Ketika kita mulai bertanya
dan ingin mengetahui apa yang tidak atau belum kita ketahui tentang kehidupan
ini dan apa yang patut dilakukan, untuk menemukan jawabannya adalah jalan
menuju kewajiban. Untuk menemukan jawaban itu kita harus berusaha melakukan
perjalanan ke dalam diri inilah yang disebut sadana (Ranvir Singh, 2005: 106).
Sadana dalam hal ini dapat diartikan “prilaku” yang melibatkan segenap unsur;
pikiran, panca indra, jiwa, perasaan, imajinasi, tenaga, badan, sarana dan
prasarana dan lain sebagainya. Hal itu bisa berjalan bila disinari oleh cahaya
Illahi yang menyebabkan prilaku bisa
bergerak menelusuri ruang yang tanpa batas (viratvidya). Memperoleh cahaya Illahi adalah suatu
kemujuran, karena bisa diperoleh bila “diberkati” akibat sadana suci yang telah
dilakukan dengan penuh tulus ikhlas atau juga terjadi dengan sendirinya. Bila
itu terjadi dengan sendirinya, itulah kebesaran-Nya yang barangkali diakibatkan
karma baik masa lalu yang berbuah dalam kehidupan ini. Banyak orang mengalami
kehadiran sinar itu, namun tidak disadari oleh alam pikirnya yang mengakibatkan
keragu-raguan dan selalu bertanya-tanya tengtang “apa itu” dan kenapa itu
terjadi dalam dirinya. Pertanyaan-pertanyaan ini mengakibatkan terjadi getar
rasa dan gerak hati, jiwa dan pikiran mendorong langkah kaki untuk menelusuri
kebenaran “apa itu”.
Menelusuri kebenaran “apa itu” adalah
jalan yang membuka pintu kesadaran sebagai awal melakukan kewajiban dalam
bentuk sadana yang paling bermakna dalam kehidupan. Agar mencapai sadana yang
bermakna patut dilatih secara terus menerus
agar segenap unsur jiwa bersatu padu pelaksanaan yang tulus ikhlas.
Latihan ketulusan merupakan pergulatan antara segenap unsur jiwa, prilaku,
ruang dan suasana yang sering mengungkung manusia, disertai perputaran Sang Waktu
yang mengakibatkan berbagai situasi dan demensi, yang terkadang amat jelas,
samar-samar bahkan kabur sama sekali. Setiap orang sadar atau tidak sadar pasti
mengalami kondisi seperti itu, namun wujudnya berbeda-beda bagi setiap orang
tergantung kualitas karma yang melatarinya. Ketika orang ingin melewati kondisi
seperti itu tiada lain jawabannya adalah tindakan yang penuh keberanian atas
dasar kewajiban (Satyam).
Rasa takut yang mengekang pikiran
patut ditemukan cara untuk menembusnya, disitulah pertarungan antara “rasa
takut” dengan “keyakinan” bergulat-gulat dalam diri. Dalam kondisi seperti itu
pengetahuan teori lenyap tanpa wujud, yang ada hanyalah gejolak dan upaya untuk
memenangkan kebenaran dan keyakinan terhadap kebesaran-Nya. Kebenaran yang
dilatari atas keyakinan atas kebesaran dan kemahakuasaan-Nya adalah jawaban
kunci yang melindungi, menuntun agar kita bisa melihat arah dan wujud sadana
yang patut dilakukan. Ketika kita mampu menundukkan rasa takut atas kebenaran
dan keyakinan kepada kebesaran-Nya, maka akan tumbuh keberanian yang disebut
“keberanian yang berpengetahuan”. Kebenaran yang berpengetahuan inilah yang
mampu mengantarkan dan menyelamatkan manusia untuk mencapai sesuatu yang lebih
berakna dan bermartabat. Dengan demikian bila orang telah mencapai kondisi jiwa
seperti itu berarti orang itu telah mampu melewati “lapisan maya” yang mesti
dilewati oleh perjalanan kewajiban itu sendiri. Demikian pula sebaliknya bila
kondisi itu belum terlewati, orang harus berjuang lebih giat, dengan keyakinan
yang lebih tinggi atas tuntunan-Nya. Realitas yang terjadi pada gelombang ini
wujudnya pada setiap orang adalah
perjalanan hidup tertimpa masalah yang dating bertubi-tubi, yang tidak
mampu dikenali ujung dan pangkalnya serta cara untuk menyelesaikan, sehingga
sering berujung pada kebingungan dan kegelisahan. Realitas ini menandakan bahwa
jiwa dan pikiran belum mampu meraih sinar cemerlang dari Yang Maha Kuasa, untuk
itu lakukanlah kewajiban.
