Januari 18, 2013

PERANAN SENI LUKIS DALAM PENINGKATAN MORAL DAN SPIRITUAL


oleh : Guru Sri Hasta Dhala
Disampaikan dalam Seminar Seni Rupa yang diselenggarakan Yayasan Kreasi Seni Sejati.
Bertempat di Sika Gallery: Sabtu 23 Oktober 2010


Sebelum membahas peranan seni lukis dalam peningkatan moral dan spiritual saya mengajak para peserta seminar untuk merenung bersama, untuk memuja,  memuliakan dan menghormati Tuhan sebagai pencipta keindahan. Hakekat penciptaan adalah melahirkan. Karena melahirkan, Tuhan kita puja, muliakan dan hormati sebagai “IBU Sejati”, untuk itu marilah melantunkan sebuah lagu untuk memuliakanNya. “ Swari Sundaram Sri Mathe Ye Namah” bisa dilakukan berulang-ulang sesuai dengan kebutuhan.




Pendahuluan.
Tema yang diajukan oleh panitia pameran Yayasan Kreasi Seni Sejati dalam seminar ini sangatlah menarik untuk dikaji dan disikapi bersama-sama, ditengah-tengah isu merosotnya karakter bangsa yang sudah sangat menghawatirkan ini. Sudah sangat banyak para tokoh spiritual, Para Suci, ilmuwan, filosuf memberikan pandangan dan kejadian-kejadian alam yang maha dahsyat telah menimpa kehidupan manusia dibelahan bumi ini. Namun pandangan dan contoh riil tersebut belum mampu mengimbangi erosi moral yang terjadi. Berarti disitu tidak ada keseimbangan mental dan spiritual yang menyebabkan sesuatu yang tidak beres pada diri manusia. Sudah saatnya kita “eling ring rage” atau sadar diri agar mampu melakukan sesuatu yang terbaik melalui kesadaran moralitas, untuk diri, keluarga, masyarakat dan bangsa. Sekecil apapun wujud kebajikan itu merupakan upaya meringankan beban masyarakat dan pemerintah dalam upaya mengkondisikan situasi kenegaraan.
Memahami peranan seni lukis dalam peningkatan moral dan spiritual, setidak-tidaknya dapat dimulai dari:
1). Hakekat penciptaan seni lukis itu sendiri. Proses penciptaan pada dasarnya mengkondisikan eksplorasi pengalaman estetis dan pengalaman spiritual. Pengalaman estetis mengekspresikan wujud-wujud yang bernilai estetis (eksternal) dan pengalaman spiritual menekakan nilai-nilai kebermaknaan yang menjadi kekuatan isi dari karya seni itu sendiri (internal). Kajian-kajian diarahkan pada persoalan nilai-nilai dan kebermaknaan narasi teks melalui pendekatan semiotika dan hermeneutika. Hal ini dilakukan dengan harapan menemukan nilai-nilai yang perlu diteladani secara moralitas
2). Peningkatan, ketika kita berbicara peningkatan setidak-tidaknya kita mempu mengetahui, dan menyadari posisi moral dan spiritual, dengan tujuan mencapai peningkatan. Sesuatu yang meningkat sudah pasti melewati proses kinerja, pengetahuan, semangat, energi, arah peningkatan, keiklasan dan lain sebagainya.
Memasuki wilayah kedua masalah yang amat luas itu, tentu tidak akan dapat dijangkau dalam waktu yang amat terbatas ini. Oleh karena itu akan dibahas melalui hal yang bersifat umum dengan contoh-contoh kajian yang acak yang mampu mewakili persoalan yang dikaji

Seni lukis merupakan salah satu wujud ekspresi moralitas yang bernilai estetis. Keberadaan ini telah teruji dalam perjalanan sejarah merekam pengalaman estetis, berpadu dengan pengalaman spiritual membentuk semangat kreatif yang tiada henti hingga mampu memberi kepuasan lahir maupun batin dalam demensi ruang, waktu dan perubahanya. Hal itu berarti seni memiliki sifat kodrati yang bersatu dalam kehidupan manusia, oleh karena itu seni diciptakan, dihayati, dikaji, dipersoalkan, dimanfaatkan, difungsikan untuk mencapai tujuan hidup manusia.  Keragaman wujud-wujud karya seni lukis dalam perjalanan sejarah itu menjadi menghiasi, dan sekaligus juga sering membingungkan masyarakat. Karya-karya yang sering dianggap membingungkan ini barangkali dilandasi lompatan proses kreatif yang melampaui situasi apresiasi lingkungan sekitarnya. Ketika hal itu terjadi itu berarti pertautan antara pengalaman estetis dan pengalaman spiritual terjadi, dalam usaha menerobos obyek yang sama dan tak terbatas yaitu Sang Pencipta dengan segala Kemahakuasaanya. Dalam upaya menembus ruang dan obyek yang tanpa batas itu seni memiliki peran mewujudkan tanda-tanda visual ataupun audio visual secara estetis terhadap penjelajahan nilai-nilai spiritual yang amat abstrak itu. Seni diberi energi oleh spiritual (energi suci), yang menempatkannya pada sublimasi estetis atau halusnya rasa indah. Ketika itulah seni dan pelaku spiritual menemukan kedamaian dan kebahagiaannya, bukankah hal ini yang selalu dikejar. Oleh karena demikian antara seni dan spiritual tidak dapat dipisahkan, senada dengan pendapat Hegel tentang Roh Absolutnya bahwa: kita mengenal yang absolut melalui determinasi diri, sama seperti Tuhan dikenal melalui ciptaanNya. Determinasi itulah salah satunya mengambil bentuk indrawi, dan itulah yang disebut seni. Seni adalah manifestasi yang absolut dalam bentuk indrawi atau partikulasi dari ide-ide yang absolut ( Hegel dalam Mudji Sutrisno, 2005:13)
      
Seni Merefleksi Sentuhan Alam
Sejak lahir ke bumi, kita telah dituntun prilaku kehidupan jasmani maupun rohani, melalui cerita yang dapat didengar, dibaca dan juga melalui pengalaman sendiri ketika berhubungan dengan berbagai situasi di luar diri. Sejak pikiran mulai bekerja secara alamiah dalam diri, yang diawali  tuntunan dan asuhan ibu, bapak, keluarga, lingkungan sekitar dan alam semesta ini yang penuh kasih sayang.  Melalui sentuhan dan hubungan langsung, yang didorong oleh kebutuhan  makan, minum, bernafas dan lain sebagainya yang lebih bersifat membentuk karakter kejiwaan. 

Melalui kontak itulah upaya mengenal alam lingkungan sekitar semakin dekat dan semakin mengenalnya. Disamping itu melalui bantuan orang tua di ajar melihat kejadian-kejadian langsung, dan selanjutnya diajar membaca dan  menulis untuk merekam berbagai peristiwa yang kita alami. Imaji-imaji ditumbuhkan agar alam pikir dapat berkembang menuju pendewasaan, dan hal-hal yang patut dihindari agar kita selamat dalam menghadapi berbagai  situasi. Setelah sekian lama bersentuhan dengan perubahan dan perkembangan situasi sosial maupun alam lingkungan sekitar, menjadikan semakin terbiasa berhadapan dengan sesuatu dan selalu bertanya tentang sesuatu hingga dewasa, tua, dan begitulah seterusnya. Lalu dapat dibayangkan tentang berbagai hal, tentang proses persentuhan itu agar mampu memperoleh pengalaman yang menyenangkan, membahagiakan, dan mampu membiasakan diri terhadap sesuatu yang menyakitkan, menakutkan, menghawatirkan dan seterusnya yang patut juga dihindari. Realitasnya hanya dapat dirasakan melalui pengalaman langsung, dan bila dituturkan maupun ditulis menjadi pengetahuan bagi orang lain. Agar bisa bertutur janganlah takut ketika masalah itu datang, karena kedatangannya adalah sifat alaminya sendiri. Kesadaran terhadap aneka sentuhan melahirkan pengalaman yang berbeda-beda pada masing-masing orang. Bila jiwa berbekal emosi estetis akan bersentuhan dengan sesuatu yang bersifat  menyelaraskan getaran estetis agar bersemi dalam hatinya. Pengalaman tentang keselarasan emosi estetis dengan obyek estetis yang telah bersemi dapat membangkitkan reaksi berwujud tindakan berkesenian yang beragam dari jaman ke jaman. Kandinsky menyatakan bahwa di dalam seni ada jenis kesamaan eksternal yang diketemukan sebagai sebuah kebenaran yang fundamental. Suatu kesamaan dari cita-cita, sebuah kesamaan di dalam perasaan-dalam (inner feeling) yang terdapat di setiap periode ke periode berikutnya, hasil yang logis akan berupa suatu kebangkitan kembali dari bentuk-bentuk eksternal yang melayani untuk mengekspresikan perasaan-perasaan itu dari sebuah kejadian terdahulu. Seni semestinya berada dan karenanya ia merupakan unsur yang sangat kuat, adalah sesuatu yang rumit tetapi pasti dan menjadi gerakan maju ke depan atau naik ke atas yang mudah untuk diuraikan. Sangat mungkin ia memiliki bentuk-bentuk yang berbeda, tetapi semuanya memegang erat dan mendasar akan pemikiran dari dalam serta maksud dan tujuan yang sama (Kandinsky dalam Sulebar, 2007:xv)

Penyelarasan dan Peningkatan  Moral Spiritual     
Kandinsky memberikan solusi alternatif mengahadapi arus keduniawian yang pada jamannya juga sedang melanda keras dengan pendekatan theosofis, sesuatu kearifan yang bersumber di dalam (inner) diri kita masing-masing. Ia mengacu pada teori theosofi yang diperkenalkan oleh Mme Blavatsky, orang pertama setelah hidup dan tinggal di India bertahun-tahun untuk mengamati suatu koneksi antara “kebiadaban” situasi keduniawian ini dengan “peradaban” kemanusiaan. Theosofi bagi Blavatsky adalah sinonim dengan kebenaran yang abadi (eternal truth). “Pembawa obor kebenaran yang baru telah dipersiapkan untuk menerima pesannya, sebuah bahasa yang telah disiapkan untuk dia yang dapat dipergunakan untuk menghiasi kebenaran yang baru yang ia bawa, suatu organisasi telah menunggu kedatangannya, yang telah memindahkan dari jalurnya segala kesulitan-kesulitan yang bersifat melulu mekanik serta rintangan material lainnya” (Blavatsky dalam Sulebar,2007:xiii). Bahasa baru yang menghiasi kebenaran itulah kehalusan cita rasa seni yang menjadi penjelajahan kreatif bagi para seniman. Permainan kata-kata mampu mengekspresikan suatu keselarasan dari dalam (an inner harmony). Keselarasan dari dalam ini menemukan formulasinya ketika obyek itu telah memiliki nama, tetapi jika obyek itu sendiri tidak dapat dilihat dan hanya sebagai nama, maka pikiran sipendengar akan menerima suatu kesan abstrak saja. Kalau obyek mengalami dematerialisasi, serta sebuah vibrasi maka penghayatannya mengarah pada ruang kontemplasi dan kedalaman hati.
      
Pemaknaan Seni dalam Arus Peradaban
Dinamika, keragaman aktivitas dan pengalaman manusia kemudian menjadi arus peradaban yang panjang tiada henti. Sejarah telah menulis upaya-upaya manusia agar bisa mengetahui dan memahami suatu dinamika proses kehidupannya sendiri, terutama bila ingin membayangkan bagaimana manusia merepleksikan ”pengalamannya” menjadi sesuatu yang dapat mengatasi permasalahannya, dalam rentang waktu, dimensi ruang dari berbagai belahan dunia. Wujud persentuhan pengalaman manusia menjadi catatan peristiwa yang ditinggalkan, menjadi warisan budaya yang bernilai bagi kehidupan selanjutnya.  Nampaknya pengalaman itulah merupakan salah satu takdir misteri yang dimiliki manusia. Walaupun pengalaman itu adalah takdir misteri yang melekat dalam kehidupan manusia namun tidak berdaya, ketika ia berhadapan dengan berbagai bentuk kejadian, situasi dan perubahan alam sebagai suatu misteri yang maha dahsyat. Ketika itulah manusia mengalami dirinya sebagai mahluk kecil dan terbatas dihadapan banyak unsur semesta alam yang lebih besar dan seakan-akan tidak terbatas.
Manusia juga mengalami adanya banyak misteri dalam semesta alam, bahkan menghadapi semesta alam sendiri sebagai misteri yang maha dasyat. Dengan demikian manusia sebetulnya mengandalkan adanya suatu realitas dibelakang realitas yang dialami serta mengaguminya. Aneka pengalaman dan rasa kagum itu dapat menimbulkan berbagai reaksi yang pada dasarnya adalah merupakan wujud penerimaan atau ”iman” ataupun wujud penolakan atau ketidakpercayaan terhadap adanya realitas yang tidak tampak itu yang perlu dicari dan melalui penjelajahan yang tiada henti sepanjang jaman, apakah ini ”takdir manusia untuk mengejar misteri”, ataukah itu hak kewajiban hidup manusia, atau ”suatu proses penyempurnaan manusia sebagai mahluk bumi”, berjuta-juta lagi pertanyaan yang mesti dijawab dengan prilaku yang bijaksana. Gunung, laut, beraneka warna bunga, daun-daunan, jenis-jenis binatang, burung dan lain sebagainya, setelah menyentuh indrawi manusia, dapat membuka misteri tentang keindahan.

Misteri tentang keindahan ini sepanjang peradaban manusia telah dirasakan, diekspresikan digunakan, dinikmati, namun tiada hentinya mengalir, membuka angan-angan untuk mendapatkan sesuatu agar dapat memenuhi hasrat naluri estetisnya. Hasrat atau naluri estetis selalu berkembang, selalu berupaya memenuhi pemuasan tersendiri dalam ruang yang tanpa batas, sehingga keindahan dapat dikatakan memiliki dimensi obyek dan pemahaman sebagai  misteri tersendiri dihapapan manusia. Melalui misteri itu manusia mencoba menyerap, mengekspresikan sebagai kenikmatan rasa keindahan yang ada dalam diri serta di pihak lain memanfaatkannya dalam berbagai tujuan. Sejak berabad-abad wujud-wujud keindahan yang telah diekspresikan dan dimanfaatkan untuk kepentingan ritual-ritual kepercayaan ataupun agama, mengilustrasikan berbagai ajaran-ajaran, membentuk simbol, memberi tanda, dan seterusnya. Akibat perannya itu wujud-wujud keindahahan adalah sebagai jawaban dari sebagian misteri yang maha luas.

Kesadaran penggalian adalah dharma yang patut dikembangkan melalui kerangka normatif yaitu etika moral yang memadai sehingga misteri tidak berubah menjadi sesuatu yang menghacurkan. Kesadaran penggalian mesti selalu ditempatkan dalam bentuk doa permohonan, agar dapat melangkah penuh kewaspadaan dan bukan sebagai kuasa nafsu yang membara. Ketika norma penggalian itu telah mencapai ”harapan”, yang merupakan konfigurasi dari kebutuhan jasmani dengan segenap unsurnya dibawah kendali kesucian jiwa. Ketika harapan itu dikendalikan oleh pikiran yang penuh nafsu, maka harapan itu akan bersifat sementara. Akibatnya akan membuat manusia cepat jenuh, lesu dan putus asa akhirnya mengambil tindakan ”singkat dan sesat”. Korban keputusasaan ini telah menggerogoti sebagian penduduk dunia ini dengan berbagai tingkah polahnya, seperti bunuh diri, mabuk-mabukan, pertarungan antar kelompok, perubutan harta benda warisan (tingkat rumah tangga dan masyarakat) dan lain sebagainya. Kenyataan serupa telah menggaris bawahi sendiri bahwa kendali napsu yang menguasai alam pikir dan seluruh panca indra, mengakibatkan manusia tidak lagi tekun menyadari kewajiban dan memuliakan Tuhan Yang Maha Agung sebagai pelindungnya. Wujud kesadaran itu merupakan pertanyaan yang lahir dari suatu pengalaman yang menggelora dan menantang tindakan manusia agar lebih luas mengenal ibu dan bapak semesta buminya sendiri.

Seni adalah suatu realita yang tidak nampak, namun ketika realita itu diserap lewat sentuhan panca indra dan memasuki emosi dan rasa keindahan, kemudian menjadi reaksi dalam tindakan nyata menjadi wujud-wujud yang mengagumkan. Aneka jenis emosi dapat dirasakan dan sering diperlihatkan oleh manusia, seperti rasa gembira, sedih, sukacita atau dukacita, rasa senang dan marah, rasa bersahabat dan bermusuhan, rasa kagum dan jijik dan lain sebagainya.

Van Schie menyebutkan salah satu emosi manusia yang paling fundamental terhadap apa yang dialami ialah rasa kagum. Ungkapan rasa kagum itu banyak wujudnya, misalnya: bagaimana mungkin, mustahil, astaga, alangkah indahnya, alangkah besarnya, alangkah kuatnya, hampir tak dapat dipercaya (Van Schie,2007:2).Pernyataan rasa kagum terhadap keindahan alam ”alangkah indahnya”, rasa kagum mendorong manusia bertanya-tanya, serta mencari jawaban atas pertanyaan yang diajukan. Rasa kagumlah yang mendahului segala pertanyaan tentang asal usul serta perkembangan segala-galanya. Van Schie menyebutkan bahwa, rasa kagum merupakan tempat rasa keingintahuan manusia muncul serta awal ilmu berkembang, iman kepercayaan serta relegi lahir (Van Schie, 2007:3). Pendapat Van Shie di atas dapat memberikan gambaran bahwa ketika persentuhan emosi manusia berhadapan dengan sesuatu yang berada diluar dirinya dan seolah-olah tidak berdaya berhadapan dengan misteri kemahakuasaanNya, ketika itulah rasa kagum diekspresikan dengan cara masing-masing. Intensitas ekspresinya tergantung pada  intensitas dan sinsitifitas persentuhan emosi personalnya. Seni sepanjang jaman telah mampu mewadahi ruang ekspresi itu, selanjutnya menjadi wujud indrawi yang mengandung sifat-sifat estetis, simbolis, magis, fungsional, dekoratif, illustratif, sampai hal yang bersifat promosi maupun propaganda dan lain sebagainya.

Melalui perannya sebagai wadah penyalur atau ekspresi jiwa maupun berbagai pengalaman estetis manusia, seni dapat dikatakan sebagai illustrasi estetis dari nilai-nilai sebuah pengalaman atau sejumlah pengalaman tertentu. Illustrasi estetis dimaksudkan adalah wujud indrawi yang menggambarkan suatu nilai dan makna, yang menjadi prioritas utama yang biasanya diwujudkan menjadi tema dalam karya seni. Dengan ditulisnya tema dalam setiap karya seni, sekaligus mengantarkan penikmat diajak berapresiasi tentang apa yang menjadi obyek pengalaman estetis, maupun proses kreatif seniman itu sendiri.  

Seni Sebagai Ekspresi Nilai
Seni merupakan pengindraan dari keadaan psikologis akibat persentuhannya dengan suatu obyek yang disebut nilai, tanpa hal itu niscaya dikejar dan hidup sepanjang jaman. Pengindraan sebagai wujud ekspresi yang mampu mengejawantahkan atau meriilkan nilai, sehingga dapat diserap oleh panca indra dalam berbagai kondisi, ruang dan waktu. Rizieri Frondizi menyatakan bahwa nilai merupakan keadaan psikologis melibatkan pengalaman yang menyenangkan, apa yang diinginkan, apa yang menjadi sasaran perhatian kita dan lain sejenisnya. Kenikmatan, keinginan, perhatian merupakan suasana kejiwaan (Rizieri Frondizi, 2001:6). Berpola dari keterlibatan keadaan psikologis dengan obyek, membentuk suasana kejiwaan dengan berbagai motif sebagai realitas subyektif. Reaksi realitas subyektif mampu menerobos ke ruang obyek tanpa batas. Runutan langkah terobosan merupakan pengalaman empiris yang sekaligus memposisikan kualitas  nilai.

Nilai tidaklah memberi atau menambah eksistensi, karena obyek natural ada sepenuhnya sebelum ada sentuhan, misalnya akar kayu tetap sebagai akar kayu sebelum menjadi sasaran keinginan. Apakah akan dijadikan patung, apabila ia seorang seniman patung akan memberi sentuhan pengalaman estetisnya sebagai wujud keadaan psikologis. Kualitas pengalaman estetis yang melibatkan aspek pisik dengan kualitas ketrampilan dengan intesitas yang memadai, maka nilai akan berwujud realitas indrawi yang bisa dinikmati lewat pengelihatan, didengar, diraba dan lain sebagainya.

Kesenian selalu tumbuh dan berkembang sejalan dengan meningkatnya kebutuhan selera keindahan manusia yang berada dalam kondisi ruang, situasi sosial, religiusitas yang berbeda-beda.  Dalam dimensi ruang seperti itu seni hadir mengindrawikan berjuta-juta gagasan menjadi berjuta-juta wujud estetis, simbolik, fungsional, dekoratif, illustrative dan lain sebagainya. Melalui wujud-wujud pengindraannya itulah, seni telah mengajak dan mengantarkan manusia ke alam kesadaran lain yang sering disebut “realita baru”. Kesadaran terhadap realita baru ini membuka ruang ekspresi kreatif yang membawa manusia sadar terhadap kebutuhan jasmani maupun rohani, menjadi mahluk berseni dan berbudaya. Ketika kesadaran berseni dan berbudaya ini menemukan kualitasnya, hal ini menjadikan manusia memilki martabat jasmani dan dapat pula dihargai banyak orang.  Hal ini bisa dibuktikan melalui artefak masa lalu dengan ketinggian nilai estetisnya bisa membangkitkan berbagai emosi, dan pengalaman estetis ketika apresian berupaya memasuki wilayah proses kreatif yang dituangkan senimannya. Ketika menyaksikan Candi Borobudur imaji-imaji kita dibawa ke alam spiritual yang tanpa batas, itulah keberhasilan seniman menyajikan wujud estetika dengan muatan spiritual yang dalam.

Ketika ruang apresiasi memasuki kesadaran proses kreatif menyerap dan memahami nilai yang terkandung di dalamnya, maka proses pengindraan nilai-nilai seperti: simbolik, religius, magis, sosial dan lain-lainnya dapat diketahui. Maksudnya adalah melihat secara detail wujud, motif-motif pengindraannya melalui gaya, corak tertentu yang mewakili dirinya sendiri. Sudah barang tentu di situ seorang apresian sudah berbekal pengalaman tentang keragaman gaya yang pernah dibuat sebelumnya dalam ruang tertentu. Hal ini penting disadari agar apresian tidak terjebak terhadap kedangkalan apresiasi.

Untuk mencapai kedalaman pengetahuan ini sangat dibutuhkan kontemplasi, wawasan sejarah perjalanan seni, dinamika proses kreatif, yang sama dengan seniman. Apabila tidak sama akan mengakibatkan kepincangan apresiasi, yang berakibat karya seni belum bisa dihargai terutama saat-saat kemunculannya. Kepincangan apresiasi sering terjadi, apalagi jaman sekarang masuknya unsur-unsur non seni ke dalam proses kreatif terlalu besar yang terkadang meniadakan bobot estetisnya dan efek yang ditimbulkan. Apa yang dapat kita saksikan dalam sinetron, kemasan nilai-nilai yang bersifat profokatip lebih ditonjolkan, karena sangat terikat akan gaya tarik situasional, materialitis, emosional, dekonstruksi dan lain sebagainya. Kebebasan penciptaan seni yang mengkonstruksikan nilai saat ini seolah-olah lepas tanpa batas, yang berakibat merosotnya karakter bangsa.

Melalui efek yang ditimbulkan itu membuktikan bahwa seni memiliki kekuatan pendorong suatu kebangkitan atau kekuatan mensugesti sifat-sifat tertentu dalam diri manusia, misalnya ketika kita melihat seni lukis Renaisance dan seni lukis klasik Bali tentu sangat berbeda pengaruhnya terhadap kerangka fantasi dan imajinasi kita. Dengan demikian krangka pantasi merupakan sub tema atau pokok soal yang digarap dalam setiap karya seni. Pengisian kerangka fantasi imajinasi ini memerlukan perenungan secara perlahan dan terus menerus.

Namun apabila penciptaan karya seni selalu diupayakan mencapai ketinggian kualitas dengan selalu mempertimbangkan nilai moral dan efek yang ditimbulkan maka martabat seniman, maupun martabat bangsa terbawa dengan sendirinya, oleh karena demikian wujud kesenian adalah merupakan cerminan martabat suatu bangsa. Melalui cerminan itu pula seni dapat diibaratkan bagaikan “air”, ketika orang suci mengisinya dengan doa dan mantra suci akan dapat menyiratkan kesejukan, ketika para dukun mengisinya dengan ramuan obat-obatan akan dapat menyembuhkan penyakit tertentu, ketika para petani menyalurkannya ke sawah akan menyuburkan pertanian dan mampu mensejahtrakan masyarakat. Ketika air dipenuhi limbah racun  industri akan menghancurkan alam lingkungan sekitarnya dan seterusnya. Dalam pengertian seperti itu seni dapat  dikatakan sebagai wadah yang sangat transparan dan setia, dia akan menjadi cantik, indah, menyenangkan dan membahagiakan apabila diisi dengan muatan nilai-nilai kesopanan. Karena perannya itu seni sering terjebak hanyut dalam muatannya sendiri, oleh karena demikian sayangilah seni seperti menyayangi wajah cantik dan tampan yang anda miliki.

Rentang sejarah telah menunjukkan bahwa kalangan istana telah mampu membangun martabat itu demi kewibawaan dan kekuasaannya. Bukti-bukti sejarah menunjukkan bahwa di sekitar keraton berkembang desa-desa yang telah memiliki system pembangian kerja sesuai dengan kemampuan masing-masing wilayah. Bagaimanapun cara untuk mewujudkan kewibawaan dan martabat itu, yang jelas dihadapan kita terbentang beragaman warisan budaya dan seni yang bertebaran di seluruh dunia. Keberadaan itu telah menjadi pencitraan dari kemajuan peradaban suatu bangsa. Selanjutnya menjadi salah satu tanggung jawab sosial dan moral sebagai pencitraan suatu bangsa, salah satu upaya yang telah dilakukan oleh suatu bangsa-bangsa di dunia adalah berupaya mengkaji, melestarikan, dan  mengembangkannya untuk kesejahtraan masyarakat dalam arti luas.    

Wujud tampilannya ada yang tetap berkonsentrasi menggarap wujud ataupun motif-motif  seni budaya temuan sebelumnya yang dapat disebut sebagai “arus konvensional”. Pendukung kesenian ini sangat erat kaitannya dengan kehidupan tradisi nenek moyang, kepercayaan, religiusitas yang berlaku disuatu daerah yang telah banyak dirasakan kebenarannya dan dipercaya ketinggian kualitas nilai estetisnya. Banyak contoh kesenian model ini masih tetap lestari misalnya tari Sang Hyang di Bali dipentaskan untuk memohon turunnya curah hujan untuk kesejahtraan umat manusia, Seni lukis Klasik, pola-pola ornament patung-patung klasik Bali dan lain sebagainya. Walaupun penciptaan bentuk-bentuk kesenian pada arus konvensional ini lebih menekankan nilai spiritualnya dalam wujud konvensioanl, namun pada kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa kesenian seperti ini sangat diminati oleh masyarakat bukan saja local tetapi juga manca Negara. Hal itu berarti bahwa tampilnya wujud kesenian ke muka bumi ini pasti memiliki penikmatnya sendiri-sendiri, minimal bagi komunitasnya   
Arus agresif membuka ruang proses kreatif yang tanpa batas, tetapi proses kreatif itu tetap terbatas, karena sangat  tergantung pada suasana atau momen estetis yang menentukan motif sentuhannya dan juga dukungan materialnya. Suasana dan motif sentuhan itu diindrawikan dalam bahasa ungkap yang dapat menyentuh panca indra dan menggetarkan rasa indah yang ada secara alami dalam diri manusia. Bila dilakukan dengan akal selalu    belum terbaca karena bersifat prapredikatif, tidak akan habis dibahasakan.

Berkenaan dengan hal itu kesenian telah menempati berbagai sisi kehidupan manusia dalam upaya memenuhi kebutuhan nilai estetis, telah berjalan sepanjang jaman. Kesadaran alamiah terhadap nilai estetis amat sulit dipisahkan dengan nilai-nilai lain yang sering disebut pemaknaan yang diakibatkan oleh fungsi yang melekat padanya. Keduanya saling berkaitan erat bagaikan badan dan jiwa, atau sering disebutkan sebagai penyatuan bentuk dan isi. Ketika ditelusuri lebih luas, bahwa bentuk-bentuk perwujudan kesenian dalam dimensi ruang, waktu dan pemaknaan sangatlah beragam. Sejarah telah membuktikan sejak jaman primitif manusia dibelahan dunia manapun telah menciptakan kesenian dalam berbagaimacam bentuk dan variasinya. Bentuk-bentuk kesenian itu sampai saat ini mengalami perubahan yang sangat derastis sesuai perkembangan kemampuan akal, pikir, rasa, imajinasi, intuisi, proses kreatif, dan kemajuan teknologi dan lain-lain yang mengitarinya.  Oleh karena demikian kesenian dapat diartikan sebagai ekspresi kehidupan lewat wujud-wujud indrawi yang mengandung nilai-nilai estetis dalam lingkup budaya dan spiritualitasnya. Spiritualitas membawa pencitraan seni pada posisi penghalusan bersatu dengan ketinggian moralitas, menjadi moral estetis yaitu ”satyam sundaram menuju siwam”. ”Menyadari keberadaan-Nya, dan berupaya menjelajah menemuiNya adalah kewajiban, sampai atau belum sampai adalah kemampuan, itulah perjalanan hidup”, semogalah........................................


Daftar Pustaka

Dharsono Sony Kartika., 2007, Estetika, Rekayasa Sain, Bandung

Capra, Fritjof., 2002, Titik Balik Peradaban, terjemahan M. Thoyobi,    Bentang Budaya, Yogyakarta
Pendit, Nyoman S., Filsafat Hindu Dharma, Sad-Darsana, Enam Aliran Astika (ortodoks), Pustaka Bali Post, Denpasar
Prime, Ranchore., 2006, Tri Hita Karana, Ekologi, Ajaran Hindu, Benih
                                benih Kebenaran, Terjemahan, Wiryawan, Paramita, Surabaya     
Sutrisno, Mudji., 2005, Teks-Teks Kunci Estetika, Filsafat Seni, Galangpress, Yogyakarta.
Sugiono, Muhadi., Kritik Antonio Gramci, Terhadap Pembangunan Dunia Ketiga, Pustaka Pelajar, Yogyakarta.
Simatupang, Maurits., 2002. Budaya Indonesia yang Supra Etnis, Papas Sinar Sinanti, Jakarta.
Titib, I Made., 1994, Ketuhanan Dalam Weda, PT. Pustaka Manik Geni, Denpasar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar