akibatnya bila ada senggolan sedikit saja orang sering tidak mampu mengontrol emosinya, sehingga setiap saat sering berujung pada perbuatan tidak terpuji. Oleh karena itu bila kita selalu berhadapan dengan masalah itu, mesti diupayakan menjaga keselamatan diri, yang patut selalu diupayakan bagi setiap orang.  Salah satu upaya yang patut dilakukan adalah dengan menumbuhkan rasa “kesadaran dan kesabaran” yang  merupakan salah satu jawaban untuk mencapai “keselamatan”. Keselamatan mesti dimulai dari berpikir jernih dari dalam diri sendiri, agar mampu mengetahui dan mengendalikan mana yang bermakna dan mana yang membahayakan.


Kesadaran seperti itu wajib  ditumbuhkan, dipelihara, serta terus menerus dipupuk secara bersama-sama, karena memang hal itu merupakan kebutuhan bersama. Kemudian timbul  pertanyaan pupuk apa yang bagus dipakai untuk menyuburkan kesadaran itu, pupuk itu tiada lain adalah ajaran suci yang telah digariskan oleh “Guru suci” yang telah diberkati kuasa oleh Yang Maha Kuasa, agar prilaku terarah menjadi benar dan suci untuk mencapai kedamaian. Ketika prilaku telah terlatih dan dengan baik melalui etika dan sopan santun seperti itu, maka rasa kasih dan damai selalu akan mengalir dalam dirinya.  Aliran rasa kasih dan damai akan semakin besar dan semakin kuat, ketika wadahnya juga besar, bersih dan suci. Untuk membuat dan memiliki  wadah agar menjadi besar, bersih dan suci, jawabannya adalah mengenal dan melakukan kewajiban yang tulus terhadap upaya-upaya memperbesar, membersihkan dan juga menyucikan dengan penuh keyakinan dan ketulusan.

Wadah itu tidak lain adalah badan dan jiwa, agar dia menjadi besar, bersih, dan suci sudah merupakan kewajiban bagi setiap orang yang memiliki badan untuk “membersihkan dan menyucikan” setiap saat, sehingga akan nampak indah, cantik dan ganteng. Setiap orang di dunia ini secara alami, tidak terkecuali pasti ingin cantik dan ganteng atau setidak-tidaknya berupaya agar kelihatan cantik dan ganteng. Oleh karenanya tidak sedikit dana yang dikeluarkan untuk memperindah penampilannya. Mulai dari busana, mike up, cosmetic, mode rambut, operasi plastic, assesories dan lain sebagainya. Dari kebutuhan ini melahirkan peluang kerja dan bisnis yang luar biasa. Para ilmuwan mengkaji kebutuhan itu serta mengarahkan kompetensinya dibidang ini sejak ribuan tahun lamanya. Dari berbagai macam penelitian tentang sifat-sifat bahan, teknik pengolahan, serta cara mempergunakan produk dengan segala resikonya telah ditemukan. Mulai dari cara tradisonal yang digunakan oleh kaum bangsawan, namun sekarang telah diproduksi melalui teknologi canggih dan dapat digunakan oleh seluruh umat manusia.   Produksi alat-alat kecantikan telah menjadi asset besar yang membentuk perekonomian dunia. Dilihat dari sudut pandang seni budaya kecantikan merupakan refleksi identitas yang menjadi kebanggan suatu Negara dan bangsa, oleh karenanya selalu digali, dipelihara, dikembangkan agar produksinya bisa bersaing dipasaran dunia.

Kebanggan, dan harga diri, serta identitas serupa menjadi gaya hidup (life style) yang tidak bisa dihindari, namun disisi lain menimbulkan gaya hidup konsumtif yang tak terhindarkan.   Itu artinya menghias diri adalah kebanggaan, yang berpengaruh besar terhadap martabat dan harga diri, dalam pergaulan. Bahkan yang berkembang amat semarak sekarang  adalah seni tatto yaitu seni hias yang tergambar langsung secara permanen di badan, dengan berbagai macam motif dan warna-wani yang amat indah. Dari kebutuhan akan identitas diri ini melalhirkan ribuan seniman tatto di dunia ini dengan hasil karya yang demikian indahnya. Dampak upaya menghias diri secara berlebihan, disisi lain telah banyak memakan korban akibat  terjebak mode dan bujuk rayu indahnya penyajian iklan yang mengiurkan, dan juga kesalahan yang diakibatkan penggunaan yang tidak cocok dengan kondisi kulit, atau segaja dipalsukan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Dibalik upaya umat manusia untuk mempercatik dan memperindah penampilannya seperti yang diuraikan di atas, melahirkan seni budaya yang berbasis material yang memberi dampak yang luar biasa pada kehidupan manusia dalam arti luas. Berbagai keahlian bisa muncul dari kegiatan seni budaya itu. Ketika kekuatan arus seni budaya dan material mengikat dan seterusnya membelit kehidupan ini, maka eksistensi menghias penampilan akan berubah menjadi raksasa yang amat menakutkan. Banyak kasus yang telah terjadi ketika muka orang jadi hancur karena oprasi atau juga hancur karena kesalahan obat-obat-obatan. Barangkali manusia belum diberi hak untuk mengubah ciptaan-Nya, oleh karena itu ada hal yang lebih mulia yang patut dilakukan adalah memelihara dengan cara menghias “Sang Jiwa” di dalam diri dengan penuh keyakinan dan kepercayaan diri, agar menjadi bersinar terang dan jernih. Hiasan jiwa dan raga yang paling utama adalah perbuatan baik dan mulia, ketika itu terjadi inilah yang menyentuh rasa simapti orang lain yang melihatnya.

Menghias Sang Jiwa dengan perbuatan baik dan mulia adalah wujud pemberian energi bersih dan suci. Agar energy suci dapat diserap dengan baik oleh Sang Jiwa, diperlukan pengetahuan, dan tindakan yang tertatur dan terarah. Pengetahuan apa yang bisa mengarahkan?, jawabannya tiada lain adalah pengetahuan suci yang mendamaikan,  yang didalamnya telah tertera tatacara pengendalian diri yang amat teratur, misalnya: melalui penyucian diri dengan air suci, meminum air suci, latihan pengendalian diri yang teratur dan dituntun oleh “Guru Suci Penuntun”. Ketika prose situ telah terlewati, maka gerak-langkah panca indra, pikiran dan jiwa akan sampai pada sumber “Kesejahtraan dan Kedamaian” itu sendiri. Ketika prilaku itu mampu berhubungan dengan sumbernya, sudah pasti jiwa dan raga akan selalu dialiri oleh kasih sayang dan kedamaian-Nya. Ketika hal itu dirasakan dalam jiwa merupakan obat luar biasa, yang menyembuhkan segala kegelisahan jiwa yang diakibatkan oleh kebutaan itu sendiri.

Pertanyaan yang sering muncul adalah   mampukah prilaku itu menemukan sumber-Nya, jawabannya adalah pasti, karena itu adalah hukum sebab dan akibat (hukum Karma) yang tak terhindarkan. Persoalannya adalah orang sering memikirkan puncak gunung yang tinggi ketika ia ingin mendaki, bukan memulai mendakinya. Ketika kaki dijalankan dan diarahkan ke puncak gunung dengan penuh keyakinan, mencari jalan, mencari pengantar pada orang yang sudah biasa ke puncak gunung yang akan didaki.

Hal itu sangat penting dan menjadi “salah besar” apabila mencari pengantar pada orang yang belum pernah sama sekali menaiki gunung yang menjadi tujuan pendakian. Bagaimana dia akan menemukan jalan, belum lagi kesulitan-kesulitan yang perlu diatasi melalui persiapan yang matang untuk mencapai puncak gunung yang akan dituju. Apabila telah menemukan pengantar yang tepat, siapkan tenaga dan sarana penunjang lainnya untuk mengatasi dingin, panas, lelah, pegel, haus, lapar dan juga obat-obatan untuk mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi. Dan yang paling penting dalam perjalanan yang patut disadari adalah: sipendaki patut selalu dekat dan mengikuti petunjuk-petunjuk  pengantarnya, agar tidak salah jalan, terjebak pada masalah-masalah gaib dan keyakinan setempat serta kesulitan-kesulitan lain yang menyebabkan tersesat dalam perjalanan.

Menyiapkan tenaga dan sarana adalah “kewajiban pendaki”, agar perjalanan mejadi lancar dan mencapai tujuan. Ketika kaki dijalankan dan melangkah demi langkah menaiki terjalnya tebing-tebing, lebatnya hutan, licinnya jalan ketika hujan, membuat nafas tersengal-sengal, keringat mengalir deras, haus dan dahaga semakin keras. Itulah wujud masalah yang menguji pikiran dan  konsentrasi, apakah pikiran mampu menundukkan rasa capek, dahaga, dan kesulitan lainnya. Disitulah kekuatan konsentrasi sebagai kendalinya. Ketika ia sudah sadar, maka suara angin, suara burung, indahnya gerak dedaunan,  aneka ragam bentuk karang, suara gesekan kayu, serta desiran embun dan lain-lainnya memberikan dorongan semangat yang meringankan langkah kaki menuju puncak idaman. Hanya orang-orang yang berani mendakilah yang menghadapi berbagai kesulitan yang sebenarnya, bukan teori kesulitan mendaki gunung, dengan kata lain bila ingin merasakan manisnya buah durian dan akibat yang ditimbulkan, jawabannya hanyalah makan durian itu sendiri, dan ketika tahu akibatnya, maka pikiran wajib mengendalikan agar badan tidak sakit akibat kelebihan porsi makannya.

Ketika kaki telah melangkah dan mampu membawa badan ke “puncak idaman”, saat itulah “Sang Jiwa mencapai kebebasan”, rasa damai dan bahagia terjadi dengan sendirinya. Karena ruang itu adalah “ruang damai” dan ketika kembali lagi kealam bawah pengalaman itu akan mejadi pengetahuan “pengendali”, artinya seluruh jiwa dan raga telah mengalami proses pemberdayaan agar sampai di puncak. Tentu pengalaman itu menjadi menarik, dan berguna bila dengan senang hati, dan tulus ikhlas diberikan kepada pendaki-pendaki berikutnya.

Ketika hal itu terjadi pada setiap orang, itulah wujud penyucian diri melalui prilaku yang tertuntun, yang membentuk jiwa yang besar, bersih dan suci. Jiwa-jiwa seperti itulah yang selalu dialiri rasa kasih sayang yang membengun kebahagaiaan dan kedamaian umat manusia. Melalui jiwa yang besar, bersih dan sucilah mengalir kasih-Nya yang bervibrasi langsung, walaupun sering tidak diketahui oleh orang-orang pada umumnya. Barangkali itulah “Wujud Keterbukaan dan Ketertutupan-Nya” sendiri. Untuk itu marilah bersama-sama mendaki ke puncak gunung untuk menemukan wujud-Nya yang terbuka. Ketika wujud itu terbuka, maka manusia tidak akan lagi bermain-main dengan hal-hal yang merugikan dirinya yang sejati (“maya”). Orang seperti inilah yang didambakan dan dicari oleh umat manusia sekarang di dunia ini, yang selalu gelisah untuk menemukan pelindungnya menuju alam kedamaian dan kebahagiaan itu sendiri. 
Semogalah……..damai.     

Menghasilkan beragam barang-barang-barang dan jasa profesi yang mampu menjadi produk industry.  Bagi kalangan tertentu kecantikan dan kegantengan adalah modal alami dan utama yang patut dipelihara untuk menghasilkan banyak uang, terutama bagi kalangan artis maupun dunia entertainment lainnya. Dalam kontek percaturan ini kecantikan dan kegantengan  itu dimuliakan, dibanggakan, diagungkan, dikompetisikan, diperebutkan, diperdagangkang, dinikmati dan seterusnya, sehingga menimbulkan berbagai persoalan. Ketika persoalan yang dihadapi dalam percaturan itu dikuasai oleh hokum material, pada umumnya kecantikan  yang patut dijaga dan disucikan terabaikan menjadi persoalan persoalan “kenikmatan”. Batas-batas sacral dan profan terabaikan, jadilah kecantikan dan kegantengan itu untuk memperlancar tujuan politik dan bisnis maupun yang lainnya. Dia diperankan sebagai penyaji kenikmatan sesaat, dan terikat dengan perjanjian material bukan kasih sayang.  Ketika itulah kecantikan dan keganengan menjadi sumber malapetaka, karena keselamatan dan kedamaian telah meningggalkannya jauh-jauh.

Bahkan dalam kegantengan merupan modal utama, walaupun dari segi ekting belum seberapa.  Membersihkan bukan saja diartikan bersih dalam arti visual, namun yang lebih bermakna adalah dalam artian perbuatan yang bermakna.    

terhadap wadah itu. apabila dipelihara dengan kesadaran dan ketulusan Agar rasa damai selelu mengalir dalam diri maka akan mengalir rasa “damai” dalam dirinya.   Dengan prilaku yang tertuntun, kehidupan senantiasa akan menjadi teratur untuk mencapai keseimbangan jiwa dan raga.  melalui diri sendiri, orang lain juga penting dan kita juga penting, oleh karena itulah rasa toleransi dan solideritas sangat penting ditumbuhkan dan dipelihara secara baik dalam diri agar menjadi manusia yang “berwatak susila”.

Kelompok manusia susila seperti ini sekarang masih sedikit sekali tersisa, akibat kepungan pergaulan bebas.  Namun berkat Kuasa Tuhan telah banyak terpanggil jiwa-jiwa yang patut diselamatkan agar menjadi manusia berguna dan tulus agar bisa beryadnya demi kebajikan. Di tengah-tengah arus seperti inilah manusia yang berwatak susila berjuang keras menghadapi situasi yang membelenggunya. Dia sering merasa terjepit, terpinggirkan, terhina, dibenci, bahkan seringkali dianggap berpura-pura, dimata-matai dengan penuh tudingan yang bukan-bukan dan lain sebagainya. Bagi orang yang belajar menuju kesadaran  

 Walaupun demikian masih lebih sedikit jumlahnya dibandingkan jumlah orang yang berwatak asusila. Akibatnya dia akan selalu membenarkan kebiasaannya. Seorang pemabuk yang dibenarkan “gaya mabuknya”, preman yang biasa membunuh, perbuatan membunuh orang dianggap benar, oleh karenanya hukum karma tidak berlaku baginya. Yang menjadi kebanggaan dan dihormati kelompoknya adalah “keberaniaannya membunuh”. Seorang penjudi, menganggap tindakannya yang benar, sehingga di tempat sucipun melakukan judi, atau dengan dalih membangun tempat suci melakukan perjudian, dan lain sebagainya. Kebiasan seperti itu dianggap benar, sesungguhnya adalah “pembenaran” untuk melindungi niat yang dikendalikan nafsu angkaranya sendiri, dan kelompok ini sangat cepat berpengaruh sehingga memiliki banyak pendukung.

Berbeda dengan orang beretika susila sangat sedikit populasinya, oleh karena itu sulit menemukan teman yang bisa diajak “bersungguh-sungguh mendiskusikan kebajikan” agar bisa keluar dari jeratan lingkaran setan yang amat membahayakan “gerak langkah suara sang hati nurani”. Oleh karena itu vibrasi tata susila cepat ditelan kabut nafsu, kesombongan dan egoisme, yang menciptakan manusia-manusia “kosong jati diri”. Dampaknya ketika berdiskusi membicarakan hak material akan menjadi sangat bergaerah dan berapi-api, dan sebaliknya bila membicarakan kewajiban yang mesti diemban menjadi amat sepi, bahkan langsung tidur di ruang rapat, apalagi memikirkan kemalangan nasib saudara sendiri. Orang-orang seperti inilah yang, menguasai dunia sekarang ini, sehingga menghasilkan perubahan “peradaban menjadi pembiadaban”. Ketika kita sadari terjadi  kondisi jaman seperti ini, bangun dan bangkitlah membentuk peradaban yang penuh susila, sopan santun, dan  penuh toleransi. Pembentukan peradaban itu dapat dimulai dari penyucian diri secara terus menerus, melalui ajaran suci dan Maha Kasih Tuhan, agar jiwa kita semakin halus dan sensitive sehingga mampu mendengarkan suara hati sebagai Sang Penuntun yang hadir didalam jiwa kita masing-masing.

yang  bahwa kita memiliki hak dan kewajiban yang sama di bumi ini dan di jalan raya yang sudah penuh sesak ini. Merasa paling penting diantara pengguna jalan raya perlu dihindari, kecuali orang sakit yang berjuang untuk mencari pertolongan menuju rumah sakit (Ambulance).

Akibat rendahnya kesadaran yang ada dewasa ini, hal-hal seperti itu sangat jarang diperhatikan, bahkan orang sakit sering terpanggang dalam kemacetan. Sangat berbeda dengan negara maju, ketika terjadi kecelakaan lalu-lintas berakibat besar terhadap kebijakan yang ditetapkan. Tetapi kita belum memiliki kesadaran untuk menghormati betapa “berharganya nyawa” orang lain ketika kesalahan diakibatkan prilaku buruk kita berlalu lintas. Bukan hanya mencelakai diri sendiri tetapi sering kali mengakibatkan orang lain kena dampaknya. Banyak sekali prilaku buruk yang tak terhindarkan di jalan raya, seperti sibuk sms an saat berkendaraan, ugal-ugalan, kebut-kebutan, mabuk berat, ngantuk ditambah lagi berseliweran gerobak dagang rujak, ketupat, pemulung, pedagang bakso, dan nakalnya lagi gerobak ditarik dan dibonceng sepeda motor dibiarkan begitu saja tidak terurus oleh pihak yang berwajib. Sudah saatnya pemerintah mengambil langkah stop sampai disini, mulailah dengan “peradaban yang teratur” itulah kewajiban pemerintah.

Tidak hanya study banding ke luar negeri saja, tetapi harus diterapkan yang patut ditiru dari negara maju, walaupun tantangan  untuk mencapai tujuan, tidaklah ringan tetapi wajib diperjuangkan. Bukan diperbaikai saat memerlukan suara saja, tetapi proram berlanjut yang terdata secara holistic.  Itulah resiko ketika berani “merebut jadi pemimpin”.

Kesadaran dan Kesabaran
Dibalik hiruk pikuk perekonomian dan politik yang menjadi raja dewasa ini, terjadi  gema semangat dan kesadaran spiritual. Setiap malam pura-pura besar dan tempat-tempat suci selalu ramai dikunjunggi para pemedek, bahkan amat sulit menemukan tempat suci yang betul-betul sepi di malam hari saat ini.  Berkaca dari kegaerahan itu nampaknya masyarakat sangat bersemangat untuk memperoleh “ketenangan dan kebahagiaan”. Barangkali refleksi dari hiruk pikuk yang ada di luar diri kita, lebih ampuh  mendidik agar kita sadar terhadap kebutuhan jiwa dan “Sang Hati Nurani” itu sendiri. Barangkali saat ini telah terbuka kesadaran terhadap kehausan jiwa dan hati nurani untuk diisi energy suci yang dapat membahagiakannya. Enerji itu nampaknya tidak bisa dibeli toko atau di supermarket yang menjamur dan amat mendesak kehidupan pasar tradisional yang penuh toleransi itu. Tetapi untuk mendapatkannya hanya bisa diperjuangkan dengan sadhana kesadaran terhadap hakekat “sang diri sejati”. Salah satu sadhana suci yang telah digariskan weda adalah pemujaan kepada Tuhan atau bisa melalui manifestasinya. Bali amat dikenal dengan sebutan pulau seribu pura, itu artinya para suci leluhur kita telah menciptakan budaya kesucian yang amat mengagumkan. Kesemuanya teratur dalam wujud prilaku terhadap alam, manusia dan Tuhan. Melalui artefak suci bernilai historis ini, mesti dicerna sebagai upaya mencerdaskan kehidupan spiritual kita, mengubah prilaku buruk menjadi prilaku baik dan benar serta mampu membentuk manusia “berwatak dewata”.

Namun akibat kecerobohan yang terjadi memandang asset budaya suci itu sebagai asset ekonomi yang dijual secara sembrono. Akibat kesembronoan itu sering ditebus dengan upacara permohonan maaf yang amat besar, yang kemudian diulang lagi dalam bentuk kesembronoan yang lainnya. Apa artinya upacara bila tidak disertai dengan perubahan prilaku, yang mesti dibangun melalui kesadaran dan tindakan suci. Bukankah semuanya itu mulai dari tindakan manusia, maka lakukan ritual sederhana dan perbesarlah tindakan dengan pengetahuan suci. Ketika itu bisa dilaksanakan, maka alam dan kesucian jiwa akan mulai tumbuh dan bersinar dan member kesejahtraan kepada kita semua.
bukan hanya dijual untuk kepentingan pariwisata dan keuntungan ekonomi seperti sekarang ini. Budaya apakah yang akan diwariskan oleh peradaban kita, yang sering disebut peradaban ilmu pengetahuan dan teknologi seperti sekarang ini?.

Para wisatawan mengumi kebesaran spiritual kita, dengan meronggoh dolarnya karena telah mendapatkan kesejukan jiwanya       


Guru Sri Hasta Dhala

Tidak ada komentar:

Posting Komentar