Ashram Vrata
Wijaya, Jalan Siulan Gang Nusa Indah IV/4 Denpasar Timur.
Ditengah-tengah hiruk pikuknya
kesibukan masyarakat memenuhi berbagai kebutuhan, terutama yang paling menonjol
adalah kebutuhan ekonomi, sehingga kelihatan seolah-olah tidak lagi ada siang
dan malam. Akibatnya ketenangan
istirahat baik siang maupun di malam hari amat terganggu, bukan saja bagi orang lain sekitarnya, tetapi bagi pelakunya
sendiri. Banyak orang sampai ia tidur di
atas pekerjaannya sendiri, di bak mobil dagangannya, ada juga yang tidur di
emper toko menunggu giliran pekerjaan, dan ada yang mengubah waktu tidurnya
yang semestinya sesuai aturan alam tidur di malam hari, tetapi dilakukan di siang
hari. Akibatnya keluarga lain yang ada di rumah itu harus selalu berhati-hati
agar tidak menggangu orang tuanya yang semalam suntuk harus bekerja. Gangguan
lain yang mengakibat banyak terganggu adalah desingan suara mobil, sepeda motor,
suara klakson tiada henti, kemacetan lalu-lintas, diberbagai jurusan dan itu
terjadi dimana-mana setiap hari. Hiruk pikuk itu terjadi setiap hari terutama dipusat-pusat
kegiatan perekonomian, yang mengakibatkan timbulnya stress sosial yang
berkepanjangan. Akibatnya bila ada senggolan sedikit saja orang sering tidak
mampu mengontrol emosinya, sehingga setiap saat sering berujung pada perbuatan
tidak terpuji. Oleh karena itu bila kita selalu berhadapan dengan masalah itu, mesti
diupayakan menjaga keselamatan diri, yang patut selalu diupayakan bagi setiap
orang. Salah satu upaya yang patut dilakukan adalah dengan menumbuhkan
rasa “kesadaran dan kesabaran” yang merupakan salah satu jawaban untuk mencapai “keselamatan”. Keselamatan mesti dimulai dari berpikir jernih dari
dalam diri sendiri, agar mampu mengetahui dan mengendalikan mana yang bermakna
dan mana yang membahayakan.
Kesadaran seperti itu wajib ditumbuhkan, dipelihara, serta terus menerus
dipupuk secara bersama-sama, karena memang hal itu merupakan kebutuhan bersama.
Kemudian timbul pertanyaan pupuk apa
yang bagus dipakai untuk menyuburkan kesadaran itu, pupuk itu tiada lain adalah
ajaran suci yang telah digariskan oleh “Guru suci” yang telah diberkati kuasa
oleh Yang Maha Kuasa, agar prilaku terarah menjadi benar dan suci untuk
mencapai kedamaian. Ketika prilaku telah terlatih dan dengan baik melalui etika
dan sopan santun seperti itu, maka rasa kasih dan damai selalu akan mengalir
dalam dirinya. Aliran rasa kasih dan
damai akan semakin besar dan semakin kuat, ketika wadahnya juga besar, bersih
dan suci. Untuk membuat dan memiliki
wadah agar menjadi besar, bersih dan suci, jawabannya adalah mengenal
dan melakukan kewajiban yang tulus terhadap upaya-upaya memperbesar, membersihkan
dan juga menyucikan dengan penuh keyakinan dan ketulusan.
