oleh : Guru Sri Hasta Dhala
Disampaikan
dalam Seminar Seni Rupa yang diselenggarakan Yayasan Kreasi Seni Sejati.
Bertempat di
Sika Gallery: Sabtu 23 Oktober 2010
Sebelum membahas peranan seni lukis dalam peningkatan
moral dan spiritual saya mengajak para peserta seminar untuk merenung bersama,
untuk memuja, memuliakan dan menghormati
Tuhan sebagai pencipta keindahan. Hakekat penciptaan adalah melahirkan. Karena
melahirkan, Tuhan kita puja, muliakan dan hormati sebagai “IBU Sejati”, untuk
itu marilah melantunkan sebuah lagu untuk memuliakanNya. “ Swari Sundaram Sri Mathe Ye Namah” bisa dilakukan berulang-ulang
sesuai dengan kebutuhan.
Pendahuluan.
Tema yang diajukan oleh
panitia pameran Yayasan Kreasi Seni Sejati dalam seminar ini sangatlah menarik
untuk dikaji dan disikapi bersama-sama, ditengah-tengah isu merosotnya karakter
bangsa yang sudah sangat menghawatirkan ini. Sudah sangat banyak para tokoh
spiritual, Para Suci, ilmuwan, filosuf memberikan pandangan dan kejadian-kejadian
alam yang maha dahsyat telah menimpa kehidupan manusia dibelahan bumi ini.
Namun pandangan dan contoh riil tersebut belum mampu mengimbangi erosi moral yang
terjadi. Berarti disitu tidak ada keseimbangan mental dan spiritual yang
menyebabkan sesuatu yang tidak beres pada diri manusia. Sudah saatnya kita “eling ring rage” atau sadar diri agar
mampu melakukan sesuatu yang terbaik melalui kesadaran moralitas, untuk diri,
keluarga, masyarakat dan bangsa. Sekecil apapun wujud kebajikan itu merupakan
upaya meringankan beban masyarakat dan pemerintah dalam upaya mengkondisikan
situasi kenegaraan.
Memahami peranan seni
lukis dalam peningkatan moral dan spiritual, setidak-tidaknya dapat dimulai
dari:
1). Hakekat
penciptaan seni lukis itu sendiri. Proses penciptaan pada dasarnya
mengkondisikan eksplorasi pengalaman estetis dan pengalaman spiritual.
Pengalaman estetis mengekspresikan wujud-wujud yang bernilai estetis
(eksternal) dan pengalaman spiritual menekakan nilai-nilai kebermaknaan yang
menjadi kekuatan isi dari karya seni itu sendiri (internal). Kajian-kajian
diarahkan pada persoalan nilai-nilai dan kebermaknaan narasi teks melalui
pendekatan semiotika dan hermeneutika. Hal ini dilakukan dengan harapan
menemukan nilai-nilai yang perlu diteladani secara moralitas
2).
Peningkatan, ketika kita berbicara peningkatan setidak-tidaknya kita mempu
mengetahui, dan menyadari posisi moral dan spiritual, dengan tujuan mencapai
peningkatan. Sesuatu yang meningkat sudah pasti melewati proses kinerja,
pengetahuan, semangat, energi, arah peningkatan, keiklasan dan lain sebagainya.
Memasuki wilayah kedua
masalah yang amat luas itu, tentu tidak akan dapat dijangkau dalam waktu yang
amat terbatas ini. Oleh karena itu akan dibahas melalui hal yang bersifat umum
dengan contoh-contoh kajian yang acak yang mampu mewakili persoalan yang dikaji
Seni lukis merupakan salah
satu wujud ekspresi moralitas yang bernilai estetis. Keberadaan ini telah
teruji dalam perjalanan sejarah merekam pengalaman estetis, berpadu dengan
pengalaman spiritual membentuk semangat kreatif yang tiada henti hingga mampu
memberi kepuasan lahir maupun batin dalam demensi ruang, waktu dan perubahanya.
Hal itu berarti seni memiliki sifat kodrati yang bersatu dalam kehidupan
manusia, oleh karena itu seni diciptakan, dihayati, dikaji, dipersoalkan,
dimanfaatkan, difungsikan untuk mencapai tujuan hidup manusia. Keragaman wujud-wujud karya seni lukis dalam
perjalanan sejarah itu menjadi menghiasi, dan sekaligus juga sering
membingungkan masyarakat. Karya-karya yang sering dianggap membingungkan ini
barangkali dilandasi lompatan proses kreatif yang melampaui situasi apresiasi
lingkungan sekitarnya. Ketika hal itu terjadi itu berarti pertautan antara pengalaman
estetis dan pengalaman spiritual terjadi, dalam usaha menerobos obyek yang sama
dan tak terbatas yaitu Sang Pencipta dengan segala Kemahakuasaanya. Dalam upaya
menembus ruang dan obyek yang tanpa batas itu seni memiliki peran mewujudkan tanda-tanda
visual ataupun audio visual secara estetis terhadap penjelajahan nilai-nilai
spiritual yang amat abstrak itu. Seni diberi energi oleh spiritual (energi
suci), yang menempatkannya pada sublimasi estetis atau halusnya rasa indah.
Ketika itulah seni dan pelaku spiritual menemukan kedamaian dan kebahagiaannya,
bukankah hal ini yang selalu dikejar. Oleh karena demikian antara seni dan
spiritual tidak dapat dipisahkan, senada dengan pendapat Hegel tentang Roh
Absolutnya bahwa: kita mengenal yang absolut melalui determinasi diri, sama
seperti Tuhan dikenal melalui ciptaanNya. Determinasi itulah salah satunya
mengambil bentuk indrawi, dan itulah yang disebut seni. Seni adalah manifestasi
yang absolut dalam bentuk indrawi atau partikulasi dari ide-ide yang absolut (
Hegel dalam Mudji Sutrisno, 2005:13)
Seni Merefleksi Sentuhan Alam
Sejak lahir ke
bumi, kita telah dituntun prilaku kehidupan jasmani maupun rohani, melalui cerita
yang dapat didengar, dibaca dan juga melalui pengalaman sendiri ketika
berhubungan dengan berbagai situasi di luar diri. Sejak pikiran mulai bekerja secara
alamiah dalam diri, yang diawali
tuntunan dan asuhan ibu, bapak, keluarga, lingkungan sekitar dan alam
semesta ini yang penuh kasih sayang.
Melalui sentuhan dan hubungan langsung, yang didorong oleh
kebutuhan makan, minum, bernafas dan
lain sebagainya yang lebih bersifat membentuk karakter kejiwaan.
Melalui kontak itulah
upaya mengenal alam lingkungan sekitar semakin dekat dan semakin mengenalnya.
Disamping itu melalui bantuan orang tua di ajar melihat kejadian-kejadian langsung,
dan selanjutnya diajar membaca dan
menulis untuk merekam berbagai peristiwa yang kita alami. Imaji-imaji
ditumbuhkan agar alam pikir dapat berkembang menuju pendewasaan, dan hal-hal
yang patut dihindari agar kita selamat dalam menghadapi berbagai situasi. Setelah sekian lama bersentuhan dengan
perubahan dan perkembangan situasi sosial maupun alam lingkungan sekitar,
menjadikan semakin terbiasa berhadapan dengan sesuatu dan selalu bertanya
tentang sesuatu hingga dewasa, tua, dan begitulah seterusnya. Lalu dapat dibayangkan
tentang berbagai hal, tentang proses persentuhan itu agar mampu memperoleh
pengalaman yang menyenangkan, membahagiakan, dan mampu membiasakan diri
terhadap sesuatu yang menyakitkan, menakutkan, menghawatirkan dan seterusnya
yang patut juga dihindari. Realitasnya hanya dapat dirasakan melalui pengalaman
langsung, dan bila dituturkan maupun ditulis menjadi pengetahuan bagi orang
lain. Agar bisa bertutur janganlah takut ketika masalah itu datang, karena
kedatangannya adalah sifat alaminya sendiri. Kesadaran terhadap aneka sentuhan
melahirkan pengalaman yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Bila jiwa
berbekal emosi estetis akan bersentuhan dengan sesuatu yang bersifat menyelaraskan getaran estetis agar bersemi
dalam hatinya. Pengalaman tentang keselarasan emosi estetis dengan obyek
estetis yang telah bersemi dapat membangkitkan reaksi berwujud tindakan
berkesenian yang beragam dari jaman ke jaman. Kandinsky menyatakan bahwa di
dalam seni ada jenis kesamaan eksternal yang diketemukan sebagai sebuah
kebenaran yang fundamental. Suatu kesamaan dari cita-cita, sebuah kesamaan di
dalam perasaan-dalam (inner feeling)
yang terdapat di setiap periode ke periode berikutnya, hasil yang logis akan
berupa suatu kebangkitan kembali dari bentuk-bentuk eksternal yang melayani
untuk mengekspresikan perasaan-perasaan itu dari sebuah kejadian terdahulu.
Seni semestinya berada dan karenanya ia merupakan unsur yang sangat kuat,
adalah sesuatu yang rumit tetapi pasti dan menjadi gerakan maju ke depan atau
naik ke atas yang mudah untuk diuraikan. Sangat mungkin ia memiliki
bentuk-bentuk yang berbeda, tetapi semuanya memegang erat dan mendasar akan
pemikiran dari dalam serta maksud dan tujuan yang sama (Kandinsky dalam
Sulebar, 2007:xv)
Penyelarasan dan Peningkatan
Moral Spiritual
Kandinsky memberikan
solusi alternatif mengahadapi arus keduniawian yang pada jamannya juga sedang
melanda keras dengan pendekatan theosofis, sesuatu kearifan yang bersumber di
dalam (inner) diri kita
masing-masing. Ia mengacu pada teori theosofi yang diperkenalkan oleh Mme
Blavatsky, orang pertama setelah hidup dan tinggal di India bertahun-tahun
untuk mengamati suatu koneksi antara “kebiadaban” situasi keduniawian ini
dengan “peradaban” kemanusiaan. Theosofi bagi Blavatsky adalah sinonim dengan
kebenaran yang abadi (eternal truth).
“Pembawa obor kebenaran yang baru telah dipersiapkan untuk menerima pesannya,
sebuah bahasa yang telah disiapkan untuk dia yang dapat dipergunakan untuk
menghiasi kebenaran yang baru yang ia bawa, suatu organisasi telah menunggu
kedatangannya, yang telah memindahkan dari jalurnya segala kesulitan-kesulitan
yang bersifat melulu mekanik serta rintangan material lainnya” (Blavatsky dalam
Sulebar,2007:xiii). Bahasa baru yang menghiasi kebenaran itulah kehalusan cita
rasa seni yang menjadi penjelajahan kreatif bagi para seniman. Permainan
kata-kata mampu mengekspresikan suatu keselarasan dari dalam (an inner harmony). Keselarasan dari
dalam ini menemukan formulasinya ketika obyek itu telah memiliki nama, tetapi
jika obyek itu sendiri tidak dapat dilihat dan hanya sebagai nama, maka pikiran
sipendengar akan menerima suatu kesan abstrak saja. Kalau obyek mengalami
dematerialisasi, serta sebuah vibrasi maka penghayatannya mengarah pada ruang
kontemplasi dan kedalaman hati.
Pemaknaan Seni dalam Arus Peradaban
Dinamika, keragaman
aktivitas dan pengalaman manusia kemudian menjadi arus peradaban yang panjang
tiada henti. Sejarah telah menulis upaya-upaya manusia agar bisa mengetahui dan
memahami suatu dinamika proses kehidupannya sendiri, terutama bila ingin membayangkan
bagaimana manusia merepleksikan ”pengalamannya” menjadi sesuatu yang dapat
mengatasi permasalahannya, dalam rentang waktu, dimensi ruang dari berbagai
belahan dunia. Wujud persentuhan pengalaman manusia menjadi catatan
peristiwa yang ditinggalkan, menjadi warisan budaya yang bernilai bagi
kehidupan selanjutnya. Nampaknya
pengalaman itulah merupakan salah satu takdir misteri yang dimiliki manusia.
Walaupun pengalaman itu adalah takdir misteri yang melekat dalam kehidupan
manusia namun tidak berdaya, ketika ia berhadapan dengan berbagai bentuk
kejadian, situasi dan perubahan alam sebagai suatu misteri yang maha dahsyat.
Ketika itulah manusia mengalami dirinya sebagai mahluk kecil dan terbatas
dihadapan banyak unsur semesta alam yang lebih besar dan seakan-akan tidak
terbatas.
Manusia juga
mengalami adanya banyak misteri dalam semesta alam, bahkan menghadapi semesta
alam sendiri sebagai misteri yang maha dasyat. Dengan demikian manusia sebetulnya
mengandalkan adanya suatu realitas dibelakang realitas yang dialami serta
mengaguminya. Aneka pengalaman dan rasa kagum itu dapat menimbulkan berbagai
reaksi yang pada dasarnya adalah merupakan wujud penerimaan atau ”iman” ataupun
wujud penolakan atau ketidakpercayaan terhadap adanya realitas yang tidak
tampak itu yang perlu dicari dan melalui penjelajahan yang tiada henti
sepanjang jaman, apakah ini ”takdir manusia untuk mengejar misteri”, ataukah
itu hak kewajiban hidup manusia, atau ”suatu proses penyempurnaan manusia
sebagai mahluk bumi”, berjuta-juta lagi pertanyaan yang mesti dijawab dengan
prilaku yang bijaksana. Gunung, laut, beraneka warna bunga, daun-daunan,
jenis-jenis binatang, burung dan lain sebagainya, setelah menyentuh indrawi
manusia, dapat membuka misteri tentang keindahan.
Misteri tentang
keindahan ini sepanjang peradaban manusia telah dirasakan, diekspresikan
digunakan, dinikmati, namun tiada hentinya mengalir, membuka angan-angan untuk
mendapatkan sesuatu agar dapat memenuhi hasrat naluri estetisnya. Hasrat atau
naluri estetis selalu berkembang, selalu berupaya memenuhi pemuasan tersendiri
dalam ruang yang tanpa batas, sehingga keindahan dapat dikatakan memiliki
dimensi obyek dan pemahaman sebagai
misteri tersendiri dihapapan manusia. Melalui misteri itu manusia
mencoba menyerap, mengekspresikan sebagai kenikmatan rasa keindahan yang ada
dalam diri serta di pihak lain memanfaatkannya dalam berbagai tujuan. Sejak
berabad-abad wujud-wujud keindahan yang telah diekspresikan dan dimanfaatkan
untuk kepentingan ritual-ritual kepercayaan ataupun agama, mengilustrasikan
berbagai ajaran-ajaran, membentuk simbol, memberi tanda, dan seterusnya. Akibat
perannya itu wujud-wujud keindahahan adalah sebagai jawaban dari sebagian
misteri yang maha luas.
Kesadaran
penggalian adalah dharma yang patut dikembangkan melalui kerangka normatif
yaitu etika moral yang memadai sehingga misteri tidak berubah menjadi sesuatu
yang menghacurkan. Kesadaran penggalian mesti selalu ditempatkan dalam bentuk
doa permohonan, agar dapat melangkah penuh kewaspadaan dan bukan sebagai kuasa
nafsu yang membara. Ketika norma penggalian itu telah mencapai ”harapan”, yang
merupakan konfigurasi dari kebutuhan jasmani dengan segenap unsurnya dibawah
kendali kesucian jiwa. Ketika harapan itu dikendalikan oleh pikiran yang penuh
nafsu, maka harapan itu akan bersifat sementara. Akibatnya akan membuat manusia
cepat jenuh, lesu dan putus asa akhirnya mengambil tindakan ”singkat dan
sesat”. Korban keputusasaan ini telah menggerogoti sebagian penduduk dunia ini
dengan berbagai tingkah polahnya, seperti bunuh diri, mabuk-mabukan,
pertarungan antar kelompok, perubutan harta benda warisan (tingkat rumah tangga
dan masyarakat) dan lain sebagainya. Kenyataan serupa telah menggaris bawahi
sendiri bahwa kendali napsu yang menguasai alam pikir dan seluruh panca indra,
mengakibatkan manusia tidak lagi tekun menyadari kewajiban dan memuliakan Tuhan
Yang Maha Agung sebagai pelindungnya. Wujud kesadaran itu merupakan pertanyaan
yang lahir dari suatu pengalaman yang menggelora dan menantang tindakan manusia
agar lebih luas mengenal ibu dan bapak semesta buminya sendiri.
Seni adalah
suatu realita yang tidak nampak, namun ketika realita itu diserap lewat
sentuhan panca indra dan memasuki emosi dan rasa keindahan, kemudian menjadi
reaksi dalam tindakan nyata menjadi wujud-wujud yang mengagumkan. Aneka jenis
emosi dapat dirasakan dan sering diperlihatkan oleh manusia, seperti rasa
gembira, sedih, sukacita atau dukacita, rasa senang dan marah, rasa bersahabat
dan bermusuhan, rasa kagum dan jijik dan lain sebagainya.
Van Schie
menyebutkan salah satu emosi manusia yang paling fundamental terhadap apa yang
dialami ialah rasa kagum. Ungkapan rasa kagum itu banyak wujudnya, misalnya: bagaimana
mungkin, mustahil, astaga, alangkah indahnya, alangkah besarnya, alangkah
kuatnya, hampir tak dapat dipercaya (Van
Schie,2007:2).Pernyataan rasa kagum terhadap keindahan alam ”alangkah
indahnya”, rasa kagum mendorong manusia bertanya-tanya, serta mencari jawaban
atas pertanyaan yang diajukan. Rasa kagumlah yang mendahului segala pertanyaan
tentang asal usul serta perkembangan segala-galanya. Van Schie menyebutkan
bahwa, rasa kagum merupakan tempat rasa keingintahuan manusia muncul serta awal
ilmu berkembang, iman kepercayaan serta relegi lahir (Van Schie, 2007:3).
Pendapat Van Shie di atas dapat memberikan gambaran bahwa ketika persentuhan
emosi manusia berhadapan dengan sesuatu yang berada diluar dirinya dan
seolah-olah tidak berdaya berhadapan dengan misteri kemahakuasaanNya, ketika
itulah rasa kagum diekspresikan dengan cara masing-masing. Intensitas
ekspresinya tergantung pada intensitas
dan sinsitifitas persentuhan emosi personalnya. Seni sepanjang jaman telah
mampu mewadahi ruang ekspresi itu, selanjutnya menjadi wujud indrawi yang
mengandung sifat-sifat estetis, simbolis, magis, fungsional, dekoratif,
illustratif, sampai hal yang bersifat promosi maupun propaganda dan lain
sebagainya.
Melalui perannya
sebagai wadah penyalur atau ekspresi jiwa maupun berbagai pengalaman estetis
manusia, seni dapat dikatakan sebagai illustrasi estetis dari nilai-nilai
sebuah pengalaman atau sejumlah pengalaman tertentu. Illustrasi estetis
dimaksudkan adalah wujud indrawi yang menggambarkan suatu nilai dan makna, yang
menjadi prioritas utama yang biasanya diwujudkan menjadi tema dalam karya seni.
Dengan ditulisnya tema dalam setiap karya seni, sekaligus mengantarkan penikmat
diajak berapresiasi tentang apa yang menjadi obyek pengalaman estetis, maupun
proses kreatif seniman itu sendiri.
Seni Sebagai Ekspresi Nilai
Seni merupakan
pengindraan dari keadaan psikologis akibat persentuhannya dengan suatu obyek
yang disebut nilai, tanpa hal itu niscaya dikejar dan hidup sepanjang jaman.
Pengindraan sebagai wujud ekspresi yang mampu mengejawantahkan atau meriilkan
nilai, sehingga dapat diserap oleh panca indra dalam berbagai kondisi, ruang
dan waktu. Rizieri Frondizi menyatakan bahwa nilai merupakan keadaan psikologis
melibatkan pengalaman yang menyenangkan, apa yang diinginkan, apa yang menjadi
sasaran perhatian kita dan lain sejenisnya. Kenikmatan, keinginan, perhatian
merupakan suasana kejiwaan (Rizieri Frondizi, 2001:6). Berpola dari
keterlibatan keadaan psikologis dengan obyek, membentuk suasana kejiwaan dengan
berbagai motif sebagai realitas subyektif. Reaksi realitas subyektif mampu
menerobos ke ruang obyek tanpa batas. Runutan langkah terobosan
merupakan pengalaman empiris yang sekaligus memposisikan kualitas nilai.
Nilai tidaklah
memberi atau menambah eksistensi, karena obyek natural ada sepenuhnya sebelum
ada sentuhan, misalnya akar kayu tetap sebagai akar kayu sebelum menjadi
sasaran keinginan. Apakah akan dijadikan patung, apabila ia seorang
seniman patung akan memberi sentuhan pengalaman estetisnya sebagai wujud
keadaan psikologis. Kualitas pengalaman estetis yang melibatkan aspek pisik
dengan kualitas ketrampilan dengan intesitas yang memadai, maka nilai akan
berwujud realitas indrawi yang bisa dinikmati lewat pengelihatan, didengar,
diraba dan lain sebagainya.
Kesenian selalu
tumbuh dan berkembang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan selera keindahan
manusia yang berada dalam kondisi ruang, situasi sosial, religiusitas yang
berbeda-beda. Dalam dimensi ruang seperti itu seni
hadir mengindrawikan berjuta-juta gagasan menjadi berjuta-juta wujud estetis,
simbolik, fungsional, dekoratif, illustrative dan lain sebagainya. Melalui
wujud-wujud pengindraannya itulah, seni telah mengajak dan mengantarkan manusia
ke alam kesadaran lain yang sering disebut “realita baru”. Kesadaran terhadap realita
baru ini membuka ruang ekspresi kreatif yang membawa manusia sadar terhadap
kebutuhan jasmani maupun rohani, menjadi mahluk berseni dan berbudaya. Ketika
kesadaran berseni dan berbudaya ini menemukan kualitasnya, hal ini menjadikan
manusia memilki martabat jasmani dan dapat pula dihargai banyak orang. Hal ini bisa dibuktikan melalui artefak masa
lalu dengan ketinggian nilai estetisnya bisa membangkitkan berbagai emosi, dan
pengalaman estetis ketika apresian berupaya memasuki wilayah proses kreatif yang
dituangkan senimannya. Ketika menyaksikan Candi Borobudur imaji-imaji kita
dibawa ke alam spiritual yang tanpa batas, itulah keberhasilan seniman
menyajikan wujud estetika dengan muatan spiritual yang dalam.
Ketika ruang apresiasi
memasuki kesadaran proses kreatif menyerap dan memahami nilai yang terkandung
di dalamnya, maka proses pengindraan nilai-nilai seperti: simbolik, religius, magis,
sosial dan lain-lainnya dapat diketahui. Maksudnya adalah melihat secara detail
wujud, motif-motif pengindraannya melalui gaya ,
corak tertentu yang mewakili dirinya sendiri. Sudah barang tentu di situ
seorang apresian sudah berbekal pengalaman tentang keragaman gaya yang pernah dibuat sebelumnya dalam
ruang tertentu. Hal ini penting disadari agar apresian tidak terjebak terhadap
kedangkalan apresiasi.
Untuk mencapai kedalaman
pengetahuan ini sangat dibutuhkan kontemplasi, wawasan sejarah perjalanan seni,
dinamika proses kreatif, yang sama dengan seniman. Apabila tidak sama akan
mengakibatkan kepincangan apresiasi, yang berakibat karya seni belum bisa
dihargai terutama saat-saat kemunculannya. Kepincangan apresiasi sering
terjadi, apalagi jaman sekarang masuknya unsur-unsur non seni ke dalam proses
kreatif terlalu besar yang terkadang meniadakan bobot estetisnya dan efek yang
ditimbulkan. Apa yang dapat kita saksikan dalam sinetron, kemasan nilai-nilai
yang bersifat profokatip lebih ditonjolkan, karena sangat terikat akan gaya tarik situasional,
materialitis, emosional, dekonstruksi dan lain sebagainya. Kebebasan penciptaan
seni yang mengkonstruksikan nilai saat ini seolah-olah lepas tanpa batas, yang
berakibat merosotnya karakter bangsa.
Melalui efek yang
ditimbulkan itu membuktikan bahwa seni memiliki kekuatan pendorong suatu
kebangkitan atau kekuatan mensugesti sifat-sifat tertentu dalam diri manusia,
misalnya ketika kita melihat seni lukis Renaisance dan seni lukis klasik Bali tentu sangat berbeda pengaruhnya terhadap kerangka
fantasi dan imajinasi kita. Dengan demikian krangka pantasi merupakan sub tema
atau pokok soal yang digarap dalam setiap karya seni. Pengisian
kerangka fantasi imajinasi ini memerlukan perenungan secara perlahan dan terus
menerus.
Namun apabila
penciptaan karya seni selalu diupayakan mencapai ketinggian kualitas dengan
selalu mempertimbangkan nilai moral dan efek yang ditimbulkan maka martabat
seniman, maupun martabat bangsa terbawa dengan sendirinya, oleh karena demikian
wujud kesenian adalah merupakan cerminan martabat suatu bangsa. Melalui
cerminan itu pula seni dapat diibaratkan bagaikan “air”, ketika orang suci
mengisinya dengan doa dan mantra suci akan dapat menyiratkan kesejukan, ketika
para dukun mengisinya dengan ramuan obat-obatan akan dapat menyembuhkan
penyakit tertentu, ketika para petani menyalurkannya ke sawah akan menyuburkan
pertanian dan mampu mensejahtrakan masyarakat. Ketika air
dipenuhi limbah racun industri akan
menghancurkan alam lingkungan sekitarnya dan seterusnya. Dalam pengertian
seperti itu seni dapat dikatakan sebagai
wadah yang sangat transparan dan setia, dia akan menjadi cantik, indah,
menyenangkan dan membahagiakan apabila diisi dengan muatan nilai-nilai
kesopanan. Karena perannya itu seni sering terjebak hanyut dalam muatannya
sendiri, oleh karena demikian sayangilah seni seperti menyayangi wajah cantik
dan tampan yang anda miliki.
Rentang sejarah
telah menunjukkan bahwa kalangan istana telah mampu membangun martabat itu demi
kewibawaan dan kekuasaannya. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa di sekitar keraton
berkembang desa-desa yang telah memiliki system pembangian kerja sesuai dengan
kemampuan masing-masing wilayah. Bagaimanapun cara untuk mewujudkan kewibawaan
dan martabat itu, yang jelas dihadapan kita terbentang beragaman warisan budaya
dan seni yang bertebaran di seluruh dunia. Keberadaan itu telah menjadi
pencitraan dari kemajuan peradaban suatu bangsa. Selanjutnya menjadi salah satu
tanggung jawab sosial dan moral sebagai pencitraan suatu bangsa, salah satu
upaya yang telah dilakukan oleh suatu bangsa-bangsa di dunia adalah berupaya
mengkaji, melestarikan, dan
mengembangkannya untuk kesejahtraan masyarakat dalam arti luas.
Wujud tampilannya ada yang
tetap berkonsentrasi menggarap wujud ataupun motif-motif seni budaya temuan sebelumnya yang dapat
disebut sebagai “arus konvensional”. Pendukung kesenian ini sangat erat
kaitannya dengan kehidupan tradisi nenek moyang, kepercayaan, religiusitas yang
berlaku disuatu daerah yang telah banyak dirasakan kebenarannya dan dipercaya
ketinggian kualitas nilai estetisnya. Banyak contoh kesenian model ini masih
tetap lestari misalnya tari Sang Hyang di Bali dipentaskan untuk memohon
turunnya curah hujan untuk kesejahtraan umat manusia, Seni lukis Klasik,
pola-pola ornament patung-patung klasik Bali
dan lain sebagainya. Walaupun penciptaan bentuk-bentuk kesenian pada arus
konvensional ini lebih menekankan nilai spiritualnya dalam wujud konvensioanl,
namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kesenian seperti ini sangat
diminati oleh masyarakat bukan saja local tetapi juga manca Negara. Hal itu
berarti bahwa tampilnya wujud kesenian ke muka bumi ini pasti memiliki
penikmatnya sendiri-sendiri, minimal bagi komunitasnya
Arus agresif membuka ruang
proses kreatif yang tanpa batas, tetapi proses kreatif itu tetap terbatas,
karena sangat tergantung pada suasana
atau momen estetis yang menentukan motif sentuhannya dan juga dukungan
materialnya. Suasana dan motif sentuhan itu diindrawikan dalam bahasa ungkap
yang dapat menyentuh panca indra dan menggetarkan rasa indah yang ada secara
alami dalam diri manusia. Bila dilakukan dengan akal selalu belum terbaca karena bersifat
prapredikatif, tidak akan habis dibahasakan.
Berkenaan dengan hal itu
kesenian telah menempati berbagai sisi kehidupan manusia dalam upaya memenuhi
kebutuhan nilai estetis, telah berjalan sepanjang jaman. Kesadaran alamiah
terhadap nilai estetis amat sulit dipisahkan dengan nilai-nilai lain yang
sering disebut pemaknaan yang diakibatkan oleh fungsi yang melekat padanya. Keduanya
saling berkaitan erat bagaikan badan dan jiwa, atau sering disebutkan sebagai
penyatuan bentuk dan isi. Ketika ditelusuri lebih luas, bahwa bentuk-bentuk
perwujudan kesenian dalam dimensi ruang, waktu dan pemaknaan sangatlah beragam.
Sejarah telah membuktikan sejak jaman primitif manusia dibelahan dunia manapun
telah menciptakan kesenian dalam berbagaimacam bentuk dan variasinya.
Bentuk-bentuk kesenian itu sampai saat ini mengalami perubahan yang sangat
derastis sesuai perkembangan kemampuan akal, pikir, rasa, imajinasi, intuisi,
proses kreatif, dan kemajuan teknologi dan lain-lain yang mengitarinya. Oleh karena demikian kesenian dapat diartikan
sebagai ekspresi kehidupan lewat wujud-wujud indrawi yang mengandung
nilai-nilai estetis dalam lingkup budaya dan spiritualitasnya. Spiritualitas
membawa pencitraan seni pada posisi penghalusan bersatu dengan ketinggian
moralitas, menjadi moral estetis yaitu ”satyam
sundaram menuju siwam”. ”Menyadari keberadaan-Nya, dan berupaya
menjelajah menemuiNya adalah kewajiban, sampai atau belum sampai adalah
kemampuan, itulah perjalanan hidup”,
semogalah........................................
Daftar
Pustaka
Dharsono Sony Kartika., 2007, Estetika, Rekayasa Sain,
Bandung
Capra,
Fritjof., 2002, Titik Balik Peradaban, terjemahan M. Thoyobi, Bentang Budaya, Yogyakarta
Pendit,
Nyoman S., Filsafat Hindu Dharma, Sad-Darsana, Enam Aliran Astika (ortodoks),
Pustaka Bali Post, Denpasar
Prime, Ranchore., 2006, Tri Hita Karana, Ekologi, Ajaran
Hindu, Benih
benih Kebenaran, Terjemahan, Wiryawan,
Paramita, Surabaya
Sutrisno,
Mudji., 2005, Teks-Teks Kunci Estetika, Filsafat Seni, Galangpress,
Yogyakarta.
Sugiono,
Muhadi., Kritik Antonio Gramci, Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga,
Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Simatupang,
Maurits., 2002. Budaya Indonesia yang Supra Etnis, Papas Sinar Sinanti,
Jakarta.
Titib, I
Made., 1994, Ketuhanan Dalam Weda, PT. Pustaka Manik Geni, Denpasar
Tidak ada komentar:
Posting Komentar