Dengan demikian mengenal dan melaksanakan
kewajiban adalah upaya mewujudkan sifat tulus ikhlas yang berlapis-lapis untuk
mencapai kemurnian diri yang sejati. Ketika itu sebesar apapun masalah yang ada
“pasti disinari oleh kecemerlangannya, dan selalu diberikan jawaban untuk
menyelesaikan”. Masalah yang sering dianggap besar oleh manusia sesunguhnya itu
adalah keterbatasan pikiran dan tenaga yang sering menjadi dan memberi pertimbangan
dengan hitungan logika. Namun dibalik itu semua tidak disadari ada kekuatan
dahsyat yang sering diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada manusia, lewat
imajinasi, intuisi, inspirasi yang membuatnya “sering tersentak”, akibatnya
muncul ucapan sontak pula, wah..wah…wah… kok bisa yaa dan seterusnya. Ketika
itu terjadi pada setiap orang yang mengerjakan pekerjaan besar untuk
kesejahtraan umat manusia, itulah wujud kehadiran-Nya.
Sebaliknya ketika pekerjaan besar
yang dianggarkan oleh negara dengan dalih mensejahtrakan masyarakat, tetapi
sesungguhnya hanyalah untuk kenikmatan partai, pekerjaan ini luput dari anugrah-Nya yang berakibat gagalnya pekerjaan
itu dan pemimpin proyeknya terjebak masuk penjara. Itu juga merupakan wujud
kehadiran-Nya dalam Maha Kala. Dengan demikian sekecil apapun pekerjaan yang
kita kerjakan, sepatutnya mohon tuntunan kepada Sang Maha Karya agar pekerjaan
itu berhasil dan memberikan kenikmatan bagi semua orang, itulah jiwa dari
pekerjaan itu sendiri dalam karya seni disebut “Taksu”
Mencapai kewajiban dan berkat
lidungan Sang Maha Karya bukanlah persoalan mudah, karena wajib melalui proses pendidikan
dan pelatihan yang benar, teratur,dan
tertuntun melalui garis-garis gurupadeca atau garis-garis ajaran-Nya.
Pendidikan dan pelatihan dapat bermakna bila dilakukan atas dasar pengetahuan
kebenaran, pengetahuan kebijaksanaan, pengetahuan suci yang dituntun oleh seorang
guru suci yang telah diberkati “wawenang” untuk mengajarkannya. Melalui
garis-garis gurupadesa para guru spiritual mendidik para bhaktanya dengan penuh
desiplin, agar terwujud orang-orang yang bermental spiritual yang kuat dan
suci. Ketika orang-orang telah terdidik dan bermental spiritual seperti itu,
masyarakat dan dunia ini akan menemukan kesejahtraan dan kedamaian. Oleh karena
itu pendidikan bukan semata diarahkan mengejar pengatahuan yang bersifat
material dan terukur saja, namun yang lebih penting adalah pengetahuan
spiritual yang mampu membangun karakter manusia seutuhnya. Ketika karekter
spiritual dan suci ini terabaikan, maka manusia akan kehilangan rasa malu dan
rasa takut, tinggalah jiwa-jiwa beringas yang setiap hari hanya protes, ngamuk,
bertengkar, mabuk, judi, menipu, manupulasi dan seterusnya seperti sebagian
besar watak manusia seperti sekarang ini.
Kenyataan ini merupakan kehancuran
nilai-nilai kemanusiaan yang berakibat terhadap merosotnya peradaban umat
manusia. Oleh karena itu perlu dibangun bersama-sama melalui kesadaran
spiritual yang kuat dan suci. Tanpa keyakinan dan perjuangan yang tangguh dan
tertuntun, sulit juga untuk menemukan arah yang jelas dan suci. Sifa-sifat
kesucian itu amat halus dalam diri setiap orang, ia berwujud kasih sayang, kebersamaan,
keyakinan diri yang kuat, rasa toleransi, bijaksana, peduli social, peduli
lingkungan alam, dan lain-lainnya. Sifat-sifat
suci ini wajib dikumandangkan agar lebih dikenal manfaat dan maknanya serta
memiliki kesadaran untuk memelihara dan mengembangkan bagi setiap orang.
Langkah-langkah dan cara-cara pengendalian diri dengan desiplin brata yang
tertuntun wajib dilaksanakan, agar sifat suci itu tumbuh dan berkembang subur menjadi
sifat-sifat yang mendamaikan dan membahagiakan.
Ketika umat manusia penyangga bumi
ini sadar dan ingin mencapai kedamaian dan kebahagiaan sudah saatnya pendidikan
formal diberikan muatan kurikulum yang seimbang antara pemenuhan kebutuhan
material dan spiritual secara seimbang. Bukan sengaja dan tercencana secara politis
berupaya menghilangkan pilar-pilar
pembentuk karakter yang lahir dari budaya ibunya sendiri. Ketika penjajahan
ideologi itu dibiarkan berarti pengingkaran terhadap prinsi-prisip kebhinekaan
yang berakibat amburadulnya sistem ideologi kenegaraan kita. Pendidikan formal
sekarang sudah selayaknya kembali menegakkan prinsip-prinsip kebhinekaan, agar
kepercayaan diri masing-masing suku mampu memperkokoh jati diri bangsa. Ketika
kurikulum yang ada lebih menitik beratkan kurikulum pendidikan yang berbasis
budaya Barat, tentu sangat dibutuhkan menyerapan nilai-nilai yang sesuai dengan
budaya Indonesia yang multikultur ini. Realitas yang terjadi belum sepenuhnya
menyiapkan korikulum yang mendorong ke arah itu, sehingga hasil-hasil
pembangunan yang sudah demikian majunya tidak bisa dinikmati bahkan dihancurkan
oleh kebringasan watak manusia sebagian besar penduduk bumi ini.
Ketika watak bringas seperti ini
dibiarkan menguasai diri, masyarakat dan negara akan berakibat buruk pula
terhadap alam lingkungan yang semestinya dipelihara bersama-sama. Orang-orang
seperti itu patut dikasihi, karena ia tidak menganal hakekat dirinya yang
sejati, demikian pula apa yang menjadi kewajibannya, itulah “penderitaan yang
sesungguhnya”. Penderitaan itu diakibatkan oleh kemiskinan nilai-nilai
spiritual, yang sengaja membiarkan dirinya atau memang tidak pernah mau
mengenal nilai-nilai atau belum menemukan jalan untuk menemukan. Orang yang
belum menemukan itu memiliki harapan untuk mencapai, namun orang yang sengaja
membiarkan atau tidak mau tahu adalah orang-orang yang ditakuti oleh “pengetahuan
suci”, oleh karena itu hidupnya penuh kegelapan. Ciri-ciri hidupnya tidak tentu arah, ugal-ugalan,
mabuk-mabukan, nafsu dan kesenangan material sebagai pujaannya, kata-katanya
sering menghina bahkan amat menghina orang-orang yang sedang memuja Tuhan, pendapatnya
mau menang sendiri, ramah-ramah ketika memerlukan bantuan orang lain dan lupa
setelah berhasil, dan sejenisnya betapa mengerikan gaya hidup seperti itu. Orang-orang
seperti inilah orang yang “paling bermasalah” dalam rumah tangga, lingkungan
masyarakat yang sering merepotkan pimpinan, dan juga anggota masyarakat
lainnya.
Kondisi permasalahan ini tidak
mungkin dihindari dan pasti terjadi dimana-mana, karena kondisi itu adalah
hakekat ciptaan-Nya yang seimbang. Namun untuk mencapai keseimbangan yang
harmonis perlu upaya bijak para pemimpin dan bekerjasama dengan para suci
melakukan pembinaan rutin dengan penuh kasih sayang, agar persoalannya dapat
dikendalikan dan diarahkan menjadi hal-hal yang bermanfaat bagi hidup dan
keluarganya. Oleh karena itu jauhkanlah sifat-sifat seperti itu agar tidak
ditakuti pengetahuan suci dan guru suci penuntunnya, maka kenalilah diri yang
sejati.
Mengenal diri yang sejati dapat
dilakukan dengan cara membangun kesadaran terhadap kebesaran Sang Pencipta
dengan segala ciptaan-Nya, Alam semesta yang memberi kehidupan, hubungan antara
manusia dengan manusia beserta semua ciptaan-Nya yang menumbuhkan kesadaran
perbedaan dalam kebersamaan, toleransi, peduli, dan tangguh. Kesadaran seperti
ini adalah wujud tumbuhnya kewajiban yang mesti diperjuangkan oleh setiap insan
penghuni bumi ini. Ketika itu terjadi dan patut dijadikan, maka orang sudah mengenal
kewajiban hidupnya. Dasar-dasar kewajiban ini patut selalu dibangun dan
dibiasakan pelaksanaanya, maka ia akan menjadi semakin berkembang di dalam
diri. Ketika itu enerji suci dan pengetahuan suci telah hidup bersama,
membentuk kesucian diri.
Agar kesucian jiwa itu dapat tumbuh
dan selalu berkembang di dalam diri, sudah merupakan kewajiban untuk memelihara
dengan brata dan sadana yang penuh desiplin dan tertuntun. Tuntunan proses
membentuk jiwa-jiwa yang widya stana,
artinya mengenal tuntunan yang datang dari dalam diri (kesadaran atman).
Tuntunan yang datang dari dalam diri adalah perwujudan guru sejati yang
membebaskan kegelapan, yang mengakibatkan jiwa terang benerang. Hadirnya jiwa
yang terang benerang seperti itu, menggerakkan seluruh panca indra, pikiran dan
seluruh tenaga untuk melaksanakan kewajiban secara tulus ikhlas sesuai dengan
kompetensinya. Kompetensi merupakan batasan kemampuan dan keunggulan yang
dianugrahi oleh Yang Maha Kuasa, oleh karena itu kesadaran untuk memahami hal
ini patut diupayakan sebaik-baiknya agar manusia tidak tolah toleh yang
berakibat membingungkan dirinya. Tolah-toleh diartikan agar supaya tidak
ikut-ikutan terhadap kesuksesan orang lain, misalnya ketika orang lain sukses
jadi pengusaha dan kita mengikuti belum tentu sukses seperti dia. Oleh karena
itu kesuksesan bisa diperoleh dalam upaya memantap potensi diri, yang selalu
berbeda dengan orang lain, termasuk rejeki yang mengalirinya. Orang-orang
seperti ini adalah orang yang telah mengenal dharmanya, dan selalu mengabdi
demi kesejahtraan umat manusia. Orang-orang seperti inilah yang selalu
didambakan umat manusia yang berada dalam kuasa jaman Kali Yoga ini. Barang
siapa yang telah menempatkan dirinya sebagai pengabdi kesejahtraan dan
kedamaian umat manusia sekecil apapun wujudnya, dia akan mengenal
kehadiran-Nya, semogalah semakin banyak orang-orang yang belajar mengenal
kewajibannya.
Oleh karena itu; “wahai umat manusia di seluruh
dunia, mari bersama-sama menghapuskan kebencian yang menghasilkan malapetaka,
bangun rasa toleransi karena kita berasal dari sumber yang sama, menghirup
udara yang sama, makan dari sumber yang sama, dan bentuk tubuh yang sama.
Perbedaan warna kulit, rambut, mata, hidung adalah keindahan yang mengagumkan, menyejukkan
jiwa yang membangun rasa kasih. Rasa kasih membangun budaya toleransi adalah
repleksi kebenaran dan keindahan”.
Guru Sri Hasta Dhala
Tidak ada komentar:
Posting Komentar