Wadah itu tidak lain adalah badan dan
jiwa, agar dia menjadi besar, bersih, dan suci sudah merupakan kewajiban bagi setiap
orang yang memiliki badan untuk “membersihkan dan menyucikan” setiap saat,
sehingga akan nampak indah, cantik dan ganteng. Setiap orang di dunia ini secara
alami, tidak terkecuali pasti ingin cantik dan ganteng atau setidak-tidaknya
berupaya agar kelihatan cantik dan ganteng. Oleh karenanya tidak sedikit dana yang
dikeluarkan untuk memperindah penampilannya. Mulai dari busana, mike up, cosmetic, mode rambut, operasi plastic,
assesories dan lain sebagainya. Dari kebutuhan ini melahirkan peluang kerja dan
bisnis yang luar biasa. Para ilmuwan mengkaji kebutuhan itu serta mengarahkan
kompetensinya dibidang ini sejak ribuan tahun lamanya. Dari berbagai macam
penelitian tentang sifat-sifat bahan, teknik pengolahan, serta cara mempergunakan
produk dengan segala resikonya telah ditemukan. Mulai dari cara tradisonal yang
digunakan oleh kaum bangsawan, namun sekarang telah diproduksi melalui
teknologi canggih dan dapat digunakan oleh seluruh umat manusia. Produksi alat-alat kecantikan telah menjadi
asset besar yang membentuk perekonomian dunia. Dilihat dari sudut pandang seni
budaya kecantikan merupakan refleksi identitas yang menjadi kebanggan suatu
Negara dan bangsa, oleh karenanya selalu digali, dipelihara, dikembangkan agar
produksinya bisa bersaing dipasaran dunia.
Kebanggan, dan harga diri, serta
identitas serupa menjadi gaya hidup (life
style) yang tidak bisa dihindari, namun disisi lain menimbulkan gaya hidup
konsumtif yang tak terhindarkan. Itu
artinya menghias diri adalah kebanggaan, yang berpengaruh besar terhadap
martabat dan harga diri, dalam pergaulan. Bahkan yang berkembang amat semarak
sekarang adalah seni tatto yaitu seni hias yang tergambar
langsung secara permanen di badan, dengan berbagai macam motif dan warna-wani
yang amat indah. Dari kebutuhan akan identitas diri ini melalhirkan ribuan
seniman tatto di dunia ini dengan hasil karya yang demikian indahnya. Dampak
upaya menghias diri secara berlebihan, disisi lain telah banyak memakan korban
akibat terjebak mode dan bujuk rayu indahnya
penyajian iklan yang mengiurkan, dan juga kesalahan yang diakibatkan penggunaan
yang tidak cocok dengan kondisi kulit, atau segaja dipalsukan oleh pihak-pihak
yang tidak bertanggung jawab.
Dibalik upaya umat manusia untuk
mempercatik dan memperindah penampilannya seperti yang diuraikan di atas, melahirkan
seni budaya yang berbasis material yang memberi dampak yang luar biasa pada
kehidupan manusia dalam arti luas. Berbagai keahlian bisa muncul dari kegiatan
seni budaya itu. Ketika kekuatan arus seni budaya dan material mengikat dan
seterusnya membelit kehidupan ini, maka eksistensi menghias penampilan akan
berubah menjadi raksasa yang amat menakutkan. Banyak kasus yang telah terjadi
ketika muka orang jadi hancur karena oprasi atau juga hancur karena kesalahan
obat-obat-obatan. Barangkali manusia belum diberi hak untuk mengubah
ciptaan-Nya, oleh karena itu ada hal yang lebih mulia yang patut dilakukan
adalah memelihara dengan cara menghias “Sang Jiwa” di dalam diri dengan penuh
keyakinan dan kepercayaan diri, agar menjadi bersinar terang dan jernih. Hiasan
jiwa dan raga yang paling utama adalah perbuatan baik dan mulia, ketika itu
terjadi inilah yang menyentuh rasa simapti orang lain yang melihatnya.
Menghias Sang Jiwa dengan perbuatan
baik dan mulia adalah wujud pemberian energi bersih dan suci. Agar energy suci
dapat diserap dengan baik oleh Sang Jiwa, diperlukan pengetahuan, dan tindakan
yang tertatur dan terarah. Pengetahuan apa yang bisa mengarahkan?, jawabannya
tiada lain adalah pengetahuan suci yang mendamaikan, yang didalamnya telah tertera tatacara pengendalian
diri yang amat teratur, misalnya: melalui penyucian diri dengan air suci,
meminum air suci, latihan pengendalian diri yang teratur dan dituntun oleh
“Guru Suci Penuntun”. Ketika prose situ telah terlewati, maka gerak-langkah
panca indra, pikiran dan jiwa akan sampai pada sumber “Kesejahtraan dan Kedamaian” itu sendiri. Ketika prilaku itu mampu
berhubungan dengan sumbernya, sudah pasti jiwa dan raga akan selalu dialiri
oleh kasih sayang dan kedamaian-Nya. Ketika hal itu dirasakan dalam jiwa
merupakan obat luar biasa, yang menyembuhkan segala kegelisahan jiwa yang
diakibatkan oleh kebutaan itu sendiri.
Pertanyaan yang sering muncul adalah mampukah prilaku itu menemukan sumber-Nya,
jawabannya adalah pasti, karena itu adalah hukum sebab dan akibat (hukum Karma)
yang tak terhindarkan. Persoalannya adalah orang sering memikirkan puncak
gunung yang tinggi ketika ia ingin mendaki, bukan memulai mendakinya. Ketika
kaki dijalankan dan diarahkan ke puncak gunung dengan penuh keyakinan, mencari
jalan, mencari pengantar pada orang yang sudah biasa ke puncak gunung yang akan
didaki.
Hal itu sangat penting dan menjadi “salah
besar” apabila mencari pengantar pada orang yang belum pernah sama sekali
menaiki gunung yang menjadi tujuan pendakian. Bagaimana dia akan menemukan
jalan, belum lagi kesulitan-kesulitan yang perlu diatasi melalui persiapan yang
matang untuk mencapai puncak gunung yang akan dituju. Apabila telah menemukan
pengantar yang tepat, siapkan tenaga dan sarana penunjang lainnya untuk
mengatasi dingin, panas, lelah, pegel, haus, lapar dan juga obat-obatan untuk
mengantisipasi hal-hal yang mungkin akan terjadi. Dan yang paling penting dalam
perjalanan yang patut disadari adalah: sipendaki
patut selalu dekat dan mengikuti petunjuk-petunjuk pengantarnya,
agar tidak salah jalan, terjebak pada masalah-masalah gaib dan keyakinan
setempat serta kesulitan-kesulitan lain yang menyebabkan tersesat dalam
perjalanan.
Menyiapkan tenaga dan sarana adalah “kewajiban
pendaki”, agar perjalanan mejadi lancar dan mencapai tujuan. Ketika kaki dijalankan
dan melangkah demi langkah menaiki terjalnya tebing-tebing, lebatnya hutan,
licinnya jalan ketika hujan, membuat nafas tersengal-sengal, keringat mengalir
deras, haus dan dahaga semakin keras. Itulah wujud masalah yang menguji pikiran
dan konsentrasi, apakah pikiran mampu
menundukkan rasa capek, dahaga, dan kesulitan lainnya. Disitulah kekuatan
konsentrasi sebagai kendalinya. Ketika ia sudah sadar, maka suara angin, suara
burung, indahnya gerak dedaunan, aneka
ragam bentuk karang, suara gesekan kayu, serta desiran embun dan lain-lainnya
memberikan dorongan semangat yang meringankan langkah kaki menuju puncak
idaman. Hanya orang-orang yang berani mendakilah yang menghadapi berbagai
kesulitan yang sebenarnya, bukan teori kesulitan mendaki gunung, dengan kata
lain bila ingin merasakan manisnya buah durian dan akibat yang ditimbulkan,
jawabannya hanyalah makan durian itu sendiri, dan ketika tahu akibatnya, maka
pikiran wajib mengendalikan agar badan tidak sakit akibat kelebihan porsi
makannya.
Ketika kaki telah melangkah dan mampu
membawa badan ke “puncak idaman”, saat itulah “Sang Jiwa mencapai kebebasan”,
rasa damai dan bahagia terjadi dengan sendirinya. Karena ruang itu adalah
“ruang damai” dan ketika kembali lagi kealam bawah pengalaman itu akan mejadi pengetahuan
“pengendali”, artinya seluruh jiwa dan raga telah mengalami proses pemberdayaan
agar sampai di puncak. Tentu pengalaman itu menjadi menarik, dan berguna bila
dengan senang hati, dan tulus ikhlas diberikan kepada pendaki-pendaki
berikutnya.
Ketika hal itu terjadi pada setiap
orang, itulah wujud penyucian diri melalui prilaku yang tertuntun, yang
membentuk jiwa yang besar, bersih dan suci. Jiwa-jiwa seperti itulah yang
selalu dialiri rasa kasih sayang yang membengun kebahagaiaan dan kedamaian umat
manusia. Melalui jiwa yang besar, bersih dan sucilah mengalir kasih-Nya yang
bervibrasi langsung, walaupun sering tidak diketahui oleh orang-orang pada
umumnya. Barangkali itulah “Wujud
Keterbukaan dan Ketertutupan-Nya” sendiri. Untuk itu marilah bersama-sama
mendaki ke puncak gunung untuk menemukan wujud-Nya yang terbuka. Ketika wujud
itu terbuka, maka manusia tidak akan lagi bermain-main dengan hal-hal yang
merugikan dirinya yang sejati (“maya”). Orang seperti inilah yang didambakan
dan dicari oleh umat manusia sekarang di dunia ini, yang selalu gelisah untuk
menemukan pelindungnya menuju alam kedamaian dan kebahagiaan itu sendiri.
Semogalah……..damai.
Menghasilkan beragam
barang-barang-barang dan jasa profesi yang mampu menjadi produk industry. Bagi kalangan tertentu kecantikan dan
kegantengan adalah modal alami dan utama yang patut dipelihara untuk
menghasilkan banyak uang, terutama bagi kalangan artis maupun dunia
entertainment lainnya. Dalam kontek percaturan ini kecantikan dan kegantengan itu dimuliakan, dibanggakan, diagungkan,
dikompetisikan, diperebutkan, diperdagangkang, dinikmati dan seterusnya,
sehingga menimbulkan berbagai persoalan. Ketika persoalan yang dihadapi dalam
percaturan itu dikuasai oleh hokum material, pada umumnya kecantikan yang patut dijaga dan disucikan terabaikan
menjadi persoalan persoalan “kenikmatan”. Batas-batas sacral dan profan
terabaikan, jadilah kecantikan dan kegantengan itu untuk memperlancar tujuan
politik dan bisnis maupun yang lainnya. Dia diperankan sebagai penyaji
kenikmatan sesaat, dan terikat dengan perjanjian material bukan kasih
sayang. Ketika itulah kecantikan dan
keganengan menjadi sumber malapetaka, karena keselamatan dan kedamaian telah
meningggalkannya jauh-jauh.
Bahkan dalam kegantengan merupan
modal utama,
walaupun dari segi ekting belum seberapa. Membersihkan bukan saja diartikan bersih dalam
arti visual, namun yang lebih bermakna adalah dalam artian perbuatan yang
bermakna.
terhadap wadah itu. apabila
dipelihara dengan kesadaran dan ketulusan Agar rasa damai selelu mengalir dalam
diri maka akan mengalir rasa “damai”
dalam dirinya. Dengan prilaku yang
tertuntun, kehidupan senantiasa akan menjadi teratur untuk mencapai
keseimbangan jiwa dan raga. melalui diri
sendiri, orang lain juga penting dan kita juga penting, oleh karena itulah rasa
toleransi dan solideritas sangat penting ditumbuhkan dan dipelihara secara baik
dalam diri agar menjadi manusia yang “berwatak susila”.
Kelompok manusia susila seperti ini
sekarang masih sedikit sekali tersisa, akibat kepungan pergaulan bebas. Namun berkat Kuasa Tuhan telah banyak
terpanggil jiwa-jiwa yang patut diselamatkan agar menjadi manusia berguna dan
tulus agar bisa beryadnya demi kebajikan. Di tengah-tengah arus seperti inilah
manusia yang berwatak susila berjuang keras menghadapi situasi yang
membelenggunya. Dia sering merasa terjepit, terpinggirkan, terhina, dibenci,
bahkan seringkali dianggap berpura-pura, dimata-matai dengan penuh tudingan
yang bukan-bukan dan lain sebagainya. Bagi orang yang belajar menuju
kesadaran
Walaupun demikian masih lebih sedikit
jumlahnya dibandingkan jumlah orang yang berwatak asusila. Akibatnya dia akan
selalu membenarkan kebiasaannya. Seorang pemabuk yang dibenarkan “gaya
mabuknya”, preman yang biasa membunuh, perbuatan membunuh orang dianggap benar,
oleh karenanya hukum karma tidak berlaku baginya. Yang menjadi kebanggaan dan
dihormati kelompoknya adalah “keberaniaannya membunuh”. Seorang penjudi,
menganggap tindakannya yang benar, sehingga di tempat sucipun melakukan judi,
atau dengan dalih membangun tempat suci melakukan perjudian, dan lain sebagainya.
Kebiasan seperti itu dianggap benar, sesungguhnya adalah “pembenaran” untuk
melindungi niat yang dikendalikan nafsu angkaranya sendiri, dan kelompok ini sangat
cepat berpengaruh sehingga memiliki banyak pendukung.
Berbeda dengan orang beretika susila sangat
sedikit populasinya, oleh karena itu sulit menemukan teman yang bisa diajak “bersungguh-sungguh
mendiskusikan kebajikan” agar bisa keluar dari jeratan lingkaran setan yang
amat membahayakan “gerak langkah suara sang hati nurani”. Oleh karena itu vibrasi
tata susila cepat ditelan kabut nafsu, kesombongan dan egoisme, yang
menciptakan manusia-manusia “kosong jati diri”. Dampaknya ketika berdiskusi membicarakan
hak material akan menjadi sangat bergaerah dan berapi-api, dan sebaliknya bila
membicarakan kewajiban yang mesti diemban menjadi amat sepi, bahkan langsung
tidur di ruang rapat, apalagi memikirkan kemalangan nasib saudara sendiri.
Orang-orang seperti inilah yang, menguasai dunia sekarang ini, sehingga
menghasilkan perubahan “peradaban menjadi pembiadaban”. Ketika kita sadari
terjadi kondisi jaman seperti ini,
bangun dan bangkitlah membentuk peradaban yang penuh susila, sopan santun,
dan penuh toleransi. Pembentukan peradaban
itu dapat dimulai dari penyucian diri secara terus menerus, melalui ajaran suci
dan Maha Kasih Tuhan, agar jiwa kita semakin halus dan sensitive sehingga mampu
mendengarkan suara hati sebagai Sang Penuntun yang hadir didalam jiwa kita
masing-masing.
yang bahwa kita memiliki hak dan kewajiban yang
sama di bumi ini dan di jalan raya yang sudah penuh sesak ini. Merasa paling
penting diantara pengguna jalan raya perlu dihindari, kecuali orang sakit yang
berjuang untuk mencari pertolongan menuju rumah sakit (Ambulance).
Akibat rendahnya kesadaran yang ada
dewasa ini, hal-hal seperti itu sangat jarang diperhatikan, bahkan orang sakit
sering terpanggang dalam kemacetan. Sangat berbeda dengan negara maju, ketika
terjadi kecelakaan lalu-lintas berakibat besar terhadap kebijakan yang
ditetapkan. Tetapi kita belum memiliki kesadaran untuk menghormati betapa “berharganya nyawa” orang lain ketika
kesalahan diakibatkan prilaku buruk kita berlalu lintas. Bukan hanya mencelakai
diri sendiri tetapi sering kali mengakibatkan orang lain kena dampaknya. Banyak
sekali prilaku buruk yang tak terhindarkan di jalan raya, seperti sibuk sms an
saat berkendaraan, ugal-ugalan, kebut-kebutan, mabuk berat, ngantuk ditambah
lagi berseliweran gerobak dagang rujak, ketupat, pemulung, pedagang bakso, dan
nakalnya lagi gerobak ditarik dan dibonceng sepeda motor dibiarkan begitu saja
tidak terurus oleh pihak yang berwajib. Sudah saatnya pemerintah mengambil
langkah stop sampai disini, mulailah dengan “peradaban yang teratur” itulah
kewajiban pemerintah.
Tidak hanya study banding ke luar
negeri saja, tetapi harus diterapkan yang patut ditiru dari negara maju,
walaupun tantangan untuk mencapai
tujuan, tidaklah ringan tetapi wajib diperjuangkan. Bukan diperbaikai saat
memerlukan suara saja, tetapi proram berlanjut yang terdata secara
holistic. Itulah resiko ketika berani
“merebut jadi pemimpin”.
Kesadaran
dan Kesabaran
Dibalik hiruk pikuk perekonomian dan
politik yang menjadi raja dewasa ini, terjadi gema semangat dan kesadaran spiritual. Setiap
malam pura-pura besar dan tempat-tempat suci selalu ramai dikunjunggi para
pemedek, bahkan amat sulit menemukan tempat suci yang betul-betul sepi di malam
hari saat ini. Berkaca dari kegaerahan
itu nampaknya masyarakat sangat bersemangat untuk memperoleh “ketenangan dan
kebahagiaan”. Barangkali refleksi dari hiruk pikuk yang ada di luar diri kita,
lebih ampuh mendidik agar kita sadar
terhadap kebutuhan jiwa dan “Sang Hati Nurani” itu sendiri. Barangkali saat ini
telah terbuka kesadaran terhadap kehausan jiwa dan hati nurani untuk diisi
energy suci yang dapat membahagiakannya. Enerji itu nampaknya tidak bisa dibeli
toko atau di supermarket yang menjamur dan amat mendesak kehidupan pasar
tradisional yang penuh toleransi itu. Tetapi untuk mendapatkannya hanya bisa
diperjuangkan dengan sadhana kesadaran terhadap hakekat “sang diri sejati”.
Salah satu sadhana suci yang telah digariskan weda adalah pemujaan kepada Tuhan
atau bisa melalui manifestasinya. Bali amat dikenal dengan sebutan pulau seribu
pura, itu artinya para suci leluhur kita telah menciptakan budaya kesucian yang
amat mengagumkan. Kesemuanya teratur dalam wujud prilaku terhadap alam, manusia
dan Tuhan. Melalui artefak suci bernilai historis ini, mesti dicerna sebagai
upaya mencerdaskan kehidupan spiritual kita, mengubah prilaku buruk menjadi
prilaku baik dan benar serta mampu membentuk manusia “berwatak dewata”.
Namun akibat kecerobohan yang terjadi
memandang asset budaya suci itu sebagai asset ekonomi yang dijual secara
sembrono. Akibat kesembronoan itu sering ditebus dengan upacara permohonan maaf
yang amat besar, yang kemudian diulang lagi dalam bentuk kesembronoan yang
lainnya. Apa artinya upacara bila tidak disertai dengan perubahan prilaku, yang
mesti dibangun melalui kesadaran dan tindakan suci. Bukankah semuanya itu mulai
dari tindakan manusia, maka lakukan ritual sederhana dan perbesarlah tindakan
dengan pengetahuan suci. Ketika itu bisa dilaksanakan, maka alam dan kesucian
jiwa akan mulai tumbuh dan bersinar dan member kesejahtraan kepada kita semua.
bukan hanya dijual untuk kepentingan pariwisata
dan keuntungan ekonomi seperti sekarang ini. Budaya apakah yang akan diwariskan
oleh peradaban kita, yang sering disebut peradaban ilmu pengetahuan dan
teknologi seperti sekarang ini?.
Para wisatawan mengumi kebesaran
spiritual kita, dengan meronggoh dolarnya karena telah mendapatkan kesejukan
jiwanya
Guru Sri Hasta Dhala